Sandiaga Diminta Stop Politik Bohong dan Bicara Data


SURATKABAR.ID – Abdul Kadir Karding selaku Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin mengatakan bahwa calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno sering sekali berbicara tanpa didasari data yang ada. Bagi Abdul Kadir Karding, sikap Sandiaga ini bisa dibilang merupakan bagian dari politik bohong.

“Pak Sandi sudah berapa kali berikan statement tanpa data; soal tempe setipis ATM, harga nasi ayam di Jakarta lebih mahal dari Singapura, lapangan kerja dibilang susah, kan tidak juga, masyarakat krisis, krisis apanya? Tidak ada tuh,” beber Karding ditemui di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (21/10/2018). Demikian dikutip dari laporan CNNIndonesia.com, Senin (22/10/2018).

Karding lantas meminta agar mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta tersebut lebih banyak belajar lagi dan lengkapi akurasi pernyataannya daripada bicara tanpa data.

“Kan enggak bisa pemimpin bicara tanpa data itu, enggak bisa. Bahaya,” cetusnya.

Abdul Kadir Karding juga mempertanyakan mengenai suara rakyat yang kerap diwakili Sandiaga. Benarkah berasal dari suara rakyat atau hanya sekadar asumsi pribadi saja.

Baca juga: Sandiaga Sebut Tempe Setipis ATM, Ekonom: Oposisi Jangan Manfaatkan Pelemahan Rupiah

“Kalau dari suara rakyat, suara rakyat yang mana? Kan data harus dari lembaga yang kita setujui bersama. Kalau data dari asumsi pribadi tidak bisa, ini mau jadi pemimpin di Indonesia tentu harus percaya pada lembaga yang ada di Indonesia,” tukasnya.

Bahkan, Karding menuturkan ucapan Jokowi terkait stop politik kebohongan sedikit banyak memang menyindir Sandiaga dan kubu paslon nomor urut 02.

Sebelumnya, Presiden Jokowi dalam pidatonya di gelaran HUT Partai Golkar sempat meminta politikus agar menghentikan politik bohong yang bisa menjerumuskan publik.

“Ya saya kira iya [menyindir Sandiaga]. Menurut saya itu sindiran lah, supaya itu dikurangi, dihilangkan. Mari berdemokrasi secara baik, adu gagasan, adu rekam jejak, adu program, adu visi misi,” tandasnya.

Hal sama juga ditegaskan oleh Juru Bicara TKN, Ace Hasan. Politikus Partai Golkar ini mengatakan agar semua pihak tak mudah menarik kesimpulan dari sedikit kejadian.

“Yang jadi masalah itu kan melakukan generaslisasi suatu fakta yang sebenarnya hanya dilakukan satu-dua orang, tetapi kemudian ditarik menjadi kesimpulan umum, seakan-akan bahwa kondisi Indonesia ini ada di dalam sebuah ketidakpastian. Itu yang maksudnya politik kebohongan,” sebutnya.

Sebab, Ace melanjutkan, semestinya di Pilpres ini diisi dengan gagasan baru dan program yang bisa diterima masyarakat, alih-alih informasi bohong yang malah menyerang pihak lawan.

“Seharusnya Pilpres ini diisi dengan gagasan program, ide, bukan politik bohong yang dilakukan untuk menyerang lawan politik lain,” tegas Ace.

Dalam beberapa kesempatan, Sandiaga mengutarakan sejumlah pernyataan, terutama, terkait kondisi perekonomian yang dianggap sedang sulit. Sebagai contoh, seperti tempe yang dijual di kalangan masyarakat yang kini makin tipis setipis kartu ATM. Hal ini dikarenakan bahan baku kedelai yang mahal. Kubu Prabowo-Sandiaga sendiri menyebut data itu riil dan tidak mengada-ada lantaran berasal dari pengakuan publik.

[wpforms id=”105264″ title=”true” description=”true”]