Kereta Cepat Jakarta-Bandung Akan Digarap Ribuan Pekerja China


SURATKABAR.ID – Tahap pembangunan kontruksi untuk proyek kereta cepat Jakarta-Bandung akan dibuat masif mulai 2019 mendatang. Dipastikan, ribuan tenaga kerja dari China akan ikut mengerjakan proyek tersebut. Sebenarnya, secara keseluruhan, masa konstruksi proyek ini sudah dimulai sejak pertengahan tahun ini. Hanya saja, pada tahap awal sejauh ini progres pengerjaan konstruksi baru mencapai 4,6 %. Adapun targetnya, pencapaian harus meraih 6% pada penutupan 2018 ini.

Dilansir dari laporan CNBCIndonesia.com, Sabtu (22/12/2018), rencananya, pelaksanaan konstruksi berlangsung hingga 2021 mendatang. Menurut data yang didapat dari PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), dalam rentang tiga tahun ini, setidaknya dibutuhkan 39 ribu tenaga kerja.

Sebagaimana disebutkan oleh Chandra Dwiputra, Direktur Utama PT KCIC, pada 2019 nanti kebutuhan tenaga kerja akan mencapai 33 ribu. Dari jumlah itu, 20% di antaranya merupakan tenaga kerja asing (TKA). Mayoritas dari mereka berasal dari Negeri Tirai Bambu.

“Perbandingan jumlah antara TKA dengan pekerja lokal itu kita batasi 1:4. Jadi maksimal 20% yang dari TKA,” tutur Chandra Dwiputra saat ditemui di Hotel Westin, Jakarta, Kamis (20/12/2018).

Berdasarkan persentase itu, maka TKA yang akan mengerjakan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung adalah sekitar 6.600 orang.

Baca juga: Mangkrak karena Pembebasan Lahan, Dana Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung juga Membengkak

Banyaknya tenaga kerja, termasuk pekerja China yang terlibat, ditambah dengan pelaksanaan proyek selama 36 bulan, merupakan tantangan tersendiri. Chandra mengungkapkan, industri konstruksi ialah sektor industri yang mempunyai tingkat risiko tinggi baik dari segi risiko usaha maupun risiko keselamatan kerja dan kesehatan.

Menurut Chandra, tingginya tingkat risiko tersebut secara tak langsung akan berpengaruh terhadap keseluruhan tingkat keberhasilan pekerjaan konstruksi. Kegagalan penerapan sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berpotensi menimbulkan berbagai dampak negatif.

Itulah sebabnya, dalam kesempatan ini pihaknya meneken komitmen terhadap Keselamatan, Kesehatan Kerja, Keamanan, dan Lindung Lingkungan (K4LL/SSHE).

Penandatanganan ini melibatkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian Perhubungan serta EPC Contractor Proyek ini di antaranya HSRCC, CDJO, CREC, WIKA, Sinohydro, dan CRDC.

“Kita harus concern terhadap masalah safety dan kualitas. Safety tidak bisa hanya bottom up, tapi harus top down. Maka kita harus menandatangani komitmen. Semua pihak yang terlibat harus berkomitmen mencapai 36 bulan ini dengan selamat,” tutupnya.

BPN Prabowo-Sandiaga Kaget

Sementara itu, pelaksanaan konstruksi yang akan berlangsung hingga 2021 ini membuat kaget Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

“Sangat mengagetkan membaca berita pernyataan Dirut PT Kereta Api Cepat Indonesia China (KCIC) bahwa akan ada ribuan atau 6.600 tenaga kerja asing yang akan mengerjakan proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung. Mengagetkan. Menyedihkan sekali nasib pekerja lokal mendengar pernyataan Dirut ini. Pertanyaannya, kenapa harus ribuan TKA China ini kita terima?” beber juru bicara BPN Prabowo-Sandiaga, Andre Rosiade, kepada tim pers, Jumat (21/12/2018), menukil Detik.com hari ini.

Ditegaskan Andre, Indonesia punya tenaga kerja yang andal. Menurutnya, BUMN konstruksi Indonesia sudah banyak mengerjakan proyek bernilai triliunan Rupiah, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

“Ini menunjukkan bangsa kita mempunyai tenaga kerja yang mumpuni dan ahli dan ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak membutuhkan ribuan TKA China untuk mengerjakan proyek konstruksi kereta api cepat ini atau memang dari awal ada perjanjian rezim Pak Jokowi ini dengan pihak China bahwa akan memberikan kesempatan ribuan TKA China masuk untuk bekerja di proyek ini,” imbuh Andre.

Andre meminta penjelasan utuh berkenaan pernyataan Dirut PT KCIC.

“Kalau ini terjadi, ini menunjukkan bahwa rezim ini memang pro-TKA China dan meminggirkan kesempatan pekerja lokal. Untuk MRT saja yang risiko pekerjaannya lebih sulit. Tidak ada tuh ribuan TKA dari Jepang yang harus bekerja dalam proyek MRT yang dikerjakan di Jakarta. Pemerintah harus menjawab pertanyaan ini. Apakah memang dari awal pemerintah sudah membuat kesepakatan agar ribuan TKA China masuk dalam proyek ini?” ucap Andre.

Kembali ke keterangan Chandra Dwiputra, ia menyebutkan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung masih akan digarap oleh mayoritas pekerja lokal. Perbandingannya, tutur Chandra, 1 banding 4.

Banyaknya tenaga kerja, termasuk pekerja China yang terlibat, ditambah dengan pelaksanaan proyek selama 36 bulan, merupakan tantangan. Chandra menyebut industri konstruksi merupakan sektor industri yang mempunyai tingkat risiko tinggi baik dari segi risiko usaha maupun risiko keselamatan kerja dan kesehatan.

Menurutnya, secara tidak langsung tingginya tingkat risiko ini akan berpengaruh terhadap keseluruhan tingkat keberhasilan pekerjaan konstruksi. Kegagalan penerapan sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berpotensi menimbulkan berbagai dampak negatif. Jadi berdasarkan persentase yang ada, TKA yang akan mengerjakan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung lebih kurang berjumlah 6.600 orang.