Benarkah Taj Mahal Merupakan Kuil Warisan Hindu?


SURATKABAR.ID – Apa yang muncul di benak Anda saat mendengar kata Taj Mahal? Tentu yang terbayang adalah sebuah masjid besar yang identik dengan India. Dulu, Taj Mahal dibangun Shah Jahan untuk istri kesayangannya, Mumtaz Mahal. Mumtaz Mahal diketahui meninggal muda pada tahun 1631 M. Besar kemungkinan informasi ini telah diketahui publik. Namun tahukah Anda jika Pengadilan India baru menetapkan Taj Mahal sebagai bangunan peninggalan Islam pada 2017?

Mengutip laporan Republika.co.id, Jumat (21/12/2018), era keemasan arsitektur di India terjadi di era Dinasti Mughal. Terutama di bawah kepimpinan tiga generasi yakni Akbar (1542-1605 Masehi), Jahangir (1605-1627 Masehi), dan Shah Jahan (1628-1658 Masehi).

Ketiga raja tersebut mendorong pendirian berbagai bangunan indah dan berhasil mengelola stabilitas keamanan di era masing-masing.

Di masa kepemimpinan Shah Jahan, kreativitas seni menemukan momentumnya. Dan sudah bisa ditebak, puncaknya adalah pembangunan Taj Mahal yang menjadi lambang arsitektur adikarya Dinasti Mughal.

Taj Mahal ini dibangun Shah Jahan untuk Mumtaz Mahal, alias Arjumand Banu Begum—sang istri kesayangan yang meninggal muda. Kabarnya, saat Mumtaz Mahal wafat pada 1631 M, mata sang raja sampai bengkak lantaran tak berhenti menangis. Bahkan kabarnya, rambut sang raja sampai memutih dalam beberapa hari saking dirinya diliputi kesedihan yang begitu mendalam.

Baca juga: Lebih Tua 10 Tahun, Si Cantik Priyanka Chopra Resmi Dinikahi Nick Jonas

Demi untuk menenangkan hati sang raja, para penasihat lantas menyarankan agar membangun sebuah musoleum bagi mendiang istrinya. Shah Jahan setuju.

Lalu dikerahkanlah para seniman dan arsitek terbaik dari berbagai penjuru dunia Islam saat itu untuk membangun Taj Mahal. Setelah 16 tahun, dengan mempekerjakan lebih dari 20 ribu orang, kompleks Taj Mahal selesai pada 1648.

Pemilihan nama bangunan itu sendiri tak kalah mengesankan. Taj Mahal sendiri berarti “Istana Mahkota”. Nama ini mencerminkan kespektakuleran arsitektur bangunan sebagai salah satu bangunan terindah yang menjadi mahkota sang permaisuri, Mumtaz.

Pernah Diklaim Sebagai Kuil Hindu

 

Meskipun demikian, Taj Mahal pernah beberapa kali diklaim sebagai kuil Hindu. Namun dengan mempertimbangkan pendapat ahli arkeologi, akhirnya Pengadilan di India menetapkan Taj Mahal sebagai bangunan peninggalan Islam. Hal ini terjadi pada 2017 lalu dan sekaligus menghentikan klaim Taj Mahal sebagai kuil Hindu.

Selanjutnya, ahli dari lembaga Archaeological Survey of India (ASI) dimintai pandangan soal klaim enam pengacara yang mengatakan situs warisan dunia Unesco itu merupakan kuil Siwa bernama Tejo Mahalaya. Petisi ini meminta agar umat Hindu bisa beribadah di dalamnya. Sejauh ini, hanya Muslim yang boleh beribadah di bangunan yang terletak di Agra itu.

Bhuvan Vikrama selaku peneliti utama ASI menolak klaim. Ia juga meminta pengadilan untuk membatalkan petisi itu meski Vikrama menyerahkan keputusan akhir kepada hakim. Demikian sebagaimana dilansir dari The Guardian.

Rupanya, klaim bahwa Taj Mahal ialah kuil Hindu bukan sekali ini saja terjadi. Kejadian ini bahkan berulang kali terjadi secara periodic, setelah pada 1989 sebuah buku berjudul Taj Mahal: the True Story karya PN Oak terbit. Buku itu menyatakan bahwa Taj Mahal adalah kuil Hindu. Kemudian banguan tersebut direbut Dinasti Mughal dan dijadikannyalah sebagai Masjid.

Oak yang wafat pada 2007 silam itu membawa klaim ini hingga Mahkamah Agung. Mahkamah Agung kemudian menolak klaim tersebut. Hari Shankar Jain, salah satu pengacara yang mengajukan petisi ke Pengadilan Agra itu, lantas menyatakan masih akan berusaha memenangkan klaimnya. Hal itu diupayakannya agar umat Hindu masih bisa beribadah dalam Taj Mahal.

Mengenai apakah ia akan memindahkan jenazah istri raja Mughal, Mumtaz Mahal, bila klaimnya berhasil, Jain bilang ia tidak akan melakukannya. Hal itu dikarenakan tak ada jenazah dalam Taj Mahal.

Lebih lanjut, Parsa Venkateshwar Rao yang merupakan seorang kolumnis dan penulis menerangkan, sejarah menunjukkan penaklukan di seluruh dunia mengubah bangunan yang ada menjadi milik mereka, sesuai pandangan mereka.

Namun, Rao menilai klaim atas Taj Mahal merupakan hal yang absurd. Rao menambahkan, kubah dan minaret tidak ditemukan di periode sebelum era Mughal. Adalah konyol bahkan bila petisi itu dikabulkan.

Harga Tiket Naik 500 Persen

Menukil TribunNews.com, kini Pemerintah India akan membatasi jumlah pengunjung lokal harian yang datang ke Taj Mahal. Sebagai bangunan ikonik India, Taj Mahal sebagai bangunan ikonik India yang sudah berdiri sejak abad 17 itu selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi penduduk India. Apalagi dengan ditambah mudahnya akses menuju ke Taj Mahal saat ini.

Diketahui, turis dalam negeri yang mengunjungi Taj Mahal selalu meningkat setiap tahunnya, hal ini dikarenakan akses perjalanan menuju Taj Mahal sudah jauh lebih mudah. Setiap harinya, ada sekitar rata-rata 10 ribu hingga 15 ribu turis domestik yang mengunjungi masjid marmer putih itu.

Peraturan pembatasan jumlah pengunjung ini diberlakukan setelah ada insiden lima pengunjung yang terluka karena gerbang yang pecah oleh padatnya pengunjung.

Namun, pembatasan jumlah pengunjung ini hanya berlaku untuk warga India dan tidak untuk turis asing yang membayar seribu Rupee. Laman The Guardian menyatakan, harga tiket masuk untuk para pengunjung lokal India akan naik dari 50 Rupee menjadi sekitar 250 Rupee. Artinya, harga tersebut naik jadi sekitar 500 persen.