Terpidana Jonru Ginting Resmi Dibebaskan, Tak Disangka Ini Alasannya


SURATKABAR.ID – Terpidana kasus ujaran kebencian Jon Riah Ukur alias Jonru Ginting resmi menghirup udara bebas pada Jumat (23/11) kemarin. Kabar kebebasan kliennya tersebut dibenarkan oleh kuasa hukum Jonru, Djudju Purwanto.

Seperti diwartakan Tempo.co pada Jumat (23/11/2018), Djudju mengungkapkan bahwa rencana bebas kliennya sudah sejak bulan lalu diurus. Ia menuturkan alasan Jonru bebas. Menurutnya, Jonru sudah menjalani dua pertiga masa hukumannya terkait kasus ujaran kebencian.

“Bebas pada hari ini (Jumat, 23/11) pukul 3 sore,” tutur Djudju ketika dimintai konfirmasi pada Jumat (23/11). Ia kemudian menyebut bebasnya Jonru merupakan bebas bersyarat. “Menurut perhitungan kan sudah bisa bebas bersyarat gitu ya,” imbuhnya.

Terkait bebasnya Jonru sontak membuat beberapa pihak bereaksi. Mereka mengaitkan hal tersebut dengan acara reuni 212 yang rencananya akan digelar awal bulan Desember, di mana tinggal menghitung hari ini.

Seperti yang diketahui, acara 212 yang digelar pada 2 Desember 2016 silam merupakan demonstrasi besar-besaran menuntut penyelesaian kasus penistaan agama yang melibatkan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Baca Juga: Tanggapan Mengejutkan dari Jonru Ginting Usai Dituntut 2 Tahun Penjara

Namun terkait tudingan bebasnya sang klien berkaitan dengan acara reuni 212, Djudju menampiknya. “Tak ada kaitannya dengan isu reuni 212. Bebas itu adalah haknya beliau karena sudah menjalani dua pertiga dari masa hukumannya,” tegas Djudju.

Jon Riah Ukur alias Jonru Ginting dinyatakan bersalah dalam kasus ujaran kebencian oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur dalam sidang yang digelar pada Jumat (2/3) lalu. Majelis hakim kemudian menjatuhi Jonru pidana penjara selama 1 tahun 6 bulan dan denda Rp 50 juta.

Setelah sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka , Jonru Ginting langsung ditahan penyidik Ditkrimsus Polda Metro Jaya pada Jumat (29/9) tahun lalu. Ada pun pihak yang melaporkan Jonru adalah Muannas Alaidid lantaran tulisan di media sosial Facebook yang dinilai mengandung pelanggaran unsur SARA.