Xinjiang—Tempat Tinggal Muslim Uighur yang Kaya Minyak& Gas Bumi


SURATKABAR.ID – Jika orang membayangkan Xinjiang hanyalah kawasan kecil di tepi gurun pasir Asia Tengah, itu asumsi yang keliru. Xinjiang adalah sebuah kawasan besar, luasnya setara dengan tiga pulau Sumatera, atau sama dengan Pakistan dan Afghanistan digabung jadi satu. Sejak dulu, Xinjiang merupakan wilayah penting di China yang diperebutkan.

Saat ini, Xinjiang masih tak kunjung tenang. Wilayah otonomi Uighur di barat laut China ini, selalu saja mengabarkan nestapa umat Muslim. Umat Islam etnis Uighur di sana diinjak-injak hak asasinya oleh pemerintah Komunis China. Dua kali kawasan ini coba dimerdekakan. Sudah dua kali juga republik Islam berdiri di sana. Namun malang, negara baru itu selalu berhasil dibubarkan, demikian melansir Republika.co.id, Sabtu (22/12/2018).

Dulunya, wilayah Xinjiang merupakan urat nadi perdagangan dunia. Hal ini dikarenakan posisinya yang berada di Jalur Sutra. Kini, Xinjiang merupakan wilayah yang kaya sumber daya alam. Ungkapan ‘di mana ada adzan di situ ada minyak’, juga terbukti di sana.

Cadangan minyak dan gas terbesar Republik Rakyat China (RRC) ada di sini, terutama di Xinjiang bagian selatan (Tarim Basin). Tarim Basim ini rupanya merupakan tempat Muslim Uighur sejak dulu tinggal menetap di bawah sistem pemerintahan tradisional. Ada pun sistem tersebut dinamakan Khanate atau Khaganate.

Dengan luas 1,6 juta kilometer persegi, Xinjiang setara dengan 17 persen wilayah China. Xinjiang juga merupakan wilayah otonomi terbesar di China. Namun, hanya lima persen (80 ribu kilometer persegi) saja dari wilayahnya yang bisa ditinggali. Walau begitu, wilayah yang hanya lima persen ini sangat besar—ia setara dengan 100 kali luas daratan Jakarta.

Baca juga: Netizen RI Kecam Konflik Etnis Uighur, #UsirDubesChina Menggema

Sebagian besar wilayah Xinjiang merupakan gurun pasir, padang rumput, danau, hutan, dan perbukitan. Xinjiang berada di kaki Gunung Tianshan yang membelah Asia Tengah. Xinjiang berbatasan dengan delapan negara, yakni Mongolia, Rusia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Afghanistan, Pakistan, dan India.

Xinjiang sendiri tidak termasuk kawasan yang dikelilingi oleh Tembok Besar yang dibangun dinasti demi dinasti di China selama dua ribu tahun. Itulah sebabnya orang-orang Uighur menjadikan fakta ini sebagai argument, bahwa tanah mereka bukanlah bagian dari China. Apalagi jika mengingat bahwa mereka pun bukan orang China. Uighur adalah Turk.

Ya, mereka mendefinisikan diri mereka sebagai orang Turkistan Timur. Dalam sejarahnya, kawasan Xinjiang pernah diperintah berbagai kerajaan. Mulai dari Tocharians, Yuezhi, Kekaisaran Xiongnu, negara Xianbei, Kekaisaran Kushan, Khagan Rouran, Kekaisaran Han, Liang, Qin, Liang Barat, Dinasti Tang, Kekaisaran Tibet, Khagan Uyghur, Khan Kara, Khitan, Kekaisaran Mongol, Dinasti Yuan, Khan Chagatai, Moghulistan, Qaradel, Yuan Selatan, Khan Yarkent, Dinasti Qing, Republik China, dan terakhir Republik Rakyat China (RRC).

Diketahui, Dinasti Qing masuk ke Xinjiang setelah Muslim Uighur dan khan-khan Muslim lain di Asia Tengah, meminta bantuan untuk menghadapi orang-orang Dzungar-Mongol, yang selalu mengganggu. Setelah orang-orang Mongol Buddha ditumpas, Dinasti Qing mendatangkan orang-orang Han dan Hui untuk menempati kawasan utara (Dzugar Basin).

Akan tetapi, mereka tidak diperbolehkan memperdagangkan babi dan minuman keras ke kawasan selatan yang dihuni Muslim. Kawasan Tarim Basin, disebut juga sebagai Huiland, atau Tanah Hui, yang terjemahan bebasnya adalah Tanah Muslim.

Xinjiang Tidak Termasuk yang Dikelilingi oleh Tembok Besar China

Sebagai catatan, Hui awalnya bukan nama etnik. Dulu istilah Hui disematkan kepada penganut Islam, Kristen, bahkan Yahudi. Tapi, lama kelamaan istilah ini menyempit untuk menyebut Muslim.

Sebagai contoh, Jenghis Khan, kerap menyebut Muslim dengan istilah “Hui-hui.” Belakangan, istilah Hui menyempit lagi, khusus untuk orang China Muslim berkulit kuning.

Sebenarnya secara etnis, orang Hui dan Han saat ini tidak ada bedanya. Pada pertengahan abad ke-19, Dinasti Qing melemah akibat perang dan pemberontakan.

Mulai Perang Candu dengan Inggris, pada 1839 hingga 1860, pemberontakan Taiping atau perang sipil di selatan China (1850-1864), dan pemberontakan Muslim.

Hui dan Uyghur di Xinjiang pada 1864, yang terimbas pemberontakan Cina Muslim di Gansu dan Shaanxi, dua provinsi di sebelah timur Xinjiang.

Pada 1864, orang-orang Han dan Hui terlibat bentrok parah yang dikenal dengan Revolusi Dungan atau Revolusi Hui Muslim. Awalnya, revolusi ini bertujuan memberi pelajaran kepada pemerintahan pemerintahan korup dan para pejabat penindas rakyat. Itulah sebabnya tak terdengar istilah jihad atau pendirian negara Islam.

Namun kemudian orang-orang Han (Prajurit Taiping) mendatangi kawasan Muslim seperti Shaanxi. Hal ini dilakukan atas dukungan Dinasti Qing dan membentuk milisi Yong Ying.

Orang-orang Hui lantas menanggapi dengan membentuk milisi. Kekacauan saat itu berlanjut saat Khan Kokand dari kawasan yang kini Kyrgistan, bersama pasukan Turko-Muslim-nya memasuki Xinjiang dari Kasghar.

Yang ironis, pasukan yang dipimpin Yaqub Beg ini menjalin aliansi dengan milisi Han, dan mengepung pasukan Muslim di Urumqi. Yaqub memerintah di sana enam tahun.

Rusia pun ikut ambil bagian, dan pada 1871 mereka mengepung kawasan Lembah Ili yang kaya, termasuk Gulja, di utara Xinjiang. Belasan tahun kemudian barulah Dinasti Qing siuman. Mereka mengirim pasukan untuk menumbangkan Ya qub Beg, dan mengambil Gulja dari Rusia.

Yang terjadi berikutnya, Diansti Qing menggabungkan kawasan utara Tianshan (Dzungar Basin) dengan kawasan selatan (Tarim Basin) yang didiami Muslim. Hingga pada 1884 menamainya sebagai Xinjiang, yang berarti “batas baru”. Xinjiang pun menjadi sebuah provinsi.

Tapi, karena orang-orang Han  dan Hui di Xinjiang utara hampir punah gara-gara perang sipil, orang-orang Uighur di selatan pun akhirnya menyebar ke utara. Maka, jadilah seantero Xinjiang didiami mayoritas Muslim Uighur. Selain menjadi rumah orang Uyghur, Xinjiang juga ditinggali orang Kazakh, Tajik, Kyrgyz, Hui, Han, bahkan Mongol.