Fahri Hamzah: Jokowi Kompor Paling Besar, Saya di Bawah


SURATKABAR.ID – Perihal pernyataan Presiden Jokowi soal ada banyak ‘kompor’ dalam Pemilu Presiden 2019, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah memberikan tanggapannya. Menurutnya, ‘kompor’ terbesar dalam kontestasi politik tersebut justru merupakan Presiden Jokowi itu sendiri. Sebelumnya, Jokowi mengungkapkan ada banyak ‘kompor’ dalam Pemilu Presiden 2019, sehingga antar tetangga sekalipun tak bertegur sapa lantaran perbedaan pilihan politik.

“Kompor, kompor yang paling besar itu ada di tangan presiden karena presiden tuh ngomong sedikit aja itu jadi diskusi nasional, ngomong sontoloyo ramai, ngomong genderuwo ramai, tabok jadi puisi malah,” beber Fahri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, (26/11/2018). Demikian sebagaimana dilansir dari WartaKota.com, Selasa (27/11/2018).

Meski begitu, Fahri juga tak menyanggah bahwa dirinya pun kerap ‘mengompori’ dalam dunia politik. Namun, menurutnya sumbu ‘kompor’ yang paling besar ialah Jokowi.

“Jadi Pak Jokowi adalah pemegang sumbu kompor yang paling besar. Jadi ya sadari itu, jangan engga disadari,” tukasnya.

Walaupun demikian, Fahri meminta dalam Pilpres 2019 yang harus dikedepankan adalah perdebatan substantif—yakni perdebatan yang berimbas langsung terhadap kehidupan masyarakat.

Baca juga: Beda Capres Berujung Maut, Inikah Potret Buram Demokrasi Indonesia?

“Yang penting itu, jangan kompornya dipakai untuk bakar rumah gitu, tapi dipakai untuk bakar ikan yang kita akan sajikan bagi rakyat, begitulah kira-kira metafornya. Jadi Pak Jokowi jangan khawatir sebab kompor paling besar itu Pak Jokowi. Saya ini paling di bawah, ya kan? Paling besar itu Pak Jokowi,” ujarnya dalam menanggapi diksi ‘tabok’, ‘genderuwo’, dan ‘sontoloyo’ yang disampaikan Jokowi.

Saat ini, fenomena permusuhan antarwarga akibat perbedaan pilihan politik membuat Presiden RI Ir. Joko Widodo (Jokowi) jadi merasa prihatin. Belum lagi dengan semakin banyaknya tersebar berita bohong (hoax) di kalangan warganet dunia maya.

Presiden lantas mengingatkan, saat ini, ada pihak yang sengaja memanas-manasi situasi untuk memecah belah persatuan bangsa.

“Saya kadang-kadang geleng-geleng kepala. Ini satu kampung, satu RT atau RW, tidak saling sapa gara-gara pilihan bupati, gubernur, atau presiden. Ada majelis taklim gara-gara pilihan presiden tidak saling menyapa,” ujar Joko Widodo (Jokowi) saat menyampaikan sambutan setelah menerima gelar adat Rajo Balaq Mangku Nagara di Griya Agung, Palembang, Minggu (25/11/2018) pagi.

Jokowi menyampaikan, ia terkadang heran melihat perbedaan pilihan politik yang bisa membuat sesama saudara jadi saling tak bertegur sapa. Padahal, pemilihan bupati, gubernur, presiden, dan wali kota rutin berlangsung setiap lima tahun.

“Kita ini saudara, sebangsa, dan setanah air. Jangan lupakan itu. Ini karena banyak ‘kompor’, karena dipanas-panasi, dikompor-kompori, jadi panas semuanya,” tukasnya.

Sementara itu, sejumlah kalangan juga turut menyatakan keprihatinannya atas dampak jelang pilpres 2019 mendatang. Pasalnya, ada warga yang sampai tewas ditembak karena perbedaan pilihan capres yang didukungnya.

[wpforms id=”105264″ title=”true” description=”true”]