Aksi Kamisan di Depan Istana, Keluarga Korban Tagih Janji Lion Air


    SURATKABAR.ID – Aksi Kamisan edisi ke-566, Kamis (13/12/2018), di depan Istana Merdeka, Jakarta memberikan tempat khusus bagi keluarga korban kecelakaan Lion Air JT610 dengan registrasi PK LQP yang jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat beberapa waktu lalu. Seperti biasanya, puluhan anak muda berkumpul di depan Istana Merdeka, Kamis sore kemarin. Mereka mengenakan pakaian hitam-hitam yang kemudian membentuk lingkaran.

    Ditukil dari laporan CNNIndonesia.com, Jumat (14/12/2018), beberapa anggota keluarga korban yang baru menggelar aksi sendiri lantas diberi kesempatan untuk berorasi. Mereka mengungkap ketidakadilan Lion Air terhadap hak-hak korban dan keluarga korban. Pemerintah juga jadi sasaran karena melakukan pengabaian.

    “Banyak orang yang belum ditemukan. Kita terus bersolidaritas karena sampai saat ini bagi kami Negara belum memberikan upaya-upayanya terhadap 64 keluarga kami yang belum ditemukan,” ujar Yazid, keluarga dari Naqiah Azmi yang merupakan korban Lion Air JT-610.

    Mengutip Kompas.com, para keluarga korban juga mendesak Lion Air agar memenuhi janjinya soal pembiayaan pencarian tahap kedua dengan menggunakan kapal dan peralatan canggih sebagaimana kesepakatan dengan keluarga korban pada 23 November 2018 lalu.

    “Namun demikian hingga hari ini, janji tersebut belum juga terealisasi. Oleh sebab itu, kami selaku keluarga korban pesawat Lion Air JT-610 memohon perkenan Bapak Presiden untuk dapat memfasilitasi tuntutan kami kepada pihak Lion Air,” sebut Inchy Ayorbaba, keluarga korban lainnya.

    Baca juga: BMKG: Waspadai Hujan Lebat dan Angin Kencang Berdampak Banjir-Longsor Sepekan Depan

    Inchy menambahkan, sebagai pihak keluarga, penemuan para korban tersebut sangat kami harapkan agar bisa memakamkannya secara layak. Selain itu, Lion Air harus melakukan pendampingan kepada para keluarga korban pesawat Lion Air JT 610, baik yang anggota keluarganya sudah ditemukan maupun yang belum.

    Dalam kesempatan tersebut, Yazid keluarga korban juga menuturkan dirinya dan keluarga korban lain mendapat perlakuan tak adil dari Lion Air. Salah satu contohnya yakni berkenaan dengan dana santunan dan asuransi yang hingga kini tak kunjung juga dicairkan.

    Yazid mewakili keluarga korban meminta Presiden Joko Widodo untuk turun tangan menyudahi ketidakadilan ini.

    “Jangan diam!” teriak Yazid.

    “Lawan!” saut puluhan peserta Aksi Kamisan.

    Merasa HAM Diabaikan Negara

    Salah satu aktivis Aksi Kamisan bernama Niccolo Attar menyebutkan pihaknya memang sengaja memberi ruang khusus pada keluarga korban Lion Air JT-610 di kesempatan itu.

    Ia mengatakan, ada pengabaian oleh Negara terhadap hak keluarga korban. Padahal, ia melanjutkan, salah satu kewajiban Negara adalah memenuhi Hak Asasi Manusia (HAM) warga negara.

    Niccolo mengimbuhkan Aksi Kamisan terbuka bagi semua pihak yang merasa hak-hak asasinya sebagai manusia diabaikan oleh Negara.

    “Di sini Korban Lion Air merasa hak mereka untuk mendapat kejelasan soal jenazah keluarga mereka diabaikan negara. Itu bisa jadi salah satu bentuk pelanggaran HAM, maka itu kami memberi ruang mereka menyuarakan HAM-nya,” ungkap Niccolo saat ditemui seusai aksi.

    Diketahui, para keluarga korban Lion Air JT-610 melayangkan surat ke Presiden Jokowi. Mereka meminta Pemerintah ikut mengawal tanggung jawab Lion Air kepada keluarga korban.

    Pasalnya mereka merasa selama ini Lion Air hanya menjual janji belaka yang tak pasti. Seperti soal pencarian ulang 64 jenazah hingga dana santunan yang belum cair.

    “Jadi kami minta Presiden dan segenap jajaran lakukanlah pertolongan yang lebih nyata. Bapak (Jokowi) ini kan pemimpin tertinggi di Indonesia,” ujar salah satu keluarga korban, Johan Herry Saroinsong.

    Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 77 Tahun 2011, tertulis keluarga penumpang mendapat hak uang santunan meninggal dunia sebesar Rp 1,25 miliar. Selain itu, Lion Air juga sempat menjanjikan penggantian uang bagasi sebesar Rp 50 juta, uang tunggu Rp 5 juta, dan uang kedukaan sebesar Rp 25 juta.