Jadi Sorotan Lantaran Hina Jokowi, Tak Disangka Habib Bahar Kerap Keluar Masuk Tahanan Gara-Gara Aksi Anarki


SURATKABAR.ID – Nama Habib Bahar bin Smith sejak beberapa hari terakhir menjadi sorotan setelah dirinya dilaporkan atas dugaan kasus ujaran kebencian. Semua berawal dari video ceramahnya di media sosial yang dianggap menghina Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan mengandung unsur SARA.

Rupanya, seperti diwartakan Tribunnews.com pada Senin (3/12/2018), Habib Bahar jauh sebelum kasus hate speech sudah pernah tersandung urusan hukum. Terjadi 6 tahun silam, ia terlibat aksi anarki ketika memimpin sweeping pada bulan Ramadan Juli 2012.

Diberitakan, sebanyak 100 orang menyerang dan melakukan pengerusakan di Kafe De Most di Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Sabtu (28/7) malam 6 tahun yang lalu. Ketika itu, kelompok yang berbalut jaket dengan tulisan Majelis Pembela Rasulullah (MPR) darang dengan motor.

Menurut pengakuan dua orang saksi, gerombolan massa tersebut langsung merangsek masuk ke dalam dan berteriak-teriak agar kafe ditutup. Mereka bahkan tak segan-segan menghancurkan kaca pos keamanan dengan stik golf dan benda tumpul lain.

Habib Bahar selaku pendiri MPR ditetapkan sebagai tersangka dari kasus pengerusakan Kafe De Most. Polisi menangkapnya ketika ia sedang konvoi bersama para pengikutnya. Terkait penangkapannya tersebut, Habib Bahar memberikan klarifikasi.

Baca Juga: Terkait Kasus Habib Bahar Smith, Yusril Minta Jokowi Tak Ikut-Ikutan Melapor

“Sudah biasa dilakukan setiap bulan Ramadan. Saya dan pengikut sweeping ke tempat-tempat maksiat,” jelas Habib Bahar Smith di Mapolrestro Jakarta Selatan pada Minggu (29/7/2012), dikutip Tribunnews.com dari Kompas .com.

Bahar berkelit, sudah sepantasnya saat Ramadan tempat-tempat hiburan malam ditutup. “Mereka berbuat maksiat di sana. Mabuk-mabukan, jadi harus ditindak,” ujar habib berambut gondrong yang sedikit pirang tersebut.

Ketika itu, Habib Bahar dijerat dengan Pasal 170 KUHP yang mengatur tentang pengerusakan dengan ancaman hukuman selama 5 tahun. Selain itu juga Pasal 2 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dengan ancaman hukuman 12 tahun.

Usut punya usut, rupanya Habib Bahar memang acapkali terlibat aksi anarkis. Menurut pengakuannya, ia pernah melakukan aksi penyerangan terhadap jamaah Ahmadiyah di Kebayoran Lama. Ia juga pernah terlibat langsung dalam kasus Mbah Priok.

Atas aksi tersebut, Bahar dan beberapa orang rekannya terpaksa harus mendekam di tahanan Mapolrestro Jakarta selatan. Dan kali ini, Habib Bahar bin Smith harus kembali berurusan dengan hukum setelah dilaporkan ke polisi akibat menghina Presiden Joko Widodo dalam ceramahnya.

Bahar Smith diduga melakukan pelanggaran terhadap Pasal 28 Ayat (2) Jo Pasal 45 (A) Ayat (2) UU RI Nomor 19 Tahun 2018 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE dan Pasal 4 huruf (b) Angka (2) Jo Pasal 16 UU RI Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Juga Pasal 207 KUHP dengan ancaman kurungan pidana lebih dari 5 tahun.