Terjerat Utang Fintech, Wanita Ini Didesak Jual Organ Tubuh Hingga Coba Akhiri Hidup


SURATKABAR.ID – Seorang wanita berusia 40 tahun inisial L melakukan percobaan b***h diri (bundir) lantaran  terjerat utang dari sebuah aplikasi teknologi finansial (fintech). Ia mengaku sebelumnya tak pernah membayangkan akan pernah melakukan percobaan bundir dengan nekat menenggak minyak tanah. Namun miris, karena tempaan hidup, itulah yang dilakukannya.

Mengutip laporan CNNIndonesia.com, Senin (05/11/2018), L yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga tersebut awalnya mempunyai utang sebesar Rp 500 ribu ke salah satu aplikasi teknologi finansial (fintech). Ada pun sang suami bekerja sebagai supir ojek aplikasi online. Mereka memiliki tiga anak, dua di antaranya masih membutuhkan biaya untuk sekolah. Tak hanya itu, L juga masih harus menanggung hidup ibundanya yang sudah sepuh dan sakit di rumah.

“Awalnya tahun ini, mau puasa saya pinjam duit Rp 500 ribu dari aplikasi sebut saja DR, tapi yang cair hanya Rp 375 ribu. Saya harus balikin beserta bunga lebih dari Rp 600 ribu dalam dua pekan,” demikian L mulai bercerita pada di Kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (04/11/2018).

L yang merupakan lulusan SMK ini sudah menyadari sejak awal bahwa bunga yang harus dibayarnya cukup besar, yakni sekitar 20 persen. Uang yang dipinjamnya pun tak bisa semuanya cair lantaran terpotong biaya administrasi yang cukup besar.

Namun, karena dalam keadaan terjepit di mana L sangat membutuhkan uang sedangkan tak ada saudara yang mau membantu, ia pun mencoba mengajukan pinjaman.

Baca juga: Sandiaga Uno: 2019 Kita Ganti Pemerintahan yang Fokus pada Ekonomi

Mulanya, L merasa sangat terbantu dengan adanya aplikasi itu. Uang yang cair dengan cepat tanpa proses rumit berhasil didapatkannya dengan hanya bermodalkan nomor Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK) serta foto wajah sendiri bersama kartu identitas.

Utang Membengkak Jadi Puluhan Juta

Di tahap peminjaman awal, L masih bisa menutup utangnya secara berkala. Namun lama-kelamaan, dia merasa keuangannya kian memburuk. Hal ini dikarenakan dirinya membuka sembilan aplikasi pinjaman uang lainnya guna menutup utang dari aplikasi lain.

Bunga dari tiap aplikasi tak sama. Bahkan, L melanjutkan, ada juga yang besarnya tak sesuai dengan perjanjian awal. Uang yang diputarnya pun jadi mencapai puluhan juta Rupiah, dari pinjaman awal yang tak sampai Rp 1 juta itu.

“Jadi saya kayak gali lobang tutup lobang. Mungkin itu karmanya riba ya, uang abis dimakan jin dan setan. Tiap dari ATM, dapat uang langsung saya masukin ke aplikasi lagi,” ucapnya sembari mulai menangis.

Didesak Jual Organ Tubuh

Kendati sudah menggunakan banyak aplikasi dalam satu waktu, utangnya tak pernah bisa tertutupi sepenuhnya. Debt collector yang menagih mulai beringas. Mereka mulai mengirim teror melalui telepon, WhatsApp, dan SMS yang terus menerus. L mengatakan, debt collector bahkan mengizinkan dirinya menjual organ tubuh.

“Bahkan saya akhirnya bekerja menjadi asisten rumah tangga. Saya masih diteror sampai majikan saya tidak berkenan sehingga saya akhirnya resign juga. Kalau orang bilang saya malas, saya sudah berusaha mbak, tetapi tidak cukup,” air mata warga Kramat Lontar, Jakarta Pusat, ini semakin deras saat bercerita.

Tak hanya dialami seorang diri, suami juga mendapatkan teror yang sama. Lelah dan tertekan dengan persoalan yang dihadapinya, L akhirnya memutuskan untuk b***h diri dengan meminum minyak tanah yang ada di dapur rumahnya. Dia pikir, jika dia mati, saudaranya akan membantu suami dan anak-anaknya.

“Nanti uang santunan kematian saya juga biar bisa untuk menutupi utang saya,” tukasnya.

Diminta Layani Nafsu Bejat Debt Collector

Singkat cerita, L yang sempat dirawat di rumah sakit itu merasa tak tahu harus berbuat apa untuk lepas dari jeratan bunga tak berbatas sekaligus teror para debt collector. Dia akhirnya mengadu pada LBH Jakarta untuk mendapatkan jalan keluar atas ketidakadilan yang diterimanya.

Di sana, dia bertemu dengan peminjam uang lainnya yang mengalami pelanggaran hukum dan HAM untuk kasus yang sama. Kisah lain yang dialami S (32) contohnya, merupakan korban yang merasa data pribadi di ponselnya diambil untuk disalahgunakan.

Sementara itu, VS mengalami pelecehan seksual lantaran tak sanggup membayar utang. Jika ingin terbebas dari utang, wanita itu diminta untuk melayani nafsu bejat para debt collector.

Diungkapkan LBH Jakarta, ada 283 korban dari kalangan menengah ke atas maupun menengah ke bawah yang mengadukan keluhan terhadap berbagai aplikasi Fintech. Beberapa perusahaan yang dikeluhkan bahkan sudah memperoleh izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Itulah sebabnya mereka membuat pos pengaduan korban pinjaman online (pinjol) di website LBH Jakarta (www.bantuanhukum.or.id) yang dibuka mulai 4 November hingga 25 November 2018.

Sebagai informasi, jangan anggap enteng masalah kesehatan mental. Jika Anda pernah merasakan atau memikirkan tendensi b***h diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi tersebut, Anda disarankan untuk segera menghubungi pihak yang bisa membantu.

Salah satunya seperti Komunitas Save Yourselves di https://www.instagram.com/saveyourselves.id. Anda juga bisa menghubungi Yayasan Sehat Mental Indonesia, melalui akun Line @konseling.online. Opsi lainnya adalah Tim Pijar Psikologi di https://pijarpsikologi.org/konsulgratis.