Netizen RI Kecam Konflik Etnis Uighur, #UsirDubesChina Menggema


SURATKABAR.ID – Etnis Uighur yang ditindas sebagai minoritas muslim di Provinsi Xianjing, China juga mendapat kecaman netizen Indonesia. Kini, hash tag #UsirDubesChina makin menggema di media sosial Tanah Air. Para pengguna internet di Indonesia turut berempati merasakan keprihatinannya atas ketidakadilan yang menimpa etnis Turkestan Timur di wilayah China tersebut.

Mengutip laporan CNNIndonesia.com, Kamis (20/12/2018), seruan #UsirDubesChina menggema di media sosial Twitter. Hal ini dilakukan sebagai sikap geram lewat lini masa Twitter sejak Rabu (19/12.2018). Meski tidak menjadi trending topic namun tagar tersebut menyita perhatian netizen Indonesia.

Pengguna internet mempertanyakan empati warga di seluruh dunia atas kekejaman yang diterima muslim etnis Uighur di China.

Senada dengannya, Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) menyatakan penolakan keras atas tindakan yang diterima muslim Uighur di Xianjing, China. JK menyatakan penindasan itu merupakan salah satu bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang harus dilawan.

“Ya pasti kita semua menolak segala penindasan kepada human rights,” tutur JK di Hotel Fairmont, Jakarta, Senin (17/12/2018).

Baca juga: JK Tolak Penindasan HAM Muslim Uighur di China, Tapi….

Kendati demikian, JK beropini bahwa pemerintah RI tak bisa ikut campur begitu saja berkenaan konflik etnis ini. Hal ini mengingat tindakan tersebut tidak sesuai kapasitasnya. Hal itu merupakan urusan domestik pemerintah China, sehingga pihak luar seperti negara lainnya termasuk RI tak bisa langsung melakukan intervensi dalam urusan dalam negerinya China.

Sebelumnya, Pemerintah China disebut telah melakukan pelanggaran HAM secara massal dan sistematis terhadap etnis muslim Uighur dan minoritas di Xinjiang. Salah satu pelanggaran HAM paling dikhawatirkan adalah mengenai penangkapan etnis Uighur dan minoritas muslim di sana yang marak dilakukan otoritas China.

Berdasarkan kesaksian mereka, sejak 2014 lalu, otoritas China terus melakukan penahanan massal sewenang-wenang terhadap Uighur dan minoritas muslim lain di Xinjiang. Mereka dimasukkan ke dalam kamp-kamp untuk ‘dilatih’ dan ‘dididik’ agar kembali normal.

Pemerintah China sendiri memaksa etnis Uighur masuk ke kamp khusus dengan alasan etnis Uighur bukan orang normal. Sehingga otoritas yang berwenang memasukkan ke kamp untuk ‘mendidiknya’. Di lain pihak, China juga menyangkal tudingan pelanggaran HAM dan menyatakan kamp itu cuma bagian dari ‘pelatihan’.

Selain itu, aparat China juga telah dengan ketatnya menempatkan pos-pos pemeriksaan di seluruh wilayah hingga perbatasan Xinjiang. Diyakini hal ini mereka lakukan untuk mencegah penyebaran ideologi radikal di kalangan etnis Uighur—sebagaimana yang dituduhkan oleh China.

Namun dari sisi etnis Uighur sendiri, mereka menyatakan sebaliknya. Justru perlakuan pemerintah Chinalah yang telah memicu radikalisme dan ekstremisme di antara kedua belah pihak selama ini.

Respon Indonesia

Di Indonesia sendiri, Fraksi PKS telah mendesak Pemerintah RI untuk ambil tindakan dan membantu muslim Uighur di China lewat jalur diplomasi. Hal ini diungkapkan oleh Jazuli Juwaini selaku Ketua Fraksi PKS.

Selain itu, Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia, Din Syamsuddin, juga ikut mengecam keras penindasan atas Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang, China. Din Syamsuddin mengatakan bahwa penindasan ini merupakan pelanggaran nyata atas hukum internasional dan hak asasi manusia.

Akar Ketegangan: Bukan Agama Tapi Ekonomi dan Etnis

Xinjiang dikenal sebagai provinsi terbesar di Negeri Tirai Bambu tersebut. Provinsi ini rupanya kaya akan sumber daya alam yang tak terhingga. Jadi tentu saja tak heran jika Beijing memusatkan perhatian pada wilayah yang dilalui jalur sutera itu.

Selain itu, dana investasi bernilai ratusan triliun Rupiah juga telah mengalir ke Xinjiang sejak beberapa tahun lalu. Namun sayang, kemakmuran ini ternyata lebih banyak dinikmati bangsa Han ketimbang etnis lokalnya, yakni Turkestan Timur Uighur.

Adapun yang menjadi akar dari ketegangan etnis Uighur dan bangsa Han sendiri bersumber dari faktor ekonomi dan kulturalnya, bukan agama. Perkembangan pesat di Xinjiang turut menjaring kaum berpendidikan dari seluruh China. Akibatnya, etnis Han secara umum mendapat pekerjaan yang lebih baik dan mampu hidup lebih mapan. Tak ayal, ketimpangan ini lantas memperparah sikap anti China di kalangan etnis Uighur.