Wanita Ini Lakukan Kontak dengan Suku Primitif Sentinel Tanpa Terbunuh


SURATKABAR.ID – Baru-baru ini, seorang misionaris asal Negeri Paman Sam ditemukan tewas dibunuh suku primitif dan terasing Sentinel di Pulau Sentinel Utara, Teluk Benggala. Wilayah ini memang sangat terisolasi dan tertutup dari dunia luar—apalagi penghuninya. Namun kabar terbarunya, mereka kini sudah bersedia melakukan kontak dengan seorang wanita yang berprofesi sebagai antropolog.

Sebelumnya, di akhir abad ke-20, pemerintah India–yang mengelola Kepulauan Andaman dan Nikobar di mana Sentinel Utara berada–berusaha melakukan kontak dengan suku Sentinel. Namun, upaya itu berakhir dengan proyektil yang ditembakkan oleh penduduk asli pulau tersebut dari pinggir pantai.

Sementara di tahun 1970, salah satu tim dokumenter National Geographic juga mendapat luka dari tembakan tombak saat melakukan pengambilan gambar di sana, demikian seperti dilansir dari reportase NationalGeographic.Grid.ID, Sabtu (15/12/2018).

Kendati kebanyakan kontak tidak berhasil, namun dua pertemuan di awal 1990-an menyatakan bahwa suku Sentinel bersedia menerima kelapa dari para antropolog yang tergabung dalam Anthropological Survey of India (AnSI).

Di antara tim antropolog itu, hanya ada seorang wanita. Ia bernama Madhumala Chattopadhyay. Ia ingin mempelajari suku-suku pedalaman di Kepulauan Andaman dan Nikobar sejak anak-anak. Saat dewasa, antropolog ini kemudian menghabiskan waktu enam tahun untuk meneliti dan mempublikasikan 20 karya ilmiah tentang mereka. Chattopadhyay juga membuat buku berjudul Tribes of Car Nicobar.

Baca juga: Pulau Ini Tak Pernah Dikunjungi Selama 60.000 Tahun, Tapi Sekalinya Turis Datang, Nyawa Bisa Melayang!

Pada Januari 1991, Chattopadhyay mendapat kesempatan pertamanya untuk bergabung dengan tim yang akan mengunjungi Pulau Sentinel Utara. Namun, ada sedikit halangan: saat itu, wanita tersebut diragukan untuk terlibat dalam ekspedisi suku pedalaman yang memang terkenal ‘tidak ramah’ itu.

Namun berkat usaha kerasnya, akhirnya Chattopadhyay diizinkan untuk berkunjung ke Pulau Sentinel Utara. Dengan demikian, ia pun menjadi antropolog wanita pertama yang pernah melakukan kontak dengan suku Sentinel.

Gara-gara Buah Kelapa

“Kami semua sedikit gelisah selama ekspedisi (pada Januari 1991) karena beberapa sebelumnya tim yang dikirim oleh pemerintah mendapat sambutan yang tidak baik seperti biasanya,” kenang Chattopadhyay saat diwawancarai National Geographic, 27 tahun setelahnya.

Waktu itu, tim Chattopadhyay mencapai pulau dengan perahu kecil. Mereka mengalami kesulitan untuk berlabuh. Beberapa anggota suku Sentinel berada di pinggir pantai dengan membawa busur dan panah.

“Kami kemudian mulai mengapungkan buah kelapa ke arah mereka. Secara mengejutkan, anggota suku Sentinel menginjakkan kaki ke air untuk mengambil kelapa tersebut,” kisah Chattopadhyay.

Dua atau tiga jam selanjutnya, pria-pria Sentinel berulang kali masuk ke dalam air untuk mengumpulkan kelapa–dianggap sesuatu yang baru karena buah ini tak ada di pulau mereka. Sementara wanita dan anak-anak menonton dari kejauhan.

Kendati mereka menerima kelapa yang diberikan para antropolog, namun Chattopadhyay mengatakan bahwa ancaman serangan masih terasa.

“Pria muda berusia sekitar 19 atau 20 tahun berdiri bersama perempuan di pantai dan tiba-tiba ia mengangkat busurnya. Saya harus berusaha keras memanggilnya menggunakan bahasa suku lain yang saya pelajari di wilayah lain agar ia mau mengambil kelapa. Wanita di sebelahnya memintanya mengambil kelapa dan kemudian ia melakukannya,” beber Chattopadhyay.

“Tak lama kemudian, beberapa anggota suku datang dan menyentuh perahu. Gerakan yang kami rasakan menunjukkan bahwa mereka tak takut lagi terhadap kami,” tambahnya.

Tim ANSI lalu berhasil mencapai bibir pantai. Namun, anggota suku tak mengajak para antropolog ke tempat tinggalnya.

Pertemuan Selanjutnya

Sepuluh bulan kemudian, Chattopadhyay datang kembali ke Pulau Sentinel Utara bersama timnya.

“Kali ini, anggota tim kami lebih besar karena pemerintah ingin orang-orang Sentinel lebih familiar dengan para peneliti,” tukasnya.

“Mereka melihat kami mendekat dan mendatangi kami tanpa senjata,” tutur wanita itu.

Tak puas dengan mengumpulkan kelapa satu per satu, kali ini suku Sentinel naik ke perahu untuk mengambil sekarung buah sekaligus. Mereka bahkan berusaha membawa senapan milik polisi, mengira itu ialah sepotong logam.

Keakraban tersebut berubah sewaktu salah satu peneliti mencoba mengambil hiasan dari daun yang dikenakan anggota suku. Pria tersebut kemudian marah dan mengeluarkan pisaunya.

“Ia memberikan gestur mengusir dan kami pun segera pergi,” sebut Chattopadhyay.

Perjalanannya yang ketiga ke Pulau Sentinel Utara dirusak oleh cuaca buruk. Saat sampai di pantai, tak ada satu orang pun di sana. Tim antropolog pun kembali dengan tangan kosong. Sejak saat itu, Chattopadhyay belum mempunyai kesempatan lagi untuk berkunjung ke pulau terisolasi tersebut. Pemerintah India memutuskan untuk mengurangi frekuensi kunjungan ke Pulau Sentinel Utara untuk melindungi suku Sentinel dari paparan penyakit.

Lagipula, wanita yang kini bekerja di Kementrian Keadilan dan Pemberdayaan Sosial India, mengaku tak tertarik lagi kembali ke sana.

“Suku Sentinel telah hidup berabad-abad di pulau itu tanpa masalah. Masalah mereka justru muncul setelah melakukan kontak dengan orang luar. Suku ini tidak perlu kita untuk melindunginya. Yang mereka butuhkan adalah dibiarkan hidup tenang tanpa diganggu,” pungkasnya.