Hiii Merinding! Longsor Batubulan Tewaskan 4 Orang, Warga Sebut Makhluk Raksasa Berjaga di Lokasi


SURATKABAR.ID – I Made Oktara Dwi Paguna (30) harus kehilangan tempat tinggalnya di Jalan Pratu Made Rambug Gang Taman Beji 4 Banjar Sasih Desa Batubulan, Gianyar, Bali, lantaran longsor. Ia kini harus tergolek di RSUP Sanglah, sementara nyawa istri dan tiga anaknya terenggut.

Bencana itu langsung menjadi perbincangan masyarakat sekitar. Tak hanya karena kondisi rumah yang luluh lantak akibat longsor, namun juga kisah mistis yang mewarnai lokasi, khususnya Tukad Tiyis. Masyarakat sekitar sudah mengenal lokasi tersebut sebagai titik yang angker.

“Lokasi itu, ya lumayan (angker),” jelas Ketut Wirama (42), Kelian Dinas Banjar Sasih, Desa Batubulan, Gianyar, ketika ditanyai tentang sisi lain dari Tukad Tiyis, seperti yang dikutip dari laman Jawapos.com pada Minggu (9/12/2018).

Di area Tukad Tiyis, berdiri sebuah pura bernama Pura Manik Tirta. Di tempat itu, disebut Wirama, menjadi pelancaran Ratu Niang. Palinggih penyawangannya sendiri berada di jalur masuk Gang Taman Beji, wilayah perumahan di mana korban tinggal.

“Palinggih penyawangannya tepat di jalan baru masuk itu. Kalau melis atau nangluk merana biasanya dilaksanakan di sana (pelinggih penyawangan),” jelas Wirama lebih lanjut. Ia juga menurutkan masuh ada beberapa kejadian aneh yang kerap disaksikan warga.

Baca Juga: Viral! Seorang Anak Punk Sukses Bikin Netizen Syok, Lihat Apa yang Dilakukannya

Tak hanya kemunculan makhluk gaib, warga juga sering mendengar suara-suara aneh. Hal ini diakui sendiri oleh Wirama yang pernah mengalaminya langsung. Semasa mudanya dulu, Wirama mengaku hobi memancing. Lokasi kejadian adalah tempat favorit para pemancing.

“Tukad itu dari namanya Tukad Tiyis. Memang tukad ini tak ada hulunya, hanya sampai Batuyang. Air tukad ini hanya dari tiyisan (rembesan) air sawah. Makanya kalau musim kemarau, tukad ini bisa kering. Tapi kalau musim hujan airnya besar,” tuturnya.

Meski hanya tempat memancing musiman, namun ia menyebut banyak ikan besar di sana. “Di lokasi itu sebenarnya juga favorit pemancing. Saya juga sering dulu mincing di sana. Karena memang banyak ikan julit sama kulen. Bahkan besar-besar,” sebut Wirama.

Pernah ketika memancing, tali pancingnya tersangkut. Saat ia berusaha melepaskannya muncul suara sorak-sorakan dari arah rimbun rumpun bambu. Pengakuan warga lainnya, mereka pernah melihat wujud hitam besar atau berwujud seperti kuntilanak yang duduk di atas bambu.

“Kalau sudah muncul suara itu, tak peduli apa pun langsung lari. Di sana orang-orang juga kerap melihat orang berwujud besar hitam, atau pun seperti kuntilanak yang duduk-duduk di atas bambu. Kami sesama penyuka mincing di sana biasa mendengar cerita itu,” ungkap Wirama.

“Pernah juga saat ada orang mancung, dia cerita seperti ada orang megambel dengan memukul-mukul bambu. Padahal saat itu lagi tidak ada orang lain. Begitu terdengar suara aneh, langsung sudah lari,” jelas pria tersebut sembari mencari data-data kependudukan korban dan keluarganya.

Longsor pada Sabtu (8/12) pagi lalu menewaskan empat orang. Mereka adalah Ni Made Lintang Ayu Widnerti (33), Ni Putu Delta Larasati Palguna (6), Made Dian Aditya Palguna (4), dan Nyoman Adi Anggara Palguna (2). Hanya I Made Oktara Dwi Palguna (30) yang berhasil selamat. Para korban meninggal lantaran tertimbun rumahnya sendiri yang longsor ke sungai.