Persekusi! Jelang Natal 2018, China Tutup Gereja dan Tangkap Umat Kristen


SURATKABAR.ID – Persekusi terhadap umat Kristen menjelang Natal 2018 semakin jelas terjadi di China. Otoritas setempat melakukan persekusi terhadap umat Nasrani di sana dan hal ini tak pelak tersorot masyarakat internasional.

Mengutip reportase Tempo.co, Sabtu (22/12/2018), tindakan persekusi meliputi penangkapan dan penahanan pendeta terkemuka di Negeri Tirai Bambu bersama 100 umat Kristen pada Minggu (09/12/2018). Pemerintah China bahkan menutup gereja, menyita Alkitab, hingga melarang umat berkumpul.

Pemerintah Komunis China menggerebek dan menutup Gereja Early Rain Covenant Church di Chengdu dan Gereja Rongguili di Guangzhou. Pendeta terkemuka gereja Early Rain Covenant, Wang Yi dan istrinya, Jiang Rong ditangkap pekan lalu dan kini telah bebas.

Dilaporkan dalam CNN, beberapa pendeta yang ditahan mengalami tindakan kekerasan termasuk penganiayaan dan pelecehan. Dua gereja ini sangat terkenal di China dan tidak terdaftar.

Gereja Rongguili juga merupakan salah satu gereja bawah tanah untuk umat Kristen di Guangzhou.

Baca juga: Ikut Aksi 2112 Bela Uighur, Neno Warisman Tegaskan Tak Ada Tujuan Politik

Melansir laporan Christianity Today International.Com, pada Senin (17/12/2018), sebanyak 60 polisi dan petugas urusan agama melakukan penggerebekan di gereja Rongguili yang tengah melangsungkan ibadah minggu lalu.

Aparat setempat memerintahkan penutupan gereja, menyita berbagai materi, serta mengambil telepon seluler umat yang beribadah. Sebanyak lebih dari 4 ribu buku juga ikut disita.

Aparat juga memasuki ruang anak-anak untuk belajar Alkitab yang berada di lantai atas.

“Mereka membacakan pemberitahuan penegak hukum bahwa perkumpulan ini ilegal, penerbitan buku ilegal, pengumpulan dana ilegal, dan semua Alkitab disita,” ujar seorang anggota gereja Rongguili, menukil South China Morning Post, terbitan Senin (17/12/2018).

Gereja Rongguili dituduh melanggar Undang-undang Urusan Keagamaan.

Pemberitahuan ini lantas disebarkan ke media sosial agar umat Kristiani mengikuti ibadah di 15 gereja Protestan yang terdaftar di Guangzhou dan di bawah pengawasan pemerintah China.

Identitas setiap umat termasuk anak-anak yang terkena razia pun dicatat. Telepon seluler mereka diperintahkan untuk tidak diaktifkan dan diserahkan kepada aparat. Sebelum meninggalkan lokasi, aparat keamanan memperingatkan agar mereka tak kembali beribadah ke gereja itu.

Menurut Human Rights Watch, di masa Xi Jinping sebagai pemimpin China, pengawasan terhadap umat Kristen semakin ketat dengan tujuan gereja dan penganut agama lain mendukung pemerintah dan Partai Komunis China. Persekusi terhadap umat beragama di China pun kini menjadi perhatian masyarakat internasional.

Larang Keras Dekorasi Natal Dijual dan Dipajang

Selain itu, China semakin keras menentang kebebasan beragama di antaranya dengan melarang dekorasi Natal muncul di ruang publik. Toko-toko dilarang memajang dan menjual dekorasi Natal.

Pemerintah setempat memberlakukan hukuman kepada siapa saja yang melanggar aturan ini. Tindakan keras melarang festival atau memajang dan menjual dekorasi Natal dirasakan warga Kota Langfang di provinsi Hebei.

Menurut otoritas Langfang, siapapun yang menjual pohon Natal, krans bunga, dan Santa Klaus akan dihukum.

“Toko-toko dilarang keras melakukan pertunjukan Natal atau berjualan untuk mempromosikan,” tukas otoritas Langfang.

Warga diminta untuk melaporkan siapa saja yang menyaksikan kegiatan keagamaan di halaman atau taman.

China juga tidak memberlakukan libur selama Natal. Alasannya, karena partai Komunis yang berkuasa merupakan ateis. Selama bertahun-tahun otoritas Cina telah bersikap keras kepada siapa saja yang merayakan acara keagamaan di ruang publik.

Laporan Telegraph menyebutkan, menyambut Natal, pekerja di pemerintahan China akan melakukan inspeksi, dan semua aktivitas keagamaan di ruang publik akan dipantau dan dilaporkan ke pihak otoritas.

Sejak Xi Jinping memimpin, kebebasan beragama di negara ini semakin dipersulit. September lalu, tiga gereja yang dibangun secara independen telah ditutup. Banyak anggota gereja menghilang dan beberapa di antaranya menjalani hukuman sebagai tahanan rumah.

Di sejumlah tempat di China, salib dan foto-foto Yesus Kristus diturunkan dan digantikan dengan bendera nasional Cina dan foto Xi. Penjualan Alkitab juga ikut dilarang.