Toko Retail Banyak yang Tutup, Jokowi: Salah Mereka Gak Ngikutin Zaman


SURATKABAR.IDBeberapa waktu lalu, isu penurunan daya beli masyarakat sempat memanas. Rumor tersebut muncul lantaran beberapa dari toko retail banyak yang tutup di sejumlah wilayah Nusantara.

Melansir JawaPos.com, Jumat (23/11/2018), Presiden Joko Widodo (Jokowi) kemudian menanggapi fenomena ini. Ia mengakui jika pergeseran pola konsumsi masyarakat dari offline menuju online memang ada. Sehingga, tak heran jika ada toko-toko retail offline yang akhirnya terpaksa harus tutup.

“Contoh isu daya beli. Pak ini turun. Saya berikan angka. Ini ada pergeseran dari online ke offline. Jadi kalau ada toko tutup itu ya karena ini,” imbuh Jokowi dalam Rakornas Kadin di Jakarta, Selasa (03/10/2018).

Mantan Wali Kota Solo itu juga menuturkan bahwa pihaknya (pemerintah) tidak ingin disalahkan atas banyaknya toko retail yang tutup. Sebab, sudah seharusnya para pelaku usaha memahami kondisi konsumsi masyarakat yang terus berubah seiring berjalannya zaman.

“Kalau mereka tutup ya salah mereka nggak ikutin zaman,” tandasnya.

Baca juga: Pidato in English, Prabowo Sindir Pemerintah Tutupi Realita Ekonomi RI

Sejumlah Retail Sudah Diprediksi Tutup di 2018

Mengutip Finance.Detik.com terbitan Rabu (03/01/2018) lalu, perubahan pola konsumsi masyarakat Indonesia yang berujung pada penutupan sejumlah toko retail ini sudah diprediksikan.

Disebutkan bahwa pengusaha ritel pada 2018 ini harus memutar otak agar tak kalah saing dan berguguran seperti tahun lalu. Sebut saja deretan namanya seperti 7-Eleven, Lotus, hingga Debenhams, yang tahun lalu harus hengkang dari Indonesia karena tertekan berbagai faktor.

Ditambah lagi, Matahari dan Ramayana juga menutup sejumlah gerainya di beberapa daerah.

Leisure

Salah satu faktor yang santer terdengar yakni perubahan pola konsumsi masyarakat. Saat ini masyarakat dianggap lebih sering belanja pengalaman ketimbang barang. Belanja pengalaman ini biasa disebut leisure, contohnya liburan dan jalan-jalan.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey menuturkan, saat ini konsep yang cocok diterapkan oleh pebisnis ritel ialah mixed use atau multifungsi lantaran melihat pola konsumsi masyarakat yang berubah itu.

“Bisnis modelnya menjadi ada macam-macam, tidak hanya department store atau hypermarket aja, tapi juga ada kuliner, ada food court, ada entertainment-nya,” ujarnya pada Rabu (03/01/2018), mengutip detikFinance.

Dengan adanya perubahan konsep (reformat) itu, maka tak heran jika tahun ini diperkirakan bakal ada lagi gerai retail yang tutup. Hanya saja tutupnya gerai ini lebih diperuntukkan mengubah konsep atau sekadar relokasi.

Ia menyebutkan, sejumlah retail diperkirakan akan tutup tahun ini, tapi itu bertujuan untuk mengubah konsep bisnis.

“Tahun ini melihat dampak dari yang 2017 ini kelihatannya 2018 juga ini akan menjadi hampir sama akan ada beberapa lokasi yang tokonya harus tutup dulu untuk dipindahkan ke lokasi yang baru. Itu pertama. Kemudian kalau pun ada penutupan lagi akan ada yang reformat lagi,” demikian ia menerangkan.

Menurutnya, dengan adanya tuntutan dari konsumen terhadap pemenuhan kebutuhan yang tak sekadar belanja barang, maka wajar jika tahun ini masih ada gerai-gerai yang tutup sebab butuh penyesuaian.

“Ini juga bagian daripada teman-teman ritel, sedang memikirkan konsep dan mempersiapkan relokasi-relokasi yang baru yaitu size tidak harus besar sekarang,” ungkap Roy.

Saat ini, dia menilai bahwa ukuran gerai atau format retail tak harus besar. Konsumen lebih menginginkan belanja secara cepat, dan apa yang mereka butuhkan dapat terpenuhi, kemudian sesuai harga.

“Sekarang formatnya mungkin dengan ada beberapa yang mengecilkan atau downsize ukuran toko, kemudian karena di downsize ada yang kosong kan (space). Kosongnya itu ditambah dengan food court, kuliner atau ditambah dengan entertainment sehingga konsep yang mixed use dapat terjadi lebih optimal,” tambah Roy.