Ganjar Soal Arah Uang Panas Bupati Purbalingga: Lho, Saya Nggak Tahu


    SURATKABAR.ID – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo buka suara menanggapi soal arah uang yang diserahkan Wakil Ketua DPR RI Utut Adianto kepada terdakwa suap dan gratifikasi, Bupati Purbalingga nonaktif Tasdi. Ia mengaku tak tahu menahu soal kasus tersebut.

    Hal tersebut, dilansir dari Jawapos.com pada Kamis (13/12/2018), terkait kesaksian Utut dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kota Semarang, Rabu (12/12) lalu. Pada sidang itu, Utut hadir sebagai salah satu saksi fakta. Ia mengakui pernah memberikan uang pada Tasdi senilai Rp 150 juta.

    Ada pun peruntukannya, diakui Utut demi kepentingan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Tengah 2018. Saat itu Ganjar kembali maju pemilihan sebagai calon petahana. “Lho saya nggak tahu,” ujar Ganjar ketika ditemui di Puri Gedeh, Kota Semarang, Rabu (12/12).

    Pada sidang tersebut pula, Utut memberikan kesaksian bahwa uang panas itu diberikan secara sukarela dengan konsep gotong royong antar internal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Tak hanya uang, ada pula yang memberikan kaos, sound system, dan bentuk sumbangan lainnya.

    “Gotong royong itu kan boleh, kita selalu iuran. Nyumbang voluntarism kan boleh. Saya tidak tahu kalau itu digunakan untuk saya atau apa, kita juga mbantu, gitu. Sebenarnya nggak tahu, asal tidak terlalu terpolitisasi, buka saja di pengadilan,” ungkap Ganjar lebih lanjut.

    Baca Juga: Catatan Kelam Korupsi di Cianjur, Ketika Masjid Beralih Fungsi Jadi Tempat Transaksu Haram

    Kemudian ia mengimbau kepada semua pihak agar dapat membedakan pemberian secara sukarela dengan suatu tindak pidana. Dalam hal ini termasuk suap, gratifikasi, atau apapun yang berkaitan dengan praktik rasuah.

    “Bedakan antara Pak Utut menyumbang kalau bahasa saya, dengan istilah gratifikasi. Apakah ada unsur nyogoknya, itu nyogok untuk apa. Beda lho. Kalau konteks ada proyek Islamic Center, ada duit yang dikirimkan karena itu, nah itu nyogok. Tapi kalau saya tilik seorang wartawan yang lagi sakit, kemudian saya bantu nggak tahu itu masuk gratifikasi atau tidak,” paparnya.

    Persoalan ini mencuat ketika nama Utut yang diketahui merupakan politisi PDIP, disebut-sebut dalam pembacaan dakwaan kasus suap proyek Islamic Center Purbalingga tahap 2 dan gratifikasi, di mana Tasdi sebagai terdakwa.

    Bupati nonaktif tersebut menempati kursi pesakitan lantaran diduga telah menerima suap dan gratifikasi total dengan nilai Rp 1,4 miliar dan USD 20 ribu. Di beberapa momen sebelumnya, Tasdi sempat mengungkapkan bahwa selaku kader daerah, ia mengemban kewajiban untuk memenangkan Ganjar Prabowo-Taj Yasin di Pilgub 2018.

    Dan dalam upayanya, yakni melalui kegiatan gotong royong seperti yang disebutkan Utut. Sementara Utut memberikan uang pada Tasdi lanteran memang wilayah daerah pilihnya di DPR RI, ungkap terdakwa beberapa waktu lalu. Tasdi sendiri ketika itu masih menjabat sebagai Ketua DPC PDIP Purbalingga.