Sebarkan Hoax Foto Syur Grace Natalie, Begini Pengakuan Topan Saat Datangi Kantor DPP PSI


SURATKABAR.ID – Topan Pratama, salah satu pelaku yang menyebarkan berita bohong dan hoaks foto tak senonoh Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie melalui media sosial akhirnya meminta maaf secara langsung. Ia mendatangi Kantor DPP PSI di Jakarta Pusat, Senin (19/11).

Topan, seperti dilansir dari CNNIndonesia.com, sebelumnya dilaporkan oleh PSI ke Polda Metro Jaya bersama tujuh orang lainnya terkait penyebaran foto Grace. Dalam unggahan di jejaring sosial Facebook, gambar Grace diedit sedemikian rupa menjadi seolah-olah berpose tidak pantas.

Pria yang masih memiliki hubungan pertemanan dengan salah seorang pengurus DPP PSI Banten ini menyampaikan permintaan maafnya di hadapan pengurus PSI. Dalam kesempatan tersebut, Grace juga terlihat hadir.

“Jadi dia mencoba menghubungi untuk mengklarifikasi dan minta maaf secara langsung,” ujar Grace dalam konferensi pers usai pertemuannya dengan Topan yang berprofesi sebagai pengemudi taksi berbasis online tersebut.

Di saat yang sama, Topan buka suara mengakui bahwa dirinya hanya membagikan foto tanpa membaca tulisan pada unggahan tersebut terlebih dahulu. Dalam posting itu terdapat keterangan yang menuding Grace adalah bintang majalah bermuatan orno disertai kalimat yang mencemarkan PSI.

Baca Juga: Dilaporkan ke Polisi atas Dugaan Penistaan Agama, Ketum PSI Grace Natalie Santai Beri Tanggapan Ini

“Iya, itu saya dapatkan dari atas-atasnya. Saya kan dapat berita dari atasnya di beranda. Saya cuma nerusin aja,” jelas pria yang baru menyadari kesalahannya dari berita di media massa, di mana disebutkan dirinya menjadi salah satu orang yang dilaporkan PSI ke polisi.

Grace mengapresiasi sikap Topan yang mau meminta maaf secara langsung. Ia pun mengimbau kepada masyarakat untuk tidak mudah membagikan postingan yang memuat berita bohong. “Pembelajaran ke publik agar ke depan jangan ada lagi hoaks. Kita cek-cek info sebelum menyebarkan sesuatu,” ujarnya.

Atas perbuatannya, Topan dijerat Pasat 28 Ayat (2) Undang-Undang No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Dalam pasal tersebut dijelaskan kasus penyebaran kebencian yang berbasis SARA. Selain itu, Topan juga terancam Undang-Undang No. 44 Tahun 2008 tentang Pornogtafi.

Kuasa Hukum Partai Solidaritas Indonesia Muannas Al-Aiddid mengungkapkan bahwa pihaknya masih tak dapat memastikan apakah kasus tersebut akan diteruskan atau tidak. Ia sendiri mengaku ingin mencabut kasus ini, namun hal itu diakuinya lepas dari kewenangannya.

“Surat pernyataan maaf ini nantinya akan kita bantu untuk kita komunikasikan dengan pihak penyidik agar bisa dicabut. Walaupun sebenarnya bukan kewenangan kita,” tutur Muannas Al-Aiddid ketika dimintai konfirmasi.