Heboh Ibu Tega Ikat Anak di Pohon, Fakta Dibaliknya Bikin Nyesek


SURATKABAR.ID – Seorang wanita bernama Susilawati diamankan Satpol PP setelah beredar foto tentang dia dan anaknya, RS. Dalam foto yang mendadak viral tersebut, terlihat RS terikat di sebuah pohon di RTH Imam Bonjol, Padang.

Dalam foto yang beredar, terlihat perut RS dilingkari sebuah tali yang terikat ke pohon. Bocah 12 tahun tersebut juga ditampilkan di media masa.

Judul-judul berita pun sangat menguras emosi, yakni menyatakan soal ibu kandung yang tega mengikat anaknya di pohon. Akibatnya, banyak yang beranggapan bahwa Susilawati adalah ibu yang kejam.

Padahal, ada kenyataan pahit di balik foto-foto dan berita viral tersebut. Bahkan, ia mengaku sedih dengan pandangan pedagang dan pejalan kaki di kawasan RTH Imam Bonjol.

“Saya sedih melihat anak saya sendiri difoto dalam kondisi terikat seolah seperti hewan yang diikat. Padahal mereka tak tau apa yang saya alami. Mereka tak paham bahwa anak ini saya ikat demi keselamatan dia, saya sayang dia,” tegas Susilawati di sudut RTH Imam Bonjol, Selasa (20/11/2018).

Baca juga: Seorang Wanita Nekat Kejar Pesawat di Landasan Pacu, Begini Nasibnya Setelah Kejadian

Wanita yang menyambung hidup dengan berjualan rokok eceran kepada sopir angkutan kota (angkot) di sekitar Pasar Raya Padang tersebut mengaku dirinya hanya ingin merawat sang anak.

Ia menuturkan, selalu mengajak sang anak kemanapun ia pergi, termasuk saat berjualan. “Saya bawa RS ke mana-mana. Justru saya kasihan sama dia karena fisiknya lemah. Kalau terlihat lelah, saya istirahatkan dia di tempat teduh,” terangnya.

Susilawati pun mengungkap kondisi RS yang mengalami keterbelakangan mental. Ia mengaku, awalnya tak mengetahui bahwa ada perbedaan pada RS saat bayi. Baginya, RS tumbuh seperti bayi pada umumnya.

“Saat anak saya dua tahun, saya curiga karena dia belum bisa jalan. Dia juga belum bergumam atau mulai bicara. Perkembangannya lambat, hingga usia empat tahun baru bisa berjalan,” katanya.

Hingga kemudian, di usia RS yang keenam tahun, Susilawati yakin bahwa anaknya mengalami keterbelakangan mental. Namun, karena kondisi ekonomi, ia tak bisa membawa RS ke dokter.

Ia pun takut anaknya kesakitan menjalani perawatan medis. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk merawat RS seorang diri. Ia juga menolak tawaran dari sejumlah panti asuhan yang akan merawat anakya.

Bahkan, bantuan dari Wali Kota Padang Mahyeli Ansharullah agar anaknya dibina di Dinas Sosial juga pernah ditolaknya. “Biarlah anak ini dengan saya. cuma anak ini pelipur lara saya,” tukasnya.