Habib Bahar Sebut ‘Jokowi Kayaknya Banci’, NasDem: Proses Hukum!


SURATKABAR.ID Terkait video ceramah Habib Bahar bin Smith yang menyatakan ‘Jokowi kayaknya banci’ hingga ‘Jokowi haid’, Partai NasDem meminta agar yang bersangkutan diproses secara hukum. Menurut anggota Dewan Pakar Partai NasDem, Teuku Taufiqulhadi, Habib Bahar harus ditindak secara hukum lantaran telah menghina kepala negara.

“Saya berpikir penceramah seperti ini sebaiknya diproses saja secara hukum. Karena menurut saya, ia telah melakukan penghinaan terhadap kepala negara, telah melakukan hate speech dan merusak nama baik para penceramah Islam,” ujar anggota Dewan Pakar Partai NasDem, Teuku Taufiqulhadi saat dihubungi awak media, Kamis (29/11/2018). Demikian seperti dikutip dari Detik.com.

Taufiq lantas menyatakan kekhawatirannya. Jika penceramah tidak mempunyai wawasan dan menguasai ilmu agama, akhirnya akan masuk dalam bidang politik yang tidak mereka pahami. Apabila tidak memahami, maka penceramah dinilai akan berpikir politik itu isinya hanya seputar mencaci-maki dan menghina.

“Saya rasa penceramah seperti (itu) akan membuat malu penceramah lain yang baik-baik,” sebut anggota Komisi III DPR RI ini.

Taufiq juga meminta publik untuk berpikir rasional. Jika pada akhirnya Habib Bahar bin Smith diproses hukum, ia meminta jangan ada anggapan aparat penegak hukum sedang mempersekusi ulama. Taufiq menambahkan, masalah ini tak ada hubungannya sama sekali dengan penceramah dan ulama.

Baca juga: Pesantren di Garut Benarkan Tak Bisa Terima Kunjungan KH Ma’ruf Amin

“Ini masalah penghinaan dan menyebar kebencian. Orang seperti Habib Bahar ini bukan penceramah, apalagi ulama,” tegasnya.

Sebelumnya, Habib Bahar bin Smith dipolisikan Jokowi Mania dan Cyber Indonesia gara-gara ceramah kontroversial yang menyebut ‘Jokowi kayaknya banci’. Polisi lalu menindaklanjuti laporan tersebut.

“Laporan polisi sudah diterima dan akan ditangani oleh Direktorat Siber Bareskrim Polri,” ungkap Karopenmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo.

Sementara itu, Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah ikut mengomentari kasus ini. Menurutnya, demokrasi yang baik dan sehat itu tidak harus ‘menyerang fisik’.

“Merupakan tugas ulama untuk memiliki semacam tausiah agar penceramah meskipun itu dilakukan di ruang tertutup, maka unsur-unsur penghinaan terhadap pribadi memang tidak boleh ada di dalam ceramah. Tapi apabila itu dimaksudkan sebagai kritik, memang sebaiknya yang dikritik itu pikirannya, bukan bentuk fisik,” ungkapnya.

Fahri berharap ke depan dialog di ruang publik makin sehat. Ia mengatakan kebiasaan saling lapor ini tidak baik dalam kehidupan demokrasi.

“Kita ingin percakapan publik kita makin hari makin sehat. Perlu ada kesadaran semua pihak agar percakapan publik makin bermanfaat. Bukan menyebabkan kita saling lapor dan saling sumbat. Itu bukan peradaban demokrasi yang baik,” ungkap Fahri.