Soal Infrastruktur, Ma’ruf Amin: Orang Papua Bilang Jalan Siapa? Jalan Jokowi


SURATKABAR.ID – Dalam sambutannya di peringatan acara Hari Santri di Asrama Haji Al Mabrur, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Selasa (23/10/2018), Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 01, KH Ma’ruf Amin, menyinggung pembangunan infrastruktur oleh Presiden Joko Widodo di Papua.

Menurut pengakuan Ma’ruf, ia sempat bertemu dengan Gubernur Papua Lukas Enembe belum lama ini. Dalam pertemuan tersebut, lanjut Ma’ruf, Lukas banyak menceritakan bagaimana kesan masyarakat Papua terhadap Presiden Jokowi.

“Kemarin Gubernur Papua bertemu saya mengatakan kalau di Papua itu orang Papua bilang jalan siapa? Jalan dari Jokowi. Rumah? Rumah dari Jokowi. Uang di sampaikan ke sana? Uang dari Jokowi,” papar Ma’ruf, sebagaimana dikutip dari laporan Kompas.com, Kamis (25/10/2018).

KH Ma’ruf Amin menambahkan, fakta ini menunjukkan masyarakat Papua mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Beberapa infrastruktur yang dibangun Jokowi disana juga cukup beragam, mulai dari jalan lintas provinsi, bandara hingga pelabuhan.

“Orang Papua merasakan daerah mendapatkan perhatian pemerintah pusat. Karena itu kita perlu untuk memaksimalkan agar antar daerah tidak terjadi disparitas [jarak] lagi,” imbuh Mantan Rais Aam PBNU tersebut, mengutip reportase Detik.com.

Baca juga: Kerap Difitnah, Jokowi: Kalau Saya Kejar, Bisa Ratusan Ribu Orang Kena Masalah Hukum

Selain itu, KH Ma’ruf Amin melanjutkan, pembangunan infrastruktur merupakan tonggak-tonggak pembangunan ekonomi yang tengah dilakukan Jokowi. Itulah sebabnya, pembangunan infrastruktur harus disambut baik. Ke depannya penggunaan infrastruktur juga harus dimaksimalkan untuk ekonomi rakyat.

“Menurut saya, justru yang diletakkan sekarang patok-patok atau milestone. Kalau kita bisa memanfaatkan secara optimal, Indonesia akan tinggal landas,” sahutnya.

Tingkatkan Produk Nasional

Selain itu, dia menyebutkan produk nasional perlu ditingkatkan agar lebih berkompetisi pada era global. Sebagai contoh, harga cokelat yang murah di Sulawesi Selatan sekitar Rp 1.000, tapi jika dijual di Singapura, harganya naik menjadi Rp 20 ribu.

“Kita juga meningkatkan produk, jangan sampai produk nasional ada kesenjangan sehingga tidak bisa bersaing produk global. Kita beri nilai tambah, saya berikan contoh cokelat di Sulawesi Selatan harga seribu, dibawa ke Singapura dioles-oles sedikit harganya Rp 20 ribu, berarti ada nilai tambah 19 ribu yang diambil. Besok Rp 19 ribu jangan diberikan orang lain, tapi berikan kepada rakyat,” tukas Ma’ruf.

Ia juga memaparkan contoh lainnya. Menurutnya, harga kopi di Indonesia USD 1 per kilo. Namun, saat dijual di Starbucks, harga kopi tersebut mencapai Rp 50 ribu.

“Kopi itu kita jual 1 dolar sekilo, 5 dolar berarti 75 ribu. Dijual Starbucks di Indonesia satu cangkir Rp 50 ribu, satu kilo 60 cangkir kali Rp 50 ribu berarti Rp 3 juta. Berarti jual Rp 75 ribu kita beli Rp 3 juta, ada nilai tambah Rp 2,9 juta diambil orang, besok uang ini jangan berikan orang lain,” tandasnya kemudian.

[wpforms id=”105264″ title=”true” description=”true”]