Orang Tua, Hati-hati! Jangan Paksakan Anak Masuk SD Jika Belum Matang


SURATKABAR.ID – Sebagai orangtua, seorang anak tentu kerap menjadi kebanggaannya tersendiri. Tak jarang banyak ayah ibu yang sangat berdedikasi dan kompetitif dalam ‘memahat’ sang anak. Kebanyakan anak didorong untuk memenuhi ambisi orangtuanya. Salah satunya dalam dunia pengajaran dan pendidikan. Sehingga tak jarang orangtua seolah berlomba-lomba memaksakan anak masuk ke jenjang sekolah dasar (SD). Padahal, dalam banyak kasus, sejumlah fakta bahwa anak mereka belum cukup usia malah kerap diabaikan.

Menukil laporan Kompas.com, Kamis (13/12/2018), pemerintah menganjurkan usia tujuh tahun untuk seorang anak memasuki jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD). Hal ini tentu diimbaukan bukan tanpa sebab. Pasalnya, di usia tersebut, barulah seorang anak dianggap sudah cukup matang—baik dari segi fisik, mental, maupun pola pikirnya.

Menurut Ketua Asosiasi Pendidikan Guru (APG) Paud Dr Sofia Hartati, kematangan sang anak di setiap aspek ini mesti menjadi perhatian yang utama.

Kematangan di sini menjadi modal utama bagi seorang anak untuk bergabung ke sekolah dasar. Mengapa? Karena hanya dengan begitulah dirinya tak akan merasa terpaksa.

Lingkungan sekolah pada dasarnya tak hanya menuntut anak untuk mampu bersosialisasi dan terlibat dalam komunitas yang lebih besar lagi dari keluarga. Lebih dari itu, ada beberapa pengenalan konsep yang membutuhkan daya pikir yang harus disertai dengan nalar yang kuat. Sebut saja, contoh salah satunya, anak harus menulis, membaca, hingga belajar berhitung.

Baca juga: Misteri Tubuh Manusia, Mengapa Kulit Berkeriput Saat Tua?

“Jika (saat sekolah), fungsi-fungsi kognitif dan psikis belum matang, justru ini bahaya sekali,” tegas Sofia saat dijumpai awak media di Jakarta, Sabtu (05/05/2018) lalu.

Bisa Sebabkan Anak Frustrasi

 

Jika seorang anak belum cukup matang dan dia terpaksa harus sekolah, maka akan ada dampak yang cukup signifikan. Salah satunya adalah frustasi, hingga tidak bisa mengikuti pembelajaran, baik menulis, baca atau pun berhitung.

Efek buruk lebih yang lebih lanjut lagi, jika kepercayaan diri sang anak rusak, maka akan sulit diperbaiki. Bahkan, Dr Sofia mengatakan hal ini bisa terbawa-bawa hingga si anak lulus SD.

“Jika kepercayaan diri terkendala, maka akan menjadi kendala untuk aspek-aspek lain berkembang, seperti intelektual hingga bahasa,” ujarnya kemudian.

Itulah sebabnya, adalah sangat penting baik bagi guru maupun orangtua untuk sama-sama memahami fakta ini. Dengan demikian, hal penting ini bisa ditangani dengan baik dan saksama.

“Ketika guru katakan, ‘bu anak ibu belum matang atau belum bisa’, nurut. Jangan malah melawan dan anggap sudah bisa dengan persepsi orangtua,” tutur Dr Sofia.

Lantas bagaimana jika sudah terlanjur dan anak mulai memperlihatkan tanda-tanda ketidakmampuannya? Sofia menganjurkan untuk menyelesaikan pada aspek kepercayaan diri dan kemandirian.

“Misalnya libatkan teman-teman sebaya untuk interaksi,” tambahnya kemudian.

Matang dan Mandiri

Bagaimana cara meninjau kematangan seorang anak? Kematangan dan kemandiriannya rata-rata sudah bisa terlihat pada usia kurang lebih tujuh tahun. Di situ, matang dan mandiri telah muncul dari dalam diri. Hal ini disebut tidak akan muncul pada anak usia tiga hingga lima tahun. Kira-kira di usia enam tahun, barulah bisa terlihat.

Kemudian memasuki usia tujuh tahun, anak akan menjadi jauh lebih matang, baik secara fisik, emosi, kognitif, maupun bahasanya.

“Di usia itu sudah banyak yang diperoleh. Itu juga kenapa Pemerintah membatasi di usia tujuh tahun,” imbuh Dr Sofia.

Agar konsep ini bisa dibangun dengan tepat dalam diri anak, diperlukan dorongan, perhatian serta stimulasi khusus yang tepat oleh orangtua serta orang dewasa di sekitar anak. Anak bisa diberikan dorongan agar ia menjadi mau kepada sesuatu dan beraksi melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu.

Sofia mengambil contoh, misalnya saat anak diminta mengambil benda. Lalu bisa juga mengikuti karaketristik perkembangan di setiap usia. Jika anak telah melakukan sesuatu dengan benar, reward atau pujian bisa diberikan.

“Itu akan menjadi terlatih dan terampil ketika stimulasi terus diberikan, diperhatikan, didorong diberikan pujian oleh orangtua,” ujarnya.

Menguji Kemandirian

Usia tujuh tahun merupakan batasan untuk memudahkan orangtua bergerak dan melihat kemampuan anaknya. Karena itu, sebenarnya, tak tertutup kemungkinan anak bisa masuk sekolah di bawah atau di atas usia tersebut. Namun dengan catatan, kemandirian dan kepercayaan diri anak sudah harus lebih dulu terbangun.

Menurut Psikolog Nadya Pramesrani, biasanya saat masuk sekolah anak akan diberikan tes berkaitan dengan kematangan sosial. Bukan lagi hanya seputar calistung (baca, tulis dan hitung).

Nadya melanjutkan, tes ini akan melihat apakah sisi emosional anak sudah matang untuk masuk sekolah.

“Salah satu materi adalah kemandirian, seperti bagaimana pergi ke sekolah tanpa menangis, berpisah dengan orangtua, menaati instruksi yang diberikan,” beber Nadya.

Selain itu, kematangan juga dilihat dari kemampuan anak untuk berinisiatif melakukan aktivitas sehari-hari sendiri. Contohnya seperti makan, mengenakan baju serta membereskan mainan.