Beda Capres Berujung Maut, Inikah Potret Buram Demokrasi Indonesia?


SURATKABAR.ID – Insiden penembakan yang bermula dari perdebatan soal beda pilihan capres di media sosial Facebook berujung menewaskan Subaidi. Tak ayal, masyarakat dibuat gempar oleh peristiwa tersebut. Diketahui, insiden tersebut terjadi di Sokobonah, Sampang, Madura, Jawa Timur, Rabu (21/11/2018) lalu. Menurut pengamat politik Karyono Wibowo, kasus ini merupakan peringatan serius. Ia menegaskan, masyarakat harus belajar bahwa esensi demokrasi adalah menghormati perbedaan.

Mengutip laporan Republika.co.id, Selasa (27/11/2018), awalnya korban Subaidi dan pelaku bernama Idris sempat terlibat debat di Facebook lantaran mereka berbeda pilihan terkait calon presiden yang diunggulkan.

Menurut pengamat politik Karyono Wibowo, kasus ini harus menjadi pelajaran bagi elite politik di Indonesia terutama mereka yang tengah terlibat dalam kontestasi Pilpres 2019 saat ini.

“Peristiwa ini harus menjadi peringatan serius bagi siapapun yang terlibat dalam kompetisi pemilu agar tidak selalu melontarkan pernyataan yang menyudutkan lawan politiknya dengan cara-cara antagonis dan sarkastik,” kata Karyono, Senin (26/11/2018) malam.

Ia menambahkan, suasana panas yang terjadi di tingkat elite juga telah menjalar ke masyarakat. Insiden penembakan yang terjadi Kabupaten Sampang, Madura itu membuktikan telah terjadi polarisasi politik yang serius di tengah masyarakat.

Baca juga: Erick Thohir Soal Wacana Hapus Pajak Motor: Coba Berhitung Dulu Secara Matematika

Lebih lanjut Karyono memperinci, peristiwa ini bisa menjadi sinyal potensi konflik di Pilpres 2019 yang tak boleh dianggap enteng. Itulah sebabnya semua pihak terutama aparat keamanan, peserta dan penyelenggara pemilu harus mengantisipasi agar jumlah konflik menjelang pilpres tidak bertambah.

Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute (IPI) ini menuturkan, kejadian ini kian menegaskan bahwa media sosial rawan menimbulkan segregasi (pengucilan) dan konflik sosial.

“Hal itu harus menjadi pembelajaran publik pengguna sosial agar menggunakan etika dan kesantunan dalam berkomunikasi di media sosial,” tandasnya kemudian.

Potret Buram Demokrasi Indonesia

Selain itu, Karyono memaparkan, peristiwa duel antarpendukung capres berbeda yang berujung maut tersebut merupakan potret buramnya demokrasi di Indonesia.

Menurutnya, masyarakat masih perlu belajar mengenai demokrasi. Terutama bahwa salah satu esensi demokrasi ialah menghormati perbedaan, termasuk perbedaan pilihan politik.

“Orang yang berbeda pendapat dan berbeda pilihan dalam kontestasi elektoral jangan dianggap sebagai musuh,” tegasnya.

Bagaimanapun, imbuhnya, Pemilu hanyalah salah satu instrumen atau sarana demokrasi sebagai perwujudan kedaulatan rakyat untuk memilih pemimpin, bukan pertarungan hidup dan mati.

Selain itu, Karyono juga menegaskan, para elite politik berkewajiban memberikan pendidikan politik, terutama kepada konstituennya, serta memberikan contoh perilaku politik yang sesuai dengan nilai-nilai demokrasi dan sesuai konstitusi.

“Jika masyarakat belum bisa menerima perbedaan, sementara elite politik justru mempertajam perbedaan, apalagi dengan menggunakan isu politik dan identitas maka pemilu bisa menjadi ajang konflik,” tukasnya.

Sebelumnya, melansir TribunNews.com, korban Subaidi tewas ditembak pelaku bernama Idris. Pelaku menggunakan pistol rakitannya sendiri. Semua diketahui berawal dari status Facebook yang bermuatan mengenai calon presiden dan Pilpres 2019.

Tindakan tersangka Idris ini dijaring pasal berlapis karena telah melakukan pembunuhan berencana serta memiliki senpi dengan acaman hukuman 20 tahun penjara atau seumur hidup.