Tanggapi Permintaan Ketum PD untuk Tidak Diusik, PDIP: SBY Perlu Belajar ke Prabowo


SURATKABAR.ID – Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berpesan untuk tak diganggu ketika berkampanye pada Januari 2019. Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin mengaku heran dengan pesan yang disuarakan SBY tersebut.

Direktur Program Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Aria Bima, seperti yang dilansir dari laman Detik.com pada Sabtu (22/12/2018), mengaku tak mengetahui apa maksud dan kepada siapa pernyataan Presiden ke-6 RI itu ditujukan.

“Meskipun SBY bukan caleg maupun capres. Jadi, diksi semacam ini, cenderung ditanggapi sebagai ekspresi lebay, sebagaimana yang selama ini erat dengan tampilan curhatnya. Jelas SBY nikmat dalam curhat-curhat. Begitu gejala post power syndrome,” ujar Aria Bima ketika dihubungi, Jumat (21/12).

Gejala post power syndrome sendiri kerap menyerang orang yang pernah memegang jabatan penting. Gejala bisa muncul ketika ia tak ikut dilibatkan dalam pengambilan keputusan atau tak dimintai pendapat. Bisa juga muncul kecurigaan dan tersinggungan saat saran atau pendapatnya tak dijalankan.

Lebih lanjut, Aria menilai bahwa pesan SBY yang tak ignin diganggu ketika berkampanye, seolah-olah menandakan bentuk ketidakpercayaan diri sang jenderal. Menurutnya, hal tersebut juga menggambarkan keinginan SBY untuk dihormati seperti saat dirinya masih menjabat sebagai presiden.

Baca Juga: Gempar! Pelaku Pengerusakan Atribut PD Mengaku Dapat Perintah dari PDIP, Hasto Langsung Bereaksi

“Pernyataan SBY dalam kampanye jangan diganggu, terkesan tidak percaya diri dan menempatkan diri seolah-olah masih menjabat presiden yang harus dihormati. Pilihan diksi ‘jangan diganggu’ mengisyaratkan kebutuhan untuk dihormati,” ungkap Arya.

Sebelumnya, SBY menggelar jumpa pers usai bertemu dengan calon presiden Prabowo Subianto di kediamannya. Dalam kesempatan tersebut, ia mengungkapkan bahwa partai yang dipimpinnya akan secara intensif berkampanye mulai Januari 2019 mendatang. Ia juga berpesan untuk tidak diusik.

Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan tersebut menyayangkna sikap SBY. Aria lantas menyarankan agar SBY lebih banyak belajar dari Prabowo yang menurutnya tak banyak mengeluh seperti yang dilakukan SBY.

“SBY masih seperti yang dulu, banyak mengeluh kata ‘Bung Karno orang terlalu banyak mengeluh tanda jiwanya lemah’. Sebaiknya SBY perlu belajar banyak ke Pak Prabowo yang lebih punya jiwa sportif dalam berkompetisi,” pungkas Aria tegas.

[wpforms id=”105264″ title=”true” description=”true”]