Soroti Kasus Baiq Nuril, Tanggapan PBNU Mengejutkan


SURATKABAR.ID – Kasus Baiq Nuril kini tengah menjadi sorotan banyak pihak. Pasalnya, Nuril yang dianggap sebagai korban malah dijatuhi hukuman enam bulan penjara dan denda Rp 500 juta oleh Mahkamah Agung (MA).

Menanggapi kasus ini, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga turut memberikan komentar. Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini mempertanyakan putusan MA.

Seperti masyarakat kebanyakan, Helmy menyebutkan bahwa PBNU menyesalkan putusan tersebut. Selain itu, PBNU juga meminta majelis hakim dapat mengevaluasi putusannya.

“Kami sangat menyesalkan sekaligus mempertanyakan putusan MA tersebut,” tegas Helmy, Minggu (18/11/2018), dikutip dari jawapos.com.

Baca juga: MA Putuskan Baiq Nuril Terbukti Bersalah, Hotman Paris Beri Solusi Bijak Ini

Helmy melanjutkan, seharusnya dalam menyelesaikan kasus ini MA melihat secara jernih duduk perkara permasalahan tersebut. Dengan begitu memutus secara adil.

“Harus hati-hati dan jernih melihat persoalan. Itulah yang harus dilakukan oleh Hakim. Ini pelajaran buat kita bersama,” katanya.

Selain itu, menurut Helmy kasus ini merupakan momentum yang tepat bagi jajaran hakim MA untuk melakukan evaluasi kembali soal implementasi UU ITE. “Harus ada evaluasi. Jika tidak kelak dikhawatirkan akan memakan korban lagi,” tuturnya.

Helmy juga meminta kepada pemerintah untuk segera bertindak dengan melakukan revisi terhadap UU ITE, khususnya uang berhubungan dengan kebijakan pidana yang banyak menyimpang.

“Pemerintah harus turun tangan untuk memperbaiki keadaan,” tegas Helmy.

Sebelumnya, dikabarkan Baiq Nuril Maknun merupakan seorang mantan tenaga honorer di salah satu SMA Negeri di Mataram.

Awalnya, pada 2017 lalu, Baiq Nuril sering ditelepon oleh kepala sekolah SMA tempatnya bekerja yang berinisial M. Namun, saat berbicara dengan Baiq Nuril, M malah menceritakan pengalaman berhubungan badan dengan wanita yang bukan istrinya.

Merasa oborolan M tak pantas, Baiq Nuril langsung merekam pembicaraan tersebut. Ia tak ingin jika dirinya dituduh memiliki hubungan gelap dengan sang kepala sekolah.

Namun, rekaman tersebut kemudian menyebar. Tapi, bukan atas kehendak Baiq Nuril. M pun melaporkan Baiq Nuril dengan tuduhan pelanggaran Pasal 27 ayat (1) UU ITE.

Pada putusan Pengadilan Negeri Mataram, sebenarnya Baiq Nuril dinyatakan tak bersalah. Ia dianggap sebagai korban pelecehanseksual dan perbuatannya merekam pembicaraan dengan M bukan tindak pidana.

Sayangnya, Mahkamah Agung dalam putusan kasasi menyatakan bahwa Baiq Nuril bersalah melakukan tindak pidana.