Malangnya Nasib Jagung Era Jokowi, Klaim Surplus Tapi Kok Minta Impor?


    SURATKABAR.ID – Kementerian Pertanian (Kementan) mengusulkan impor jagung lantaran produksi jagung nasional sudah melebihi kebutuhan alias surplus. Usulan tersebut disetujui dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jumat (2/11) lalu.

    Atas dasar tersebut, seperti yang dilansir dari laman Tempo.co, pada Jumat (9/11/2018), proses impor sebanyak 100.000 ton jagung untuk kebutuhan pakan ternak pun mulai berjalan. Hal tersebut diungkapkan Menteri Perdagangan Enggarliasto Lukita.

    “Usulan Mentan impor 100 ribu ton, rakor pun menugaskan Bulog (mengimpor),” tutur Enggartiasto ditemui usai acara jumpa pers hasil Trade Expo 2018 yang digelar di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Jumat (9/11) kemarin.

    Adapun dalam rapat tersebut turut dihadiri oleh Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso, Menteri Badan Usaha Milik negara (BUMN) Rini Soemarno, Deputi Kementerian BUMN Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi Wahyu Kuncoro, hingga Ketua Satgas Pangan Inspektur Jenderal Setyo Wasisto.

    Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Oke Nurwan mengungkapkan Kementerian Perdagangan sanggup menampung usulan 50 hingga 100 ribu ton impor jagung dari Kementan sesuai dengan hasil rakortas. Kemendag lalu menyurati Kementerian BUMN terkait penugasan impor kepada Bulog.

    Baca Juga: Prabowo Larang Impor Apapun, Tim Jokowi-Ma’ruf: Itu Cerminan Orang yang…

    Langkah selanjutnya, Bulog mengajukan Persetujuan Impor (PI) melalui Online Single Submission (OSS). Begitu laporan diterima Kemendag, baru kemudian Bulog melakukan impor. Hingga saat ini, Oke sendiri mengaku belum mendapatkan informasi mengenai tahapan tersebut.

    Ketika ditanyai negara tujuan impor jagung, Oke menegaskan bahwa itu semua merupakan keputusan Bulog. Hasil rakortas hanya memerintahkan harga jual jagung impor adalah Rp 4000 per kilogram. Pasalnya para peternak mandiri saat ini kekurangan dan butuh jagung dengan harga terjangkau.

    Terkait keributan mengenai jagung untuk pakan ternak, sejatinya sudah mulai ramai sejak bulan lalu. Wakil Ketua DPR Fadli Zon sempat melontarkan kritikan pedas terkait komoditas jagung yang mengalami kenaikan harga dan sulit ditemukan di pasaran. Hal itu menyebabkan peternak ayam krisis pakan jagung.

    “Kondisi para peternak sudah sangat mengkhawatirkan dan sangat berbahaya dampaknya secara ajngka panjang,” ujar Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) tersebut melalui akun media sosial Twitter miliknya, Jumat (12/10) lalu.

    Fadli menambahkan, saat ini harga jagung menyentuh angka Rp 5.000 hingga Rp 5.300 per kilogramnya. Padahal harga acuan di tingkat petani sendiri sebesar Rp 3.150 per kg. Sementara di tingkat konsumen Rp 4.000 per kg. “Dengan harga tersebut, pasokan jagung juga minim. Padahal komponen utama pakan ayam petelur adalah jagung,” ujarnya pedas.

    Harga jagung seperti yang disebutkan Fadli sesuai dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 58 Tahun 2018 tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian di Petani serta Harga Acuan Penjualan di Konsumen.

    Pada peraturan tersebut, Kementerian Perdagangan sudah menetapkan harga acuan pembelian jagung di tingkat petani menurut kandungan airnya. Untuk kandungan air 15 persen dijual dengan harga Rp 3.150. Sedangkan kandungan air 35 persen ditetapkan seharga Rp 2.500.

    Sejumlah peternak membenarkan kritikan Fadli Zon. Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Singgih Januratmoko menuturkan harga jagung untuk pakan unggas sudah mengalami peningkatan rata-rata hingga Rp 500 per Januari 2018.

    Ia menyebutkan, jagung untuk pakan ayam layer atau petelur dijual dengan harga Rp 5.500 dari harga awal Rp 5.000 per kg. “Sementara harga jagung untuk pakan ayam broiler atau pedaging naik dari 6.000 menjadi Rp 7.000 per kag,” jelasnya, Senin (1/10) lalu.

    Jauh sebelum itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Sumarto Gatot Irianto mengungkapkan, produksi jagung nasional secara umum saat ini sangat baik. Terbukti dengan surplus sebesar 12,98 juta ton.

    “Kita masih surplus sebesar 12,98 juta ton. Dan bahkan Indonesia telah ekspor jagung ke Filipina dan Malaysia sebanyak 372.990 ton,” ungkap Sumarjo Gatot, dikutip Tempo dari Bisnis Indonesia pada Kamis (27/9).

    Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bidang Peternakan dan Perikanan Anton J. Supit mengkritik klaim tersebut. Ia menegaskan persoalan harga jagung tak cukup diselesaikan hanya dengan argumen. “Bisa saja bilang surplus, tapi jagung itu di mana. Tolong tunjukkan ada di mana,” tandasnya.

    Sementara itu, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Agung Hendriadi menyetujui bahwa harga jagung meningkat karena masalah pendistribusian dan musim panen. “Pertama, lokasi produksi peternakan yang tidak sama dengan lokasi produksi jagung,” jelasnya, Senin (15/10).

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution sempat mempersoalkan usulan yang diajukan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman terkait impor jagung. Padahal, Amran sendiri sempat menyebut Indonesia mengalami surplus pada produksi jagung.

    “Dia mengusulkan perlu impor jagung. Saya juga tanya, ‘Katanya surplus?’ Akhirnya dijawab karena harganya naik,” ujar Darmin ditemui di kantornya, Rabu (7/11) malam, menanggapi pernyataan Amran yang mengatakan impor jagung hanya berfungsi untuk mengontrol kestabilan harga jagung.

    Pasalnya, di pasaran saat ini harga jagung sudah menyentuh angka Rp 5.000 per kg. Menurutnya hal tersebut bisa menyulitkan para peternak. Ia menegaskan, apabila nantinya harga jagung menurun, impor akan dihentikan.

    “Ini baru rencana impor jagung 50 ribu oleh Bulog. Itu pun pemerintah yang impor bukan dilepas. Kalau mungkin harga turun, enggak mungkin dikeluarin sebagai alat kontrol aja,” jelas Amran di Kementerian Pertanian pada Selasa (6/11).

    Menteri Enggartiasto sendiri hanya tertawa ketika dimintai konfirmasi terkait arahan dalam rakortas supaya tak ada lagi klaim surplus di masa mendatang. “Gak ada arahan. Siapa yang ngarah-ngarahin,” ujarnya.