Bahaya! Memberi Anak Ponsel Sama Saja dengan Memberinya Kokain


SURATKABAR.ID – Di era digital dewasa ini, melihat anak-anak bermain gawai di tangannya merupakan hal yang biasa. Akan tetapi, seorang terapis kecanduan dari Inggris mengungkapkan, memberikan ponsel ke anak sama seperti “memberinya satu gram kokain”. Pasalnya, waktu yang dihabiskan seseorang untuk mengirim pesan di aplikasi percakapan atau membalas komentar di social media dapat menyebabkan kecanduan pada anak remaja—sama seperti halnya alkohol dan narkoba.

Mengutip laporan LifeStyle.Kompas.com, Rabu (21/11/2018), spesialis kecanduan dari klinik rehabilitasi Harley Street London, Mandy Saligari, menuturkan bahwa kecanduan gadget seharusnya juga diatasi seperti halnya kecanduan narkoba.

“Saya selalu mengatakan, saat Anda memberikan tablet atau ponsel ke anak, itu seperti memberikan mereka sebotol wine atau segram kokain. Apakah kita siap membiarkan mereka dengan benda itu di balik pintu?” ujarnya.

Mandy lalu menjabarkan, penggunaan gawai yang berlebihan itu berdampak sama pada otak seperti halnya obat-obatan terlarang.

“Saat membicarakan perilaku kecanduan, biasanya orang langsung melihat pada zat berbahaya. Padahal, pola perilaku itu bisa mewujud dalam berbagai bentuk, misalnya obsesi pada makanan, melukai diri, atau mengirim teks bernuansa s**s,” tukasnya kemudian.

Baca juga: Pria Jepang Ini Rela Nikahi Wanita Hologram, Bagaimana Rasanya?

Di kliniknya, Mandy Saligari menuturkan bahwa dua pertiga pasiennya ialah remaja berusia 16-20 tahun. Mandy menyebut peningkatannya sangat dramatis dalam 10 tahun terakhir. Dalam survei terbaru yang melibatkan 1.500 guru di Inggris terungkap bahwa dua pertiga responden mengaku sadar murid mereka berbagi konten bernuansa seksual, dan sekitar 1 dari 6 anak telah melakukannya sejak usia SD.

“Banyak pasien saya yang baru berusia 13-14 tahun dan melakukan sexting menganggap itu adalah hal yang normal,” sebutnya lagi.

Ironisnya, perilaku sexting itu bukan hanya mengirimkan kata-kata bermuatan s**s saja, tapi juga mengirimkan foto diri tanpa busana. Hal itu dianggap normal jika orangtua atau orang dewasa tidak mengetahuinya.

Saligari menerangkan, jika anak sejak kecil sudah diajarkan untuk menghargai dirinya, perilaku mengeksploitasi diri seperti itu tidak mungkin terjadi.

“Ini adalah isu menghargai diri dan identitas diri,” tandas Mandy.

Agar Anak Terhindar dari Sexting

Bertukar konten seksual atas nama sexting kini bukan jadi hal yang mustahil lagi untuk dilakukan anak kecil. Pembiaran konsumsi pornografi pada anak ini tentunya mempunyai dampak laten. Perilaku sexting di usia dini menjadi perhatian psikolog anak Elizabeth T. Santosa. Dalam bukunya yang berjudul Raising Kids in Digital Era (2014), dijelaskan mengenai arti dari sexting itu sendiri.

Sexting adalah perilaku mengirim, menerima atau meneruskan pesan dan foto yang berkonten seksual melalui telepon genggam, komputer dan alat digital lain,” tulis Elizabeth, melansir reportase Kumparan.com yang terbit Selasa (02/01/2018).

Jika perilaku sexting telah terjadi pada anak, maka orang tua sebaiknya langsung melakukan sejumlah cara agar perilaku itu tidak bertambah parah. Lizzie, demikian sapaan akrabnya, juga menjelaskan lebih lanjut mengenai tips yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mengatasi perilaku sexting pada anak.

Simak daftarnya sebagai berikut:

  1. Tegaskan Buruknya Pornografi

Membicarakan kehidupan orang dewasa kepada anak memang bukan perkara mudah. Tapi mau tak mau Anda harus memulai pembicaraan tentang pornografi dengan anak, khususnya perilaku sexting. Tegaskan sejak awal bahwa sexting merupakan hal buruk.

  1. Dengar dan Pelajari Pemahaman Anak soal Sexting

Tanyakan kepada anak, sejauh mana mereka mengetahui tentang sexting dan pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari. Lalu jelaskan pengertian sexting sesuai dengan usia mereka. Katakan bahwa anak perlu paham dan waspada mengenai isi percakapannya dengan orang lain; entah itu melalui telepon genggam, smartphone atau internet yang bisa dikategorikan sexting.

Contohnya, saat anak menerima atau mengirim gambar-gambar yang tidak pantas seperti memperlihatkan sosok yang tidak memakai baju, gambar anak atau orang dewasa yang sedang berpelukan, bersentuhan atau berciuman tanpa baju. Buatlah agar anak waspada dalam berkomunikasi dengan orang lain.

  1. Tegaskan Bahwa Sexting adalah Kejahatan

Sexting bukan hanya menjadi masalah yang serius untuk Anda dan sang anak, namun juga merupakan tindak kejahatan yang perlu segera ditindaklanjuti. Jelaskan beberapa konsekuensi dari perilaku sexting yang dapat melibatkan pihak yang berwajib (polisi) atau pihak lainnya yang berkaitan pada anak, misalnya saja berupa drop out (DO) dari sekolahnya.

Peringatkan anak agar terus berhati-hati dan tak mudah memberikan dokumentasi pribadinya kepada orang lain. Terlebih jika itu merupakan gambar dirinya sendiri yang bisa dengan mudahnya disebarluaskan di internet.

  1. Jelaskan Sexting dengan Suatu Perumpamaan

Lizzie mengatakan, hal ini berlaku untuk anak-anak yang masih di bawah umur, seperti kisaran usia 5-9 tahun. Menjelaskan sexting dengan menggunakan suatu perumpamaan akan menjadi cara yang lebih efektif.

Contohnya yakni dengan menjelaskan jika anak membeli barang curian yang dijual bebas di supermarket, tanpa mengetahui barang itu merupakan barang curian, maka anak tetap bisa dikenakan sanksi sebagai pihak yang terlibat dalam pencurian.

Ini sama halnya dengan sexting, karena siapa pun yang ikut menyebarluaskan konten pornografi tersebut, maka sama saja posisinya sebagai pembeli di supermarket yang dihukum, pada cerita sebelumnya.

Kendati tidak dipenjara, namun bisa saja pelaku mendapat sejumlah sanksi lainnya dari pihak sekolah. Belum lagi sanksi sosial seperti dipermalukan oleh teman-teman lainnya.

  1. Pastikan Anak Memahami Penjelasan Anda

Pastikan anak Anda benar-benar paham atas sejumlah pembahasan dan pengertian yang Anda berikan kepadanya. Lebih dari itu, pastikan pula agar dalam perilakunya sehari-hari, anak terus waspada dan berhati-hati, agar terhindar dari perilaku sexting.

Namun, jika anak justru merasa tak nyaman setelah diberikan pemahaman, Anda harus segera meminta bantuan pihak lain seperti guru, psikolog, atau orang terdekat lainnya.