Makan Serangga Ternyata Bisa Cepat Turunkan Berat Badan, Mau?


SURATKABAR.ID – Bagi mereka yang sedang berdiet, menu makanan tentu dibatasi—baik itu dalam varian maupun porsinya. Namun selain mereka yang menjadi vegetarian dan pescatarian, ada juga entomofagi, yakni mereka yang memilih untuk mengonsumsi serangga sebagai menu makanan sehat. Bahkan sudah banyak orang di dunia ini (dan sejumlah artis serta selebritas) yang menyantap serangga sebagai menu diet mereka.

Melansir reportase NationalGeographic.Grid.ID, Sabtu (15/12/2018), diet serangga ialah salah satu cara unik untuk menurunkan berat badan. Selain mudah dan murah, diet dengan cara mengkonsumsi serangga ini juga memiliki banyak khasiat bagi tubuh.

Meski rasa jijik kemungkinan besar akan muncul tatkala kita membayangkan sosok serangga untuk dikonsumsi, namun nyatanya artis dunia sekelas Angelina Jolie dan Salma Hayek juga sudah melakukan praktik entomofagi ini. Sehingga bagi yang ingin mencobanya, beberapa informasi ini mungkin membantu Anda dalam mengubah persepsi mengenai serangga sebagai bahan konsumsi manusia.

Kandungan Nutrisi yang Tinggi

Serangga mengandung vitamin dan mikronutrien, seperti B12, zat besi, mangan, dan kalsium. Kandungan B12 yang berguna untuk kesehatan tulang dan meningkatkan stamina ini tak diproduksi oleh tubuh manusia. Zat besi berguna untuk memproduksi sel darah merah, mangan penting untuk menjaga sistem saraf dan otak, dan kalsium juga bermanfaat sebagai penguat tulang.

“Tidak diragukan lagi bahwa serangga merupakan gudang dari berbagai nutrisi. Serat prebiotik yang terkandung pada serangga juga memiliki manfaat yang baik bagi tubuh manusia,” tukas Jarrod Golding, pemimpin Entomo Farms.

Baca juga: Menyantap Nikmatnya Kuliner Rica-rica Bekicot Khas Gunungkidul, Yogyakarta

Selain kandungan nutrisi tinggi, serangga juga mempunyai tingkat kalori yang rendah dan dipercaya dapat memerangi obesitas atau penyakit terkait. Selain jumlahnya yang banyak, serangga juga dijual dengan harga yang terjangkau, menurut Kajsa Ernestam, seorang ahli diet dari Lifesum.

Mudah Diternakkan

Perubahan iklim telah memengaruhi beberapa produksi pangan di beberapa negara. Peningkatan suhu di wilayah kering menyebabkan kesulitan memanen tanaman pangan dan mengembangbiakkan hewan ternak. Jika dibandingkan, berternak serangga menghasilkan jauh lebih sedikit gas rumah kaca ketimbang sapi atau babi.

Ternak serangga juga memiliki efisiensi konversi makanan yang lebih tinggi, tegas Ernestam. Hewan verbrata membutuhkan suhu tertentu agar bisa tetap hangat, sedangkan serangga tidak. Serangga juga mengalami proses reproduksi yang cukup cepat. Serangga betina dapat menghasilkan setidaknya 1.500 butir telur dalam kurun waktu 3-4 minggu. Lebih cepat jika dibandingkan dengan hewan ternak pada umumnya.

Tak Perlu Memakannya Secara Utuh

Apabila Anda tak ingin memakannya secara utuh, serangga dapat dikonsumsi dalam bentuk bubuk. Sama seperti bubuk protein, Anda tak akan kehilangan kandungan nutrisi karena tetap memiliki kadar yang sama seperti jika kita memakannya dalam bentuk utuh.

Anda bisa mengonsumsi bubuk serangga dengan menambahkannya ke dalam bahan makanan, misalnya membuat kue coklat serangga, ungkap Ernestam. Namun jika masih tak terbiasa, cara termudah agar dapat menjalankan diet serangga yakni dengan memakan pizza yang ditaburi serangga, atau membuatnya menjadi jus serta kudapan.

Melansir TribunNews.com, menurut laporan Food and Agriculture Organization (FAO) pada 2013 lalu, ada sekitar dua miliar penduduk dunia yang mengonsumsi serangga sebagai bagian dari diet mereka.

Kumbang adalah serangga yang paling sering dimakan, diikuti oleh ulat, lebah, semut, belalang dan jangkrik. Secara keseluruhan, terdapat 1.900 jenis serangga yang dianggap bisa dikonsumsi.

Entomofagi menjadi praktik umum di beberapa wilayah, termasuk Tiongkok, Afrika, Asia, Australia, Selandia Baru, dan negara-negara berkembang di Amerika Tengah dan Selatan.

Di wilayah Barat, tampaknya serangga belum berhasil menggugah selera mereka. Studi yang dipublikasikan pada Journal of Insects as Food and Feed menemukan fakta bahwa 72% warga Amerika menolak mengonsumsi serangga.

Sedangkan menurut FAO, kebanyakan penduduk di negara Barat menganggap entomofagi sebagai tindakan menjijikan dan berkaitan dengan perilaku primitif. Kendati demikian, beberapa ahli menyatakan bahwa praktik ini memang bermanfaat bagi kesehatan. Jadi, bagaimana, tertarik untuk mencobanya?