Swing Voters Jadi Tantangan Terbesar Paslon Pilpres 2019, Angka Golput Naik?


SURATKABAR.ID – Dalam acara deklarasi Perkumpulan Swing Voters, muncul kesimpulan bahwa pasangan calon presiden dan wakil presiden disinyalir akan sulit mendekati kelompok swing voters di masa Pemilihan Presiden 2019. Penyebabnya adalah pemikiran rasional yang dimiliki oleh kelompok tersebut. Apa itu Swing Voters?

Menurut reportase CNNIndonesia.com, Senin (22/10/2018), Perkumpulan Swing Voters menyebutkan, sudah ada di 150 kota, 24 provinsi untuk menarik swing voters sebagai relawan. Mereka juga mengungkapkan akan mengawasi konten pemilu. Swing voter lebih dikenal sebagai perilaku pemilih yang berubah, atau berpindah pilihan partai, atau calon, dari satu Pemilu ke Pemilu berikutnya.

Sementara itu, ada tujuh provinsi yang dinilai mempunyai banyak swing voters, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Lampung, Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara.

Adhie M Massardi selaku Ketua Umum Perkumpulan Swing Voters menyebutkan, swing voters dalam survei politik merupakan masyarakat atau pemilih rasional yang berjumlah 30 hingga 40% di setiap pemilu.

Biasanya, mereka tidak nyaman dengan tingkah laku para politisi peserta pemilu dan gagasan yang dinilai tidak masuk akal.

Baca juga: Pose 1 Jari Luhut Dipermasalahkan, Ma’ruf Amin Singgung Gesture SBY

Angka Golput Naik

Mengacu kepada data yang dimiliki PSV, angka swing voters mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Dimulai dari 7,3% pada Pemilu 1999, 15,9% pada Pemilu 2004, 21,8% pada Pilpres putaran I tahun 2005, dan 23,4% pada Pilpres putaran II tahun 2005.

Adapun pada Pileg 2009 terdapat 29,3% golput, sebanyak 28,3% pada Pilpres 2009, 24,8% pada Pileg 2014, dan 29,1% pada Pilpres 2014.

“Dari pengamatan kami, pemilu ke pemilu sejak era reformasi mulailah kelihatan bahwa masyarakat kita tidak semuanya memahami tingkah laku para politisi partai. Kami tidak ingin golput terus meninggi,” tutur Massardi saat memperkenalkan PSV di Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (21/10/2018).

Dua Kubu Paslon Saling Ejek

Sayangnya, kini realita yang terjadi adalah sikap saling ejek antara dua kubu paslon. Massardi mengungkapkan bahwa hal itu justru menjadi salah satu faktor yang membuat swing voters muak sehingga enggan menentukan pilihan.

“Kami akan edukasi para kontestan agak seperti apa dalam berkampanye, sehingga masyarakat paham,” tukas Massardi.

Lebih lanjut, Hendri Satrio yang merupakan Konsultan Politik Lembaga Survei Kedai Kopi, menambahkan, swing voters umumnya terjadi karena belum punya pilihan, atau sudah punya pilihan tapi masih menimbang-nimbang. Bahkan, swing voters bisa saja baru menentukan pilihannya sesaat sebelum memasuki bilik suara.

Hendri melanjutkan, suara masyarakat di Indonesia biasanya masih dipengaruhi oleh keluarga. Jika tak diarahkan, lanjut Hendri, swing voters akan mengikuti suara terbanyak di lingkungannya, seperti keluarga.

Swing voters tak hanya masyarakat biasa, namun bisa juga menyangkut tokoh publik yang diam-diam belum yakin dengan pilihannya.

Hendri mencontohkan fenomena ‘spiral of silent‘ terkait swing voters yang terjadi di Jawa Barat.

“Mereka belum punya pilihan. Tapi ketika ditanya, biasanya akan mengikuti suara terbanyak di lingkungan mereka,” sebut Hendri.

Hendri melanjutkan, fenomena itu terus menerus terjadi dan ada di Indonesia.

Kebiasaan swing voters yang galau dalam menentukan pilihan itu jelas menuntut kerja keras partai politik. Apalagi jika mengingat kecenderungan pemilih Indonesia yang ‘moody‘ secara politik.

Di lain pihak, Siti Zuhro selaku Pengamat politik LIPI berujar, Pemilu 2019 sangat bergantung pada performa partai politik, terlebih mengingat Pileg dan Pilpres yang dilakukan momennya berbarengan.

“Saya mencatat bahwa parpol di Indonesia akan bekerja ekstra keras untuk calon pemilih ini,” tegas Siti.