Jejak Kelam Rasisme di Amerika-Eropa dalam Kebun Binatang Manusia


SURATKABAR.IDDi sepanjang peradaban manusia, sejarah rasisme telah ditorehkan oleh manusia. Keyakinan itu dipegang oleh banyak pemikir berdasarkan analisis perilaku tak manusiawi orang-orang kulit putih di masa lampau terhadap orang-orang kulit berwarna. Perbudakan adalah manifestasinya yang paling umum. Contoh lainnya yang besar kemungkinannya belum diketahui publik ialah adanya kebun binatang manusia.

“Human zoo” merupakan pertunjukan anggota suku asli Afrika, Asia, dan Amerika Selatan di dalam sebuah kandang, selayaknya kebun binatang, yang sempat populer di Eropa dan Amerika Serikat pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, demikian seperti yang dikutip dari Tirto.ID, Rabu (14/11/2018).

Sebagaimana dituliskan oleh Antropolog Shoshi Parks untuk Timeline perihal fenomena ini, asal-usul human zoo berangkat dari kelahiran pertunjukan sirkus di London pada 1770-an. Dulu, sirkus tak hanya memamerkan kemampuan atletis atau hewan eksotis, tapi juga orang-orang aneh.

Konsep “aneh” dalam kepala orang Eropa juga berkembang. Yang dicap sebagai ‘orang aneh’ tersebut tak hanya untuk mereka yang lahir dengan kondisi fisik tidak wajar. Tapi juga untuk suku-suku asli dari luar Benua Biru dengan warna kulit, kebudayaan, dan gaya hidup yang berbeda.

Ideologi ini selaras dengan rasisme yang melekat pada proyek kolonialisme Eropa. Kebun binatang manusia menjadi etalase untuk menunjukkan klaim bahwa strata orang kulit putih (penjajah) lebih tinggi serta lebih beradab dibanding orang kulit berwarna (terjajah) yang “primitif”.

Baca juga: Pesan Maria Ozawa untuk Indonesia: Berhentilah Melecehkan Saya

Dalih “Pertunjukan Budaya Asing”

Diungkapkan Nigel Rothfels dalam bukunya, Savages and Beasts: The Birth of Modern Zoo (2008), pelopor kebun binatang manusia ialah Carl Hagenbeck, wirausahawan hewan eksotis asal Jerman.

Hagenbeck punya reputasi bagus berkat kepiawaian mendapatkan hewan liar di sepanjang pertengahan 1800-an. Kebun binatang di Eropa banyak yang disuplai oleh hasil buruannya.

Pada suatu hari, ia disarankan temannya untuk membawa serta orang suku asli yang paham soal hewan eksotis. Hagenbeck menyambutnya sebagai ide brilian. Ia kemudian membawa serta orang suku Sami asal Skandinavia bersama rusa kutub Utara yang hendak ia pamerkan.

Hagenbeck menyulap sebagian kecil lahannya, persis seperti tempat tinggal orang Sami, termasuk rumah tradisional dan aksesoris pelengkapnya. Orang-orang Sami dibiarkan hidup sebagaimana mereka biasa menjalankan aktivitas harian di tempat asal, plus ritual khas mereka.

Selain hewan eksotis, orang-orang Sami ini segera menjadi daya tarik yang luar biasa bagi warga Jerman yang belum pernah melihat orang “primitif”. Hagenbeck mengklaimnya sebagai pertunjukan kebudayaan asing.

Hasil Perkawinan Rasisme dan Imperialisme Baru

Seiring membludaknya penonton pertunjukan Hagenbeck, kapitalis Eropa lain ingin juga kecipratan untung. Upaya untuk membuat kebun binatang manusia tandingan mulai muncul pada tahun 1830-1840-an. Namun popularitasnya memuncak sejak 1870—era Imperialisme Baru (New Imperialism).

Human zoo makin sering dipertunjukkan di Paris, Hamburg, Berlin dan London. Juga di Barcelona, Milan, New York dan kota-kota besar di Eropa dan Amerika Serikat.

Hagenbeck membawa orang-orang suku asli Samoa dari kawasan Polinesia, suku Nubia dari selatan Mesir, orang Inuit yang tinggal di kawasan Antartika, dan manusia-manusia unik dari berbagai belahan dunia yang baru dijumpai orang Eropa.

Pesaing Hagenbeck mempertunjukkan human zoo yang berisi manusia asli Madagaskar, Senegal, hingga Suriname. Ada juga yang membawa orang-orang pribumi dari wilayah Asia, terutama Srilanka, India, dan suku asli di Filipina.

Amerika Tengah dan Selatan, kawasan yang pertama kali dieksplorasi para penjelajah Eropa, tak luput dari bisnis ini. Orang suku asli di Cile hingga ke Puerto Rico diboyong untuk dipamerkan di “world fair” yang diselenggarakan di Saint Louis, AS, hingga ke Antwerp, Belgia.

Komunis & Pendeta Satu Suara: Menolak

Sekali lagi, di era saat rasisme dan imperialisme bergandengan mesra, praktik ini tak dianggap sebagai sesuatu yang bermasalah. Tapi, bukan berarti tak ada yang mengkritiknya. Contohnya terjadi pada pertunjukan tahun 1931 di Paris yang menyedot 34 juta orang selama enam bulan.

Partai Komunis Perancis mengadakan pertunjukan tandingan dengan judul “Apa yang Sebenarnya Terjadi di di Negeri Jajahan”. Penontonnya lebih sedikit, namun pesannya jelas: human zoo adalah perbudakan dalam bentuk lain.

Sejumlah pendeta kulit hitam di New York juga menentang pertunjukan manusia Afrika di Kebun Binatang Bronx. Pengelola kebun binatang menampilkan anggota suku asli Kongo bernama Ota Benga. Benga satu kandang dengan orang utan bernama Dojong dan seekor burung beo, tajuknya “The Missing Link”.

Kata para pendeta, pertunjukan itu melukai hati mereka, sebab jelas-jelas menyiratkan bahwa Benga dan orang kulit hitam lain adalah manusia yang belum selesai berevolusi. Sayangnya, suara mereka minoritas. Benga tetap mengundang lonjakan pengunjung, demikian lapor New York Times.

Merujuk kembali ke catatan Shoshi Parks, perlakuan tak manusiawi sudah diterima para anggora suku asli yang dibawa ke Eropa atau Amerika sejak pertemuan pertama. Ada yang dibawa paksa, ada pula yang ditipu dengan janji pendidikan dan kehidupan yang lebih baik.

Direndahkan Secara Sistematis

Beberapa ada yang ikut penjelajah secara sukarela, atau dipaksa kondisi ekonomi. Salah satu contohnya ialah Theodor Wonja Michaels, narasumber utama Annika Zeitler dalam laporannya untuk Deutsche Welle di awal 2017.

Di akhir abad ke-19, Wonja dan keluarganya bersedia pindah dari Kamerun ke Eropa untuk mencari pekerjaan yang layak. Sayangnya, satu-satunya bisnis yang mau menyewa tenaga mereka adalah pengelola kebun binatang manusia.

Zeitler mengungkapkan bahwa pebisnis seperti Hagenbeck berkilah, usaha human zoo ini adalah kesempatan orang suku asli untuk jalan-jalan keliling dunia. Kata-kata manis ini ia sebut sebagai ilusi belaka. Orang-orang dari suku asli, entah dipaksa maupun sukarela, pada akhirnya tetap berakhir sebagai komoditas. Wonja dan keluarganya, misalnya, mau dijadikan objek tontonan, lantaran rasisme membuat mereka kesulitan mendapat pekerjaan yang layak.

Mereka diperlakukan bak buruh kontrak yang akan ditendang jika sudah tak diperlukan lagi jasanya. Nasib di luar kebun binatang jauh lebih keras sekaligus tidak menentu. Sebagai anggota suku asli non-kulit putih, mereka kesusahan untuk menyesuaikan diri dengan peradaban modern ala Barat.

Kondisi kesehatan mereka juga memprihatinkan. Saking buruknya, banyak yang meninggal karena sakit keras selama perjalanan memakai kapal. Lainnya meregang nyawa saat baru beberapa bulan atau tahun dieksploitasi di Eropa atau Amerika.

Kisah Paling Sedih Ota Benga

Shoshi Parks menyatakan kisah paling sedih yaitu yang dialami oleh Ota Benga. Orang yang membawanya ke AS ialah misionaris Samuel Phill Verner. Benga ditipu dengan janji akan disekolahkan. Namun, sebenarnya Verner hanya ingin memeras keuntungan dari Benga.

Kabar keberhasilan Verner menyebar dengan cepat. Ia kemudian disewa pengelola kebun binatang dan pertunjukan untuk membawa Benga-Benga lain dari tanah Afrika. Kekayaannya berlipat dengan segera, sementara Benga kian diperlakukan secara semena-mena.

Pada suatu waktu, Benga sempat diminta untuk mengikir giginya menjadi tajam—selayaknya gigi binatang buas. Benga lantas menjadi objek tontonan paling populer di antara anggota suku asli lain. Ia tidak hanya dipamerkan di Saint Louis, tetapi dibawa keliling kota-kota besar lain.

Benga dikapitalisasi Verner hingga tahun 1906. Selanjutnya, ia diserahkan ke pihak Kebun Binatang Bronx di New York. Sikap kontra dari para pendeta membuat ia dinonaktifkan dan dipindahkan ke panti yatim piatu.

Benga tak pernah kembali ke Kongo. Pada 1916, setelah lebih dari satu dekade tinggal di Negeri Paman Sam, Benga b*unuh diri dengan sepucuk pistol. Usianya kala itu baru 32 tahun.

Popularitas kebun binatang manusia masih terjaga hingga era Perang Dunia II. Faktor penting yang berperan menghapus praktik kebun binatang manusia ialah dekolonialisasi negara jajahan dan menjamurnya organisasi-organisasi kemanusiaan berskala global sejak pertengahan abad ke-20.

Shosi menyatakan faktor lain: televisi. Kehadiran kotak ajaib secara efektif mampu mengenalkan dunia beserta manusia dan kebudayaannya ke masyarakat di benua Eropa dan Amerika Utara.

Dampaknya, jelas Shoshi, yaitu berkurangnya rasa penasaran orang kulit putih atas hal-hal “primitif” dan “eksotis”. Efeknya lanjutannya, pengunjung pertunjukan human zoo kian sepi. Apalagi suara aktivis anti-rasisme makin mengencang. Bisnis rasis itu pun akhirnya kolaps dengan sendirinya.