Ngeri! YLKI Sebut Pinjaman Online Sadap Data Pribadi untuk Ancam Pengguna


SURATKABAR.ID – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) meminta masyarakat untuk tetap waspada dalam melakukan peminjaman uang melalui aplikasi financial technology (fintech) peer to peer lending atau pinjaman online.

YLKI memberikan peringatan atas banyaknya laporan dari masyarakat yang telah menjadi korban aplikasi tersebut. Tak sedikit, pengguna yang merasa dirugikan oleh sejumlah aplikasi yang ada.

Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi menuturkan, bisnis pinjaman online ini terus berkembang dari hari ke hari.

“Sementara ribuan konsumen merana, menjadi korban,” kata Tulus dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (18/11/2018), dikutip dari tempo.co.

Baca juga: 54 Industri yang 100 Persen Sahamnya Jokowi Izinkan Dikuasai oleh Asing

Diketahui, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta sampai membuka pos pengaduan bagi para peminjam yang menggunakan aplikasi pinjaman online tersebut.

Menurut pengacara publik LBH Jakarta, Jeanny Silvia Sari Sirait, sejak pos pengaduan dibuka pada 4 November 2018 lalu hingga 7 November 2018 kemarin, ada 300 aduan yang diterima lembaganya,

Oleh karena itu, YLKI memperingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dlam melakukan pinjaman online. Selain itu, YLKI juga memberikan sejumlah saran bagi masyarakat yang ingin melakukan pinjaman online.

Pertama, menyarankan masyarakat memilik aplikasi dengan besaran bunga atau komisi dan denda harian yang paling rendah. Kedua, tak mudah tergiur dengan iklan atau promosi pinjaman online yang terlihat menguntungkan.

Ketiga, masyarakat diminta membaca dengan cermat ketentuan teknis yang dibuat oleh pihak penyedia pinjaman online. Selain itu, juga memastikan bahwa pinjaman online tersebut sah dan terdaftar di Otoritas Jasa Keungan (OJK).

“Saat ini terdapat 300-an pinjol beroperasi di Indonesia, tetapi yang berizin hanya 70-an saja,” terang tulus.

Sedangkan saran keempat adalah mengetahui cara pembayaran, penagihan, besaran denda harian, dan besaran komisi atau bunga. “Pilihlah pinjaman dengan besaran bunga atau komisi dan denda harian yang paling rendah,” katanya.

Selanjutnya, agar masyarakat membayar tepat waktu atau tak membayar melewati jatuh tempo. Terakhir, masyarakat diminta melapor ke polisi jika terjadi dugaan penyadapan atau penyalahgunaan data pribadi secara berlebihan.

“Waspadalah! Pinjaman online akan menyadap seluruh data pribadi yang ada pada telepon seluler anda, yang akan dijadikan alat untuk menekan jika menunggak,” beber Tulus.

Selain itu, YLKI juga menyarankan agar masyarakat melalukan pinjaman online karena situasi darurat saja.