Hobi Bilang ‘Kamu Gendut’? Hati-Hati, Hukuman 9 Bulan Hingga 6 Tahun Penjara Menanti yang Suka Komen Soal Fisik


SURATKABAR.ID – Suka seenak hati mengeluarkan komentar tentang bentuk fisik seseorang di media sosial? Sebaiknya mulai sekarang hentikan kebiasaan itu kalau tidak ingin berurusan dengan hukum. Pasalnya, celetukan seperti ‘Kamu gendutan’ bisa digolongkan dalam kasus body shaming.

Diwartakan JPNN.com pada Minggu (25/11/2018), seringkali teman-teman atau orang-orang di sekitar kita yang melontarkan body shaming hanya bermaksud untuk bergurai saja. Tanpa disadari, bahkan saudara dan orangtua sendiri bisa saja melakukan body shaming.

“Ancaman hukuman penghinaan ada di KUHP Pasal 310, dengan pidana 9 bulan,” ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sulawesi Utara Kombes Pol Ibrahim Tompo, seperti dikutip JPNN.com dari Manado Post (Jawa Pos Group).

Selain itu, dalam Pasal 27 Ayat 3 Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik (UU ITE), disebutkan bahwa setiap orang yang dengan sengaja atau tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang mengandung unsur penghinaan dan/atau pencemaran nama baik, bisa dipidana penjara atau didenda sebanyak-banyaknya Rp 750 juta.

Baca Juga: Biadab! Saksikan Bos Restoran Celupkan Wajah Karyawan ke Air Mendidih, yang Dilakukan Pengunjung Bikin Naik Pitam

Adapun ketentuan tersebut termasuk kepada delik aduan dan mengacu pada ketentuan pencemaran nama baik dan/atau fitnah seperti yang sudah diatur di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

“Namun dengan menggunakan penyebarannya dengan sarana media sosial, akan bisa ditambah dengan Pasal 27 Undang-Undang ITE, dengan ancaman hukuman lebih berat, yaitu 6 tahun,” imbuh Kombes Pol Ibrahim Tompo.

Ia mengungkapkan bahwa korban body shaming diperbolehkan melaporkan hak tersebut ke polisi. Akan tetapi laporan baru bisa diterima jika ada unsur penghinaan, menjatuhkan harkat dan martabat, serta diketahui oleh banyak orang dalam perkataan yang dianggap mengandung unsur body shaming itu.

Untuk mengajukan laporan, sama halnya seperti jika seseorang melaporkan dugaan pencemaran nama baik terhadap dirinya. “Boleh lapor polisi,” tegas Tompo.

“Kata-kata yang dinilai menghina atau masuk dalam kategori body shaming merupakan perkataan yang bisa menyakiti orang lain dan mengganggu serta membuat korban merasa tidak nyaman,” tandas mantan Wadireskrimsus Polda Maluku Utara tersebut.

Body Shaming di Mata Psikolog

Sementara itu, soal body shaming dilihat dari sudut pandang psikologis, bisa digolongkan dalam kategori bullying. Pasalnya, praktik bullying dalam bentuk apa pun sudah termasuk tindak kekerasan. “Kekerasan itu bukan hanya fisik, tapi juga verbal,” jelas Hanna Monareh Mpsi dari Psikolog Klinis.

“Mengatakan kata-kata negatif pada orang lain, misalnya berat badan gemuk, atau sebaliknya, kurus, secara terus-menerus dapat mempengaruhi perkembangan psikologis seseorang,” imbuh Ketua Ikatan Psikolog Klinis Sulawesi Utara tersebut.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda-beda dalam penerimaan. Ada yang termasuk easy going. Mereka akan menganggap itu adalah hal biasa. Yang menjadi masalah jika orang itu memiliki kepribadian yang tertutup.

Orang-orang seperti ini cenderung akan menyimpan emosinya hingga menimbulkan stres dan depresi. “Bisa saja melakukan perilaku yang merugikan dirinya, yakni melukai bahkan bisa sampai bunuhdiri hanya karena dari kata-kata,” tandasnya.

Pakar Hukum Toar Palilingan MH turut bersuara. Ia mengimbau pentingnya edukasi serta sosialisasi kepada masyarakat, terutama para pengguna media sosial untuk lebih bijak. Dengan begitu tidak ada lagi praktik kekerasan, atau setidaknya bisa diminimalisir.

“Dengan edukasi yang terstruktur dan bertahap, pasti tingkat penggunaan medsos untuk melakukan tindakan seperti itu (body shaming) akan menurun. Karena masyarakat sudah tahu konsekuensi hukumnya seperti apa,” jelas Palilingan.

Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi tersebut menambahkan, setiap komentar berbau body shaming sangat bisa dijerat dengan pasal penghinaan. “Secara hukum, seseorang yang merasa dihina dapat melakukan upaya pengaduan kepada aparat penegak hukum setempat,” pungkasnya.