Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Menurun, Ini Penyebabnya Menurut PARA Syndicate


SURATKABAR.ID – Menurunnya tren elektabilitas pasangan politik capres-cawapres Jokowi-Ma’ruf Amin bukan tanpa sebab. Menurut penilaian Ari Nurcahyo selaku Direktur Eksekutif PARA Syndicate, hal ini disebabkan oleh retorika kampanye yang diperlihatkan paslon dan tim suksesnya cenderung reaktif terhadap isu yang dilempar pesaingnya.

Mengutip Kompas.com, Sabtu (15/12/2018), pasangan nomor urut 01 itu beserta tim suksesnya yang cenderung reaktif terhadap isu yang dilempar pesaingnya itu ditelaah dari catatan PARA Syndicate.

Diketahui, selama periode Agustus hingga November 2018, tren elektabilitas Jokowi-Ma’ruf menurun. Kesimpulan itu ditarik setelah PARA Syndicate menganalisis hasil survei 12 lembaga.

“Dinamika kampanye cenderung reaktif dan responsif, dan nampak sekali bahwa timses, bahkan Pak Jokowi sendiri sempat hanyut pada genderang yang dimainkan lawan,” tutur Ari saat merilis hasil perhitungan itu di kantor PARA Syndicate, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (14/12/2018).

Ia melihat hal tersebut tercermin dari istilah politisi “sontoloyo” dan politik “genderuwo”, yang sempat dilontarkan Presiden Jokowi.

Baca juga: Siapa yang Lebih Sering Dibicarakan di Medsos, Jokowi Atau Prabowo?

Menurut pendapat Ari, kesibukan menangkal isu dari lawannya membuat topik mengenai rencana pembangunan Indonesia lima tahun ke depan jadi terabaikan. Ari menilai bahwa Program Nawacita II hingga saat ini juga belum digemakan.

Adapun faktor lain yang berpengaruh terhadap menurunnya tren elektabilitas yaitu strategi kubu Jokowi-Ma’ruf yang diungkapkan Ari bersifat linear dan monoton.

Arie melihat ada fenomena naiknya jumlah pemilih yang belum menentukan pilihan (undecided votters). Menurutnya, fenomena ini menarik untuk dicari penyebabnya.

“Setelah kita tarik garis lurus dari beberapa survei terbaca, undecided votters itu naik, ini menarik apakah ini yang milih Jokowi ragu atau separuh suaranya milih Prabowo-Sandiaga atau yang lainnya,” imbuhnya, menukil Detik.com.

Selain itu, peran Ma’ruf sebagai cawapres belum signifikan untuk mendulang suara tambahan. Ari menilai, pembagian peran untuk menarik suara juga belum terlihat.

“Kelihatan bahwa figur Ma’ruf belum bisa mendatangkan elektoral, suara-suara untuk Pak Jokowi,” tukasnya kemudian.

Sebelumnya, PARA Syndicate menganalisis 12 hasil survei sehubungan elektabilitas paslon dari lembaga survei yang dianggap kredibel.

Setelah mereka menarik regresi linear dari data-data tersebut, tren elektabilitas pasangan Jokowi-Ma’ruf, menunjukkan penurunan.

Di sisi lain, tren elektabilitas pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno justru naik. Seluruh survei yang dianalisis menggunakan metode multistage random sampling, dengan jumlah responden sekitar 1.500 orang.

Hasil survei yang digunakan berasal dari lembaga-lembaga seperti Alvara, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Y-Publica, Indikator, dan Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC). Selain itu, survey juga melibatkan Populi Center, Litbang Kompas, serta Median.

Poling #Pilpres2019 SuratKabar.id
Jika Pilpres 2019 dilaksanakan hari ini, pasangan mana yang akan anda pilih?
Klik 'Vote!' untuk melihat hasil polling sementara.