Menilik Situs Tondowongso, Peninggalan Kerajaan Kediri Kuno yang Terlupakan


SURATKABAR.ID – Pada 13 Januari tahun 2007 lalu, warga Dusun Tondowongso, Desa Gayam, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, dihebohkan dengan penemuan situs bersejarah. Dari bawah permukaan tanah lapang yang terpisah dari permukiman, alat keruk penggali tanah terasa membentur benda keras. Mulanya, yang ditemukan hanyalah bongkahan batu biasa. Namun saat tanah digali lebih dalam dan di sekelilingnya diperluas, menyembullah sebuah patung lawas.

Saat itulah, seperti dikutip dari laporan SindoNews.com, Rabu (28/11/2018), sebuah arca Dewa Brahma terlihat. Sebagaimana diketahui, Dewa Brahma merupakan salah satu dewa penting dalam terminologi Hindu.

“Saat itu langsung heboh. Orang orang pada berdatangan ingin melihat,” kenang Mujiono, seorang warga setempat saat bercerita kepada awak wartawan.

Kehebohan pun berlanjut. Lima hari paska penemuan Sang Agni (18 Januari 2007), giliran arca Dewi Durga yang ‘muncul’ kemudian. Arca istri Batara Syiwa itu juga dientas dari dalam tanah dengan cara dikeruk. Kedudukan Durga, atau Parwati, atau Dewi Uma, di terminologi Hindu ini juga tak kalah pentingnya.

Rupanya, sebelum penemuan arca, para penggali tanah uruk pernah menemukan fondasi kuno. Dinding tebal dan panjang dengan susunan batu bata lebar itu juga terpendam di dalam tanah. Proses penemuan juga terjadi secara tak disengaja.

Baca juga: Menjajaki Benteng Marlborough, Jejak Penjajahan Inggris di Bengkulu

Alih- alih melaporkan, masyarakat malah memilih diam—yang disinyalir mungkin karena takut. Cerita itu kemudian keluar dengan sendirinya setelah arca Brahma dan Durga ditemukan.

“Saat itu lokasi penemuan arca menjadi tempat wisata dadakan,” ungkap Mujiono.

Konsep Arsitektur Magis

Menukil Kompas.com, dalam konteks simbol keagamaan, jumlah denah bidang itu mirip dengan konsep Vastu Purusha Mandala, konsep arsitektur magis dalam agama Hindu. Kompleks bangunan agama Hindu dibangun dengan konsep itu untuk mencegah kemarahan Vastu Purusha, raksasa yang diciptakan oleh Dewa Brahma.

Alkisah, raksasa itu tumbuh cepat, marah, dan melahap segala sesuatu di Bumi. Dewa lain membunuhnya namun Brahma membuatnya abadi. Vastu Purusha Mandala selain menjadi jawaban untuk mencegah kemarahan raksasa juga mempertimbangkan aspek kosmos lain, terutama energi.

Kembali ke lapangan. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan setelahnya, orang-orang pun berjubel-jubel berdatangan. Ada yang datang sendirian, ada juga yang tiba di sana bersama keluarga hingga rombongan besar. Mereka ini bukan hanya warga Kediri, tapi juga berasal dari luar kota.

Apalagi kabar dari mulut-mulut, dituturkan bahwa situs kuno ini akan menyaingi kebesaran Candi Penataran di Kabupaten Blitar. Petugas kepurbakalaan dari Trowulan Mojokerto juga datang, hingga menyusul kemudian kedatangan sejumlah ahli arkeologi yang ikut mengunjungi situs tersebut.

Tanah lapang seluas satu hektar milik warga bernama Kiran, Munawar dan Suryani itu pun langsung disterilkan.

Dengan perhitungan skala tertentu, titik-titik situs diukur dan ditetapkan. Lalu disusul dengan ekskavasi atau penggalian. Pada 19 Januari 2007, menyusul ditemukan arca Nandi. Dalam mitologi Hindu, Nandi atau Nandiswara merupakan lembu tunggangan Dewa Syiwa.

Dengan adanya dua arca nandi, teorinya patung Dewa Syiwa tidak akan jauh dari sana. Pada 26 Januari 2007, penggalian berlanjut dengan menemukan Lingga Yoni dan beberapa patung lain. Kondisinya berbeda-beda. Ada yang masih utuh. Pendaman tanah berates-ratus tahun tidak banyak berpengaruh. Namun beberapa patung lainnya sudah dalam kondisi yang tak sempurna. Yoni yang ditemukan terbuat dari batu putih. Tingginya 28 cm dengan kepala naga sebagai penyangga.

Arca Dewa Syiwa berkepala empat juga ditemukan. Demikian juga dua arca Dewa Candra atau Dewa Kesuburan serta arca Dewa Surya. Ekskavasi yang dilakukan marathon juga menemukan arca Ardhanari, arca Durga Mahesasuramardani, dan Resi Agastya. Arca Ardhanari melambangkan persatuan Dewa Syiwa dengan Parwati atau Btari Durga.

Keberadaan Ardhanari menunjukkan situs sejarah sebagai komplek Candi Hindu Syiwa. Ekskavasi juga berhasil memperlihatkan pagar gugus candi setebal 90 cm. Juga dinding kuno di sisi Timur dengan ketebalan 170 cm. Situs yang ditemukan diyakini memiliki benang merah dengan peninggalan Kerajaan Kediri kuno pada abad X.

Kisah mengenai Kerajaan Kediri kuno ini tak lepas dari mitologi Mpu Bharada dari yang diminta Raja Airlangga (Kerajaan Kahuripan) untuk membagi kerajaannya menjadi dua. Keduanya adalah Panjalu alias Kadiri yang beribukota di Daha, serta Jenggala di wilayah timur (sekarang Sidoarjo).

Cerita pembagian ini juga berhubungan erat dengan legenda Dewi Kilisuci, Calon Arang dan Raden Inu Kertapati atau Panji Asmarabangun. Airlangga sendiri lengser keprabon dan memilih madeg mandito ratu, yaitu menjalani hidup sebagai pendeta.

Berdasarkan literatur sejarah, Kerajaan Panjalu atau Kadiri dengan ibukota di Daha (Dahanapura) berdiri pada tahun 1104. Raja pertamanya bernama Jayawarsa.

Setelah Jayawarsa, kekuasaan dilanjutkan Raja Bameswara atau Kameswara I (1117-1130), Jayabaya (1135-1157), yakni dimana Panjalu dan Jenggala telah bersatu, Sarweswara (1161), Aryeswara (1169), Candra (1182), Kameswara II (1182-1185), dan Kertajaya (1190-1222).

Secara teori dan bukti bukti arkeologi, situs Tondowongso merupakan komplek bangunan suci peninggalan Raja Airlangga. Sepeninggal raja titisan Dewa Wisnu itu, komplek suci Tondowongso tak banyak berfungsi. Apalagi setelah kekuasaan berpindah ke tangan wangsa Rajasa (Ken Arok) di Singasari.

Bergesernya konsep keagamaan dari Hindu Siwa ke Siwa Sogata (Budha Siwa) juga turut mempengaruhi. Sayang ekskavasi temuan yang disebut-sebut merupakan yang terbesar sepanjang 30 tahun terakhir itu tidak berkelanjutan.

Saat ke lokasi, awak media hanya menjumpai situasi sepi yang sangat bertolak belakang dengan suasana tahun 2007 silam. Sudah tak ada lagi wisatawan yang berkunjung. Tak ada lagi keramaian. Di lokasi hanya terlihat sejumlah titik bekas galian yang ditinggalkan.

Bekas galian telah menjadi kubangan air hujan dengan beberapa tumpukan batu bata kuno yang terbengkalai. Arca yang ditemukan juga sudah tak ada di lokasi. Informasinya, seluruh bukti arkeologis itu diangkut ke Trowulan, Mojokerto.

Kendati papan bertulisan situs kuno Tondowongso masih terpasang, singkat kata situasi Dusun Tondowongso kembali lagi seperti dulu, yakni daerah sepi yang jauh dari permukiman warga.

“Kalau beberapa arca dibiarkan di lokasi, mungkin kunjungan wisatawan masih ramai seperti dulu. Tapi tentu resikonya rawan dicuri. Memang dilematis,” Mujiono menambahkan.

Saksikan informasi selengkapnya sebagaimana dilansir dari Kediri TV via YouTube: