2028 Nanti, Internet Akan Terbagi Dua—AS dan China, Indonesia Kiblat ke Mana?


SURATKABAR.ID – Mantan CEO Google, Eric Schmidt baru-baru ini melontarkan sebuah prediksi yang mengejutkan. Schmidt yang kini telah beralih sebagai eksekutif perusahaan induk Google, Alphabet, menduga bahwa pada tahun 2028, internet akan terbagi dua. Ya, sepuluh tahun lagi, internet dunia akan terbagi di kubu pertama yakni Amerika Serikat (AS), sedangkan satunya lagi akan dipegang oleh China!

Dilansir dari CNBC dan Hipwee.com, Jumat (26/10/2018), Schmidt membagikan pemikirannya dalam acara privat yang diadakan oleh perusahaan investasi Village Global VC di San Francisco saat Google berulangtahun September. Perusahaan ini merekrut tokoh-tokoh pembesar teknologi, termasuk Schmidt, Bill Gates, Diane Green dan Jeff Bezos sebagai mitra terbatas. Apa saja prediksi mantan bos Google ini?

Jika saat ini internet masih dikuasai perusahaan Amerika yakni Google, namun sebentar lagi, akan ada raksasa baru di dunia internet yaitu China. Schmidt yang memimpin Google sejak tahun 2001 sampai 2017 lalu itu meramalkan. Raksasa internet kedua akan muncul dari Negeri Tirai Bambu, dan akan terjadi dalam kurun waktu satu dekade ke depan.

Bikin Aplikasi Sendiri

Seperti diketahui, China memang negara yang besar dengan penduduk yang banyak. Kalau mereka bisa membuat layanan dan aplikasi internet sendiri, bisa diperkirakan kalau penggunanya akan banyak. China selama ini memang terkenal ketat soal aturan internetnya. Mereka ogah menggunakan layanan atau aplikasi dari negara lain. Mereka membuat sendiri.

Baca juga: Facebook, Apple dan Google Sumbangkan Rp 45 Miliar untuk Gempa Palu-Donggala

Mereka punya layanan dan aplikasi sendiri yang dibuat melalui kerja sama dengan pemerintahnya. Hal ini karena memang pemerintah China ketat mengawasi penggunaan internet di negaranya. Jadi, mereka tidak mengenal Google sebagai situs pencarian. Sebagai alternatif, mereka menggunakan Baidu.

Tak hanya itu saja, mereka juga menggunakan Weibo sebagai pengganti Twitter, WeChat pengganti WhatsApp, dan Youku sebagai pengganti Youtube. Tujuannya? Agar pemerintah China bisa dengan mudah mengontrol penggunaan internet penduduknya. Sehingga konten yang tak sesuai pun bisa langsung diblokir.

Jadi, mengutip IDNTimes.com, disebutkan bahwa internet bukan akan terpecah melainkan bercabang menjadi dua bagian. Schmidt menyampaikan pemikirannya ini mengenai skenario internet terbagi ke dalam dua pimpinan. Yang satu dipimpin oleh China dan internet non-China yang dipimpin oleh Amerika.

Menurut Schmidt yang telah menyambangi China, di sana skala perusahaan, layanan dan kekayaan telah sukses dibangun dengan sangat fenomenal. Schmidt pun memuji produk dan layanan yang dihasilkan perusahaan asal Negeri Panda itu. Seiring dengan perkembangan perekonomian China yang semakin pesat, produk-produk China semakin berpengaruh dan tersebar lebih luas. Termasuk search engine-nya.

Apa yang diproduksi mereka akan masuk akal jika menjadi bagian dari internet dalam waktu dekat. Schmidt menyampaikan bahwa internet China memegang persentase besar dari produk domestik bruto (PDB) China dan persentasenya sama besar dengan AS. Internet China memegang persentase besar dari produk domestik bruto (PDB) China dan persentasenya sama besar dengan AS.

Akan Dibatasi dan Disensor

Meski begitu, ada sisi negatifnya jika China menguasai internet. Disinyalir, dampaknya adalah hilangnya kebebasan pengguna karena internet telah banyak dikontrol dan disensor. Hal ini berkenaan dengan kebijakan pemerintah yang kerap mengontrol dan menyensor konten internet yang ada. Bukan hanya di China saja, bisa jadi negara-negara lain pun akan mengadopsi infrastruktur China yang disensor tersebut. Meski begitu, bisa jadi kebijakan yang diterapkan China akan menuai pro dan kontra.

Perkiraan Schmidt, percabangan ini akan terjadi dekade mendatang. Ini adalah berita baik karena jaringan internet akan membesar.

Akan tetapi, jika meninjau perkembangan dan kemajuan yang telah terjadi selama ini, bisa saja internet tak hanya terbagi dua, tapi jadi lebih banyak lantaran disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Pasalnya, seperti diketahui, tak hanya China yang membuat mesin pencariannya sendiri.

Di Rusia, mereka menggunakan Yandex, bukan Google sebagai mesin pencarian. Aplikasi Telegram juga berasal dari Rusia. Jika makin banyak negara besar yang menyadari potensi industri internet, pasti akan lebih banyak lagi yang berlomba-lomba untuk mengembangkannya. Menurutmu bagaimana? Indonesia akan kiblat ke mana?