Soal Melemahnya Rupiah, Sandiaga Sebut Karena Pemerintah Kurang Tegas


SURATKABAR.ID – Menurut penilaian Sandiaga Salahuddin Uno selaku calon wakil presiden nomor urut 02, nilai tukar Rupiah masih lemah di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini dikarenakan upaya menstabilkan kurs mata uang RI yang dilakukan pemerintah masih kurang tegas.

Melansir CNNIndonesia.com, Kamis (13/12/2018), Sandiaga menuturkan bahwa pemerintah saat ini memang sudah mengupayakan stabilisasi kurs Rupiah. Terbukti dengan adanya komitmen untuk membenahi pembengkakan defisit transaksi yang berjalan sampai mengurangi impor agar neraca pembayaran meningkat. Akan tetapi, usaha tersebut menurut Sandiaga masih belum maksimal.

“Saya yakin pemerintah sudah coba dengan luar biasa, tapi kami yakin di bawah Prabowo-Sandi dengan kepemimpinan yang kuat dan tegas, eksekusi daripada reformasi struktural akan bisa dilakukan dengan lebih pasti dan jelas,” papar Sandi di kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan, Rabu (12/12/2018).

Meskipun demikian, mantan wakil gubernur DKI Jakarta ini mengaku jika nanti memenangkan Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2019, langkah yang akan diambil kubunya untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah memang tak jauh berbeda dengan kebijakan pemerintah saat ini.

Sandiaga mengatakan, kepemimpinan Prabowo-Sandiaga akan berfokus membenahi masalah defisit transaksi berjalan dan defisit neraca perdagangan.

Baca juga: Jika Menang Nanti, Sandiaga Janjikan 3 Kursi Menteri untuk Generasi Milenial

“Masalah defisit ada dua pilar, pertama, bagaimana melakukan penghematan, tapi tidak secara drastis. Kedua, kami fokus ke pengurangan impor untuk hal-hal yang bisa kami tunda dan penguatan ekspor dengan kebijakan insentif,” ungkapnya kemudian.

Namun, Sandiaga tidak ingin menjanjikan urusan Rupiah serta dua defisit ini bisa selesai dalam waktu sekejap. Berdasarkan perhitungan Sandiaga, setidaknya dibutuhkan waktu tiga tahun untuk memulihkan masalah defisit dan Rupiah.

Kendati butuh proses yang memakan waktu, namun ia memastikan langkah-langkah struktural dan tegas itu akan secepat mungkin dilakukan agar dampaknya tak sampai membebani daya beli kalangan masyarakat dan usahawan.

“Soalnya mereka jadi susah untuk pricing produk karena banyak produk menggunakan dolar AS. Kalau ini naik turun terus, bisa membebani masyarakat jadi kehilangan daya beli,” tukasnya.

Hingga saat ini, Rupiah diketahui berada di kisaran Rp 14.500 per dolar AS di pasar spot. Dalam sebulan terakhir, Rupiah sempat menguat dari kisaran Rp 15.200 per dolar AS ke Rp 14.200 per dolar AS.

Poling #Pilpres2019 SuratKabar.id
Jika Pilpres 2019 dilaksanakan hari ini, pasangan mana yang akan anda pilih?
Klik 'Vote!' untuk melihat hasil polling sementara.