Curiga Adanya Sengketa Pemilu 2019, Yusril Pastikan Dirinya di Barisan Depan Bela Jokowi


    SURATKABAR.ID – Pengacara capres 01 Jokowi, Yusril Ihza Mahendra tak memungkiri bahwa potensi perselisihan pemilu tetap ada di Pilpres 2019 mendatang. Namun, Yusril memastikan jika nantinya ada sengketa, ia akan berada di barisan depan membela Jokowi.

    “Andai kata nanti sesudah pencoblosan itu ada sengketa, ya saya mohon, mungkin saya ada di depan,” kata Yusril seusai memberikan materi di Rakornas TKN bidang Hukum dan Advokasi Jokowi-Ma’ruf Amin di Hotel Acacia, Jakarta Pusat, Kamis (13/12/18) dikutip dari kumparan.com.

    Dengan demikian, sebagai antisipasi, Yusril juga mengajak tim kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf di bidang hukum dan advokasi untuk ikut mendalami ketika menghadapi sidang di Mahkamah Konstitusi (MK).

    Yusril memprediksi, nantinya di Pilpres 2019 mendatang salah satu potensi perselisihan yang muncul adalah masalah hitung-hitungan suara.

    Baca Juga: Yusril Sarankan Jokowi Maafkan Habib Bahar, Begini Tanggapan Nasdem

    “Masalah perselisihan hasil (Pemilu). Perselisihan hasil itu menyangkut hitung-hitungan suara. Kan bisa saja ada keinginan supaya supaya diadakan pilpres ulang di beberapa tempat,” tuturnya.

    Kendati demikian, walaupun ia siap menghadapi sengketa pemilu nanti, Yusril sangat berharap masalah hasil pemilu tak sampai naik ke MK.

    “Tadi saya sudah minta izin kepada kawan-kawan ya, berharap sih ini tidak berlanjut ke Mahkamah Konstitusi,” pungkasnya.

    Sebelumnya, Yusril mengusulkan kepada TKN agar membentuk semacam tim kecil yang akan fokus pada hukum cyber, yang menyangkut kepada serangan melalui media sosial.

    “Ini saya usulkan Direktorat Hukum dan Advokasi membuat tim kecil untuk hukum cyber, hukum dunia maya,” kata Yusril di lokasi, Kamis (13/12/18).

    Yusril menilai potensi serangan terhadap Jokowi-Ma’ruf, baik secara etik maupun pidana seperti hate speech hingga fitnah perlu dianalisis dengan cermat.

    “Hal-hal mana yang perlu diselesaikan secara penjelasan, jadi di-counter pemberitaan itu. Atau mengambil langkah hukum jangan sampai jadi kontra produktif,” jelasnya.

    Yusril mengungkapkan ada beberapa kasus di media sosial yang sudah dilaporkan ke kepolisian. Oleh sebab itu, nantinya tim cyber tersebut harus mengacu pada cyber law (hukum dunia maya).

    “Memantau dunia cyber ini hal-hal yang menyerang dan itu sudah tak proporsional lagi, dan itu diambil langkah hukum yang tepat. Itu harus mengacu pada cyber law, karena ini erat hubungannya dengan pelanggaran dunia maya,” pungkasnya.