Akibat BBM, Keuangan Pertamina Tergerus Rp 18,2 Triliun di Semester I


SURATKABAR.ID – Menurut penilaian lembaga pemeringkat Fitch Ratings, kebijakan pemerintah yang menunda kenaikan harga BBM premium hanya akan semakin menekan kondisi keuangan PT Pertamina (Persero). Pasalnya, keuangan Pertamina bisa-bisa merugi dan terus tergerus hingga Rp 18 Triliun di Semester I.

“Penundaan pemerintah menaikkan harga bahan bakar akan menekan laba Pertamina hingga 12 bulan ke depan, akibat makin meruginya perusahaan di sektor penjualan BBM,” ungkap Direktur Fitch Ratings Shahim Zubair, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (16/10/2018). Demikian dilansir dari reportase CNBCIndonesia.com, Sabtu (20/10/2018).

Lembaga Fitch Ratings menyoroti maju mundur kebijakan kenaikan harga BBM yang terjadi pada 10 Oktober 2018 lalu, di mana rencana menaikkan harga Premium tersebut dibatalkan begitu saja, dalam jangka waktu satu jam sejak diumumkan.

Hal Ini, kata Fitch Ratings, menggambarkan betapa sensitifnya isu BBM di Tanah Air. Dengan kejadian tersebut, lembaga Fitch Ratings meyakini kenaikan harga BBM yang diatur pemerintah (yakni BBM subsidi maupun Premium) akan sulit dilakukan hingga Pemilu berlangsung di April 2019 tahun depan.

Akibatnya, pihak Pertamina harus menanggung beban merugi. Namun sebagai kompensasi atas beban yang ditanggungnya tersebut, pemerintah memang telah menambah subsidi dari Rp 500 menjadi Rp 2000/liter untuk bensin solar.

Baca juga: Kabinet Kerja Kurang Koordinasi, Elektabilitas Jokowi Mandek 60%?

Akan tetapi, perlu diingat masih terdapat Premium yang tak disubsidi, namun selisih harga jualnya masih ditanggung Pertamina lantaran harganya dilarang naik.

“Kami memprediksi kompensasi yang ditanggung Pertamina untuk produk bensin yang diatur pemerintah bisa mencapai 69%-75% harga pasar,” ucapnya.

Ditambah lagi dengan harga minyak yang kian terdongkrak, keuangan Pertamina pun diprediksi akan tergerus lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu.

Jumlah Laba Merosot

Di 2017 lalu, laba perseroan tergerus hingga US$ 2 miliar.

“Di semester 1 tahun ini, diperkirakan perusahaan tergerus sebanyak US$ 1,2 miliar (setara Rp 18,2 triliun). Dan diperkirakan masih lebih tinggi hingga semester dua 2018 dengan harga rata-rata minyak dunia,” tukasnya kemudian.

Sebelumnya, soal tergerusnya laba perusahaan ini, Deputi Bidang Industri Strategis dan Media Kementerian Badan Usaha Milik Negara sebelumnya juga telah menyebut laba Pertamina di semester I-2018 dilibas cukup banyak.

Menurutnya, perusahaan hanya berhasil membukukan laba sekitar Rp 5 triliun. Jumlah ini merosot hingga 73% bila dibanding dengan capaian serupa tahun 2017 lalu.