Menyibak Misteri Salakanegara, Kerajaan Tertua di Nusantara


SURATKABAR.ID – Perdebatan mengenai kerajaan tertua di Nusantara tak hanya melibatkan Kutai Martadipura dan Kerajaan Kandis di Riau yang diperkirakan sudah berdiri sedari tahun 1 Sebelum Masehi (Sejarah Daerah Riau, 1987:40). Tersebutlah juga sebuah Kerajaan Salakanagara yang konon berdiri jauh sebelum Kerajaan Kutai ada.

Sebelumnya, menurut pelbagai buku sejarah dan literatur, Kerajaan Kutai ditetapkan sebagai kerajaan tertua dan pertama di Nusantara. Hal tersebut didasari bukti adanya beberapa arca dan naskah Wangsekerta (sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa Kuno yang berasal dari Cirebon).

Pada naskah itu, menukil laporan SindoNews.com, Kamis (25/10/2018), disebutkan bahwa Kerajaan Salakanegara didirikan pada 130 Masehi oleh Dewawarman. Beribukotakan Rajatapura (sekarang masuk wilayah Teluk Lada, Pandeglang, Banten), konon Kota Rajatapura inilah yang disebut Argyre oleh Claudius Ptolemaeus, seorang ahli geografi, astronom, dan astrolog  Romawi.

Claudius Ptolemaeus menyebutkan sebuah negeri bernama Argyrè dalam bukunya berjudul Geographia, yang ditulis kira-kira tahun 150 Masehi. Argyrè dikatakan terletak di wilayah Timur Jauh. Negeri ini terletak di ujung barat Pulau Iabodio yang selalu dikaitkan dengan Yawadwipa yang kemudian diasumsikan sebagai Jawa. Argyrè sendiri berarti perak yang kemudian ”diterjemahkan” oleh para ahli sebagai “Merak”.

Sementara itu, Dr Edi S. Ekajati, seorang sejarawan Sunda memperkirakan bahwa letak ibukota Kerajaan Salakanegara merupakan Kota Merak sekarang. Dalam bahasa Sunda, Merak sendiri berarti ‘membuat perak’.

Baca juga: Benarkah Bukan Kutai, Kerajaan Tertua di Indonesia?

Kerajaan Pertama Nusantara?

Dilansir dari Tirto.ID, riwayat Kerajaan Salakanagara memang berselimut misteri yang tebal. Tak hanya soal mitos Argyre, hal-hal lain menyoal kerajaan yang didirikan pada 130 M–tepat 20 tahun sebelum Ptolemaeus menerbitkan Geographia–ini masih menjadi perdebatan di kalangan peneliti dan pakar sejarah.

Perdebatan yang paling mendasar yaitu keyakinan bahwa Salakanagara merupakan kerajaan tertua di Nusantara (Halwany Michrob, dkk., Catatan Masa Lalu Banten, 1993:33). Sementara yang lebih umum diketahui tentang kerajaan paling awal di kepulauan ini adalah Kutai Martadipura di Kalimantan Timur.

Jika dilihat dari waktu berdirinya, Salakanagara yang sudah eksis sejak abad ke-2 jelas lebih tua ketimbang Kutai yang baru muncul pada abad ke-4 M. Namun, yang melemahkan klaim Salakanagara ialah bukti fisik terkait asal-muasal kerajaan ini sangat minim. Berbeda dengan riwayat Kutai yang dilacak melalui penemuan sejumlah prasasti.

 

Titik Terang dan Temuan Arca

Namun sebuah berita China yang berasal dari tahun 132 M mengungkapkan wilayah Ye-tiao  yang sering diartikan sebagai Yawadwipa dengan rajanya Pien yang merupakan lafal China dari bahasa Sansakerta Dewawarman.

Salakanegara merupakan Kerajaan Hindu yang memiliki beberapa kerajaan kecil sebagai bawahan. Kerajaan-kerajaan itu tersebar di Provinsi Banten sekarang Jawa Barat, Selat Sunda hingga ke Provinsi Lampung yakni, Pertama, Kerajaan Agnynusa  yang terletak di Pulau Krakatau, Selat Sunda, atau tepat di kaki Gunung Krakatau.

Kedua, Kerajaan Aghrabinta di Pulau Panaitan, yang berada di Selat Sunda dengan ibukotanya adalah Aghrabintapura. Hal ini berdasarkan data arkeologi dari Pulau Panaitan yang ditemukan arca Siwa, Ganesha dan Lingga Semu/Lingga Patok. Sekarang arca itu disimpan di Museum Negeri Sri Badhuga, Bandung, dengan nomor inventaris 306.2981.

Ketiga, Kerajaan Nusamandala yang berkedudukan di Pulau Sangiang. Dimana pulau ini juga masih berada di Selat Sunda, tepatnya di sebelah barat lepas pantai Kota Cilegon.

Keempat, Kerajaan Hujung Kulo yang berkedudukan di Ujung Kulon, Pandeglang, Banten. Berdasarkan buku ‘Sejarah Jawa Barat’ (Yuganing Rajakawasa) karya Drs Yoseph Iskandar, bahwa raja daerah Kerajaan Hujung Kulon yang pertama merupakan Senapati Bahadura Harigana Jayasakti, adiknya Dewawarman I.

Kelima, Kerajaan Tanjung Kidul (daerah Pelabuhanratu, Sukabumi). Tanjung Kidul ialah sebuah kerajaan bercorak Hindu yang didirikan di Selatan Jawa Barat, hingga Cianjur sekarang. Rajanya adalah Swetalimansakti, adik dari Senapati Bahadura dan Dewawarman I.

Penguasa Gerbang Lautan

Dari kerajaan-kerajaan yang ada dibawah kendalinya itu, artinya seluruh Selat Sunda berhasil dikuasai Dewawarman I ini, sehingga ia digelari “Prabu Darmalokapala Dewawarman Aji Raksa Gapura Sagara” atau “Raja Penguasa Gerbang Lautan” (Yogaswara, 1978:38).

Selain itu Salakanagara diyakini sebagai leluhur Suku Sunda, hal dikarenakan wilayah peradaban Salakanagara sama persis dengan wilayah peradaban orang Sunda selama berabad-abad. Dan yang memperkuat lagi adalah kesamaan kosakata antara Sunda dan Salakanagara.

Di samping itu ditemukan bukti lain berupa Jam Sunda atau Jam Salakanagara, suatu cara penyebutan Waktu/Jam yang juga berbahasa Sunda.

Konon Kerajaan Salakanagara berdiri hanya selama 232 tahun, tepatnya dari tahun 130 Masehi hingga tahun 362 Masehi. Raja Dewawarman I sendiri hanya berkuasa selama 38 tahun dan digantikan anaknya yang menjadi Raja Dewawarman II dengan gelar Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra.

Prabu Dharmawirya tercatat sebagai Raja Dewawarman VIII atau Prabu Darmawirya Dewawarman terakhir hingga tahun 363 Masehi.

Pada masa kekuasaan Dewawarman VIII, keadaan ekonomi penduduknya sangat baik, makmur dan sentosa, sedangkan kehidupan beragama sangat harmonis.

Selanjutnya Salakanagara telah menjadi kerajaan yang berada di bawah kekuasaan Tarumanagara yang didirikan tahun 358 Masehi oleh Maharesi yang berasal dari Calankayana, India, bernama Jayasinghawarman. Dimana Jayasinghawarman adalah menantu Raja Dewawarman IX.

Dia mengungsi ke Nusantara karena daerahnya diserang dan ditaklukkan Maharaja Samudragupta (Raja Chandragupta 1) dari Kerajaan Maurya.

Di kemudian hari setelah Jayasinghawarman mendirikan Tarumanagara, pusat pemerintahan beralih dari Rajatapura ke Tarumanagara. Salakanagara kemudian berubah hanya menjadi kerajaan bawahan Kerajaan Tarumanagara.

Moyang Orang Sunda dan Betawi?

Sementara itu, versi lain meyakini bahwa ibukota Salakanagara bukan berada di Pandeglang, melainkan di suatu tempat bernama Ciondet (Condet) yang kini terletak di wilayah Jakarta Timur (Ensiklopedi Jakarta: Culture & Heritage, Volume 3, 2005:71).

Ciondet alias Condet berada tak jauh dari bandar niaga besar bernama Sunda Kelapa, hanya sekira 30 kilometer ke arah utara. Pelabuhan ini pada masanya dikenal sebagai pusat perdagangan paling ramai di Nusantara dan salah satu yang terpenting di Asia karena merupakan segitiga emas bersama Malaka dan Maluku.

Di kawasan ini juga mengalir Sungai Tiram. Inilah yang kemudian menjadi salah satu dasar untuk meyakinkan bahwa Salakanagara bukan berada di Banten, melainkan di Jakarta. “Tiram” dipercaya berasal dari nama Aki Tirem yang tidak lain adalah mertua Dewawarman I, pendiri Kerajaan Salakanagara (Abdurrahman Misno & Bambang Prawiro, Reception Through Selection-Modification, 2016:327).

Adapun menurut versi ketiga, Salakanagara dibangun di lereng Gunung Salak, Bogor. Disebutkan, di suatu bagian di kaki Gunung Salak sering terlihat keperak-perakan saat diterpa sinar matahari (Ensiklopedi Jakarta: Culture & Heritage, Volume 3, 2005:71). Dari situlah lalu dikait-kaitkan dengan arti Salakanagara, yakni “Negara Perak”. Ditambah lagi, penyebutan “Salaka” dengan “Salak” hampir mirip.

Selain itu, pada perkembangannya nanti, lereng Gunung Salak juga menjadi tempat berdirinya kerajaan-kerajaan Sunda lainnya yang jika dirunut masih turunan dari Salakanagara, termasuk Kerajaan Pajajaran.

Peninggalan Sejarah

Beberapa peninggalan Kerajaan Salakanagara adalah sebagai berikut:

  1. Batu Menhir, di wilayah Desa Cikoneng, Pandeglang,
  2. Situs di Pulosari, Pandeglang,
  3. Situs di Ujung Kulon, Pandeglang, Banten Selatan,
  4. Situs Cihunjuran, Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang,
  5. Batu Menhir, di Cihunjuran, Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang,
  6. Batu Menhir, di Kecamatan Mandalawangi lereng utara Gunung Pulosari,
  7. Kolam pemandian purba di Cihunjuran, Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang,
  8. Tiga Batu Menhir, di sebuah mata air di Cihunjuran, Kecamatan Jiput, Pandeglang,
  9. Batu Menhir, di Kecamatan Saketi lereng Gunung Pulosari, Kabupaten Pandeglang,
  10. Situs Batu Dakon, di Kecamatan Mandalawangi. Batu ini memiliki beberapa lubang di tengahnya yang berfungsi sebagai tempat meramu obat-obatan. Diambil dari penamaan “Dakon” karena mirip salah satu jenis permainan tradisional dari papan/batu berlubang-lubang yang biasa dimainkan oleh anak-anak,
  11. Situs Batu Dolmen (juga disebut: Batu Ranjang), terletak di kampung Batu Ranjang, Desa Palanyar, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang. Berbentuk sebuah batu datar panjang 250 cm, dan lebar 110 cm. Terbuat dari batu andesit yang dikerjakan sangat halus dengan permukaan yang rata dengan pahatan pelipit melingkar ditopang oleh empat buah penyangga yang tingginya masing-masing 35 cm,
  12. Situs Batu Magnit, di puncak Rincik Manik (di puncak Gunung Pulosari), Desa Saketi, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang, adalah sebuah batu yang cukup unik, karena ketika dilakukan pengukuran arah dengan kompas di sekeliling batu dari berbagai arah mata angin, jarum kompas selalu menunjuk pada batu tersebut,
  13. Situs Batu Peta, di Banten Selatan, yang sampai saat ini belum ada satu orang pun yang dapat menerjemahkan isi peta tersebut,
  14. Patung Ganesha dan patung Shiwa, di lereng Gunung Raksa, Pulau Panaitan. Dapatlah diduga bahwa masyarakatnya beragama Hindu Shiwa.

Diyakini oleh beberapa peneliti, sebenarnya ada banyak situs dari kerajaan ini di sepanjang pesisir pantai barat Banten. Sayangnya, setelah Gunung Krakatau meletus, banyak dari situs-situs itu yang musnah. Alhasil, hanya sedikit bukti peninggalan yang tersisa dari kerajaan ini.