Insiden Bakar Bendera Rugikan Prabowo di Pilpres 2019


    SURATKABAR.ID – Insiden pembakaran bendera serta ikat kepala hitam bertuliskan kalimat tauhid di Alun-alun Limbangan, Garut pekan lalu kini berbuntut panjang. Menjadi polemik, gelombang demonstrasi yang memprotes tindakan itu terjadi di beberapa daerah. Mereka menyuarakan beberapa tuntutan, yang salah satunya adalah membubarkan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama (NU), atau paramiliter Gerakan Pemuda (GP) Ansor.

    Saat situasi ini berpotensi memicu munculnya konflik horizontal, Ketua DPP Partai Gerindra Habiburokhman mengingatkan kembali pesan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto.

    Sebelumnya, seperti dikutip dari Tirto.ID, Sabtu (27/10/2018), Prabowo berpesan agar masyarakat tetap tenang dan tak menyerukan pembubaran Banser NU. Pasalnya, hal itu dapat memancing keretakan hubungan sosial.

    “Banser itu saudara kita. Teman-teman yang menuntut pengusutan kasus pembakaran bendera tauhid itu saudara kita. Kita ingin semua sama-sama hidup rukun,” tukas Habiburokhman meneruskan pernyataan Prabowo kepada reporter, Jumat (26/10/2018).

    Habiburokhman mengatakan, Prabowo juga menginginkan masyarakat menyerahkan kasus pembakaran bendera ini kepada penegak hukum.

    Baca juga: Terkait Insiden Bakar Bendera, Para Pimpinan Ormas Islam Sepakati 5 Hal Ini

    “Dalam kasus pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid jelas pelakunya mengatakan tidak mewakili Banser, tapi pribadi dan individu. Sehingga dengan begitu tidak ada ruang untuk terjadinya perpecahan,” imbuhnya.

    Prabowo Anggota Kehormatan Banser

    Habiburokhman melanjutkan, Prabowo menyampaikan pesan tersebut dalam posisinya sebagai seorang negarawan yang juga dekat dengan Banser NU. Diketahui, Prabowo Subianto dikenal sebagai anggota kehormatan Banser NU. Puncak kedekatan elite politik Gerindra dengan ormas tersebut terjadi saat Pilpres 2014 lalu.

    Dalam rekam jejaknya, Prabowo memang memiliki kedekatan dengan Banser NU. Pada tahun 2014 lalu, mantan Danjen Kopassus ini mendapat penghargaan sebagai anggota kehormatan Banser NU. Pengukuhan Prabowo dilakukan di Mojokerto, Jawa Timur. Waktu itu, ia tengah menjadi capres pada hajatan politik Pilpres 2014.

    Ketua DPP Partai Golkar Tubagus Ace Hasan Syadzily juga menyetujui imbauan Prabowo tersebut. Ia berpendapat, semua pihak memang semestinya menahan diri dalam kasus ini agar tak muncul perpecahan.

    “Ya menurut saya semua pihak serahkan saja ke hukum yang berlaku. Enggak perlu dipolitisasi. Serahkan saja kepolisian,” sahut Ace kepada jurnalis.

    Namun yang menjadi permasalahan adalah sikap sejumlah pendukung Prabowo dan Panitia Reuni 212 seperti Novel Bamukmin yang berbanding terbalik dengan sikap Prabowo. Ia menyebutkan kasus bendera ini bisa jadi akan menjadi salah satu tema reuni 212 mendatang.

    “Bisa saja nanti [kasus pembakaran bendera] masuk dalam orasi-orasi para ulama dan habaib,” tegas Novel saat dihubungi awak media, Kamis (25/10/2018).

    Sedangkan, seperti dituturkan Novel, reuni 212 akan diikuti Front Pembela Islam (FPI), Forum Umat Islam (FUI), GNPF-MUI, Parmusi, Bang Japar, PPMI, PA 212, dan Gerakan Masyarakat Jakarta (GMJ) yang selama ini telah menyatakan mendukung Prabowo-Sandiaga di Pilpres 2019.

    Rugikan Prabowo

    Adi Prayitno selaku Direktur The Political Literacy menilai sikap Prabowo yang meminta publik tak cepat marah pada Banser NU, secara institusi dapat berimbas positif bagi citra politiknya di Pilpres 2019. Bahkan kendati sikapnya itu berseberangan dengan mayoritas pendukungnya sekalipun.

    “Mereka [pendukung Prabowo] justru menilai Prabowo sebagai negarawan. Ya itu memang maksud Habiburokhman menyampaikan pesan itu,” ungkap Adi.

    Sebab, tambah Adi, massa 212 sudah pada tahapan menjadi pemilih yang loyal pada Prabowo. Sehingga apapun yang dilakukannya akan dicari sisi baiknya.

    “Efeknya sebenarnya ke swing voter, tapi itu juga positif. Mereka akan menilai Prabowo enggak memanfaatkan situasi. Tuduhan menunggangi isu ini hilang,” paparnya.

    Selain itu, lanjut Adi, sikap Prabowo yang tak memanfaatkan situasi juga bisa menjadi penjaga suara di massa Banser NU yang tak suka dengan serangan kelompok massa 212 dalam kasus pembakaran bendera.

    “Namanya Ormas, tentu tidak semuanya dukung Jokowi, meskipun tokohnya banyak yang ke sana (Jokowi). Itu jadi peluang Prabowo dapat suara lagi dari Banser,” sebutnya.

    Itulah sebabnya, imbuh Adi, lebih baik para tokoh yang tersebar di beberapa ormas alumni 212, mengikuti sikap Prabowo. Pasalnya, jika terus berkonfrontasi dengan Banser NU, citra positif Prabowo berpotensi kian tergerus.

    “Kalau sudah arahnya ke show off kekuatan, jelas makin tidak simpati lah Banser dan warga NU lain ke Prabowo. Semakin menguntungkan Jokowi,” tutupnya.

    [wpforms id=”105264″ title=”true” description=”true”]