Peringatan 12 Tahun Eksekusi Saddam Husain, Putrinya Ungkap Hal Mengejutkan


SURATKABAR.ID – 30 Desember 2006 silam, Presiden Irak yang menjabat saat itu, Saddam Husain, meninggal di tiang gantungan karena dijatuhi hukuman eksekusi mati.

Kini, setelah 12 tahun berlalu, putri Saddam Husain, Raghad Saddam Husain memublikasikan rekaman testimoninya terkait peringatan kematian sang ayah.

Dilaporkan Aljazeera, Raghad mengunggah sebuah rekaman pada Sabtu (22/12/2018). Dalam rekaman itu, ia mengajak masyarakat Irak inti mengesampingkan ego pribadi dan sektoral demi kepentingan Irak yang kesulitan sejak Agresi Amerika pada 2003.

“Wahai warga Irak yang tercinta, agar visi kita menuju Irak yang lebih aman dan stabil dibandingkan sekarang,” kata Raghad, dikutip dari republika.co.id, Senin (24/12/2018).

Baca juga: Ditanya Ingin Jadi Gatotkaca Atau Kurawa, Prabowo: Kurawa Suka Curang dan Bohong

Raghad juga mengingatkan soal kepemimpinan sang ayah. Menurutnya Saddam merupakan penjaga gerbang timur yang merupakan benteng bagi Iran untuk memperluas cengkramannya di kasawan Arab.

Ia menyebut, di bawah kepemimpinan sang ayah, tak satu pun berani menganggu dominasi dan kemuliaan Irak. Ia pun membandingkan dengan kondisi setelah Agresi Amerika Serikat, dimana nilai kemanusiaan dan etika sirna, ide-ide Barat pun meluas, disusul dengan eksploitasi agama untuk memaksakan gagasan dari partai-partai yang busuk.

Raghad juga menegaskan, sejak Saddam lengser dan terjadi Agresi Amerika Serikat, beragam krisis terjadi di Irak, mulai dari pengusiran, pembunuhan, dan perlakuan rasial.

“Belum lagi, teroris radikal yang memberangus sejarah negara dan peradabannya,” tegasnya.

Pada 2003 lalu, Saddam Husain ditangkap oleh pasukan Amerika Serikat. Operasi penangkapannya disebut dengan Red Dawn alias Fajar Merah.

Pasukan tersebut sempat menghujani sejumlah tempat yang diduga persembunyian Saddam, hingga akhirnya mereka berhasil memasuki Baghdad. Saat itu, Saddam ditemukan di sebuah lubang di peternakan di Tikrit.

Saat ditemukan, Saddam dalam kondisi berantakan. Ia kemudian diadili dan dinyatakan bersalah telah melakukan kejahatan kemanusiaan terkait pembantaian 146 warga Siah di Dujail pada 1982.

Setelah dinyatakan bersalah, ia dijatuhi hukuman gantung pada 2006. Hukuman tersebut disaksikan oleh masyarakat. Bahkan, video eksekusi terhadap Saddam masih banyak beredar di internet.