Keluarga Jokowi Diduga Terlibat Kasus Suap Bakamla, Begini Kata KPK


SURATKABAR.ID – Dugaan keterlibatan keluarga Jokowi dalam kasus suap pengurusan anggaran proyek Bakamla belum bisa diusut oleh KPK. Pasalnya, saat ini Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah kehilangan jejak saksi kuncinya, yakni politikus Ali Fahmi alias Ali Habsyi. Ali Fahmi ini merupakan Politisi PDIP sekaligus staf Kepala Bakamla.

Dengan buronnya Ali Fahmi alias Ali Habsyi tersebut, keluarga Jokowi belum dapat diusut oleh lembaga antirasuah KPK yang telah berdiri sejak 2002 tersebut. Sebelumnya, nama keluarga Presiden terbawa-bawa saat sidang pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (17/10/2018).

Seperti dikutip dari laporan Viva.co.id, Jumat (19/10/2018), Febri Diansyah selaku Juru Bicara KPK menyebutkan, pihaknya telah berupaya mencari Ali Habsyi. Namun hasilnya masih nihil hingga saat ini.

“Sudah beberapa kali saksi Ali Fahmi kami panggil namun tak pernah datang, kami datangi ke rumahnya juga tidak ditemukan. Jadi memang belum ada petunjuk lain terkait dengan siapa, ada atau tidak ada orang yang dimaksud,” ungkap Febri saat dikonfirmasi tim pers di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (18/10/2018).

KPK menilai bahwa keterangan dari Ali Habsy ini sangat penting. Pasalnya, di muka persidangan, terdakwa mantan anggota Komisi I DPR, Fayakhun Andriadi, mengaku pernah dikenalkan kepada keluarga Presiden Jokowi oleh Ali Habsyi pada tahun 2016. Hal tersebut dilakukan guna mengurus anggaran proyek Bakamla.

Baca juga: Soal Rp 200 Juta Bagi Pelapor Rasuah, Aktivis Antikorupsi: Ini Bukan Republik Sayembara

Menurut perkataan Febri, Fayakhun pada tahap penyidikan pernah menyampaikan hal itu. Namun bedanya, waktu penyidikan, Fayakhun tak menyebut nama terang dan untuk kepentingan apa ia dikenalkan kepada keluarga Jokowi, ditukil Detik.com.

“Saya cek ke tim (Jaksa) yang menangani, sebenarnya itu sudah muncul sejak proses penyidikan ketika Fayakhun diperiksa pada saat itu. Namun yang bersangkutan tidak menyebut nama orang yang dikatakan memperkenalkan tersebut, karena dengan alasan lupa dan pihak lain yang disebutkan oleh Fayakhun pun itu masih dalam proses pencarian KPK,” tukas Febri.

Terungkap dalam Sidang

Sebelumnya, mengenai dugaan adanya keterlibatan keluarga Jokowi ini diungkapkan Fayakhun saat menjalani sidang pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (17/10/2018).

“Dia bilang, kita mendapatkan dukungan dari kekuasaan. Lalu dikenalkan tiga orang dari keluarga Solo. Yang satu sudah agak tua, dikenalkan sebagai omnya Pak Jokowi, kemudian yang kedua adiknya Pak Jokowi, yang satu lagi iparnya Pak Jokowi,” beber Fayakhun.

Berdasarkan penuturan Fayakhun, pada tahun 2016 Ali Habsyi mengajaknya bertemu di Hotel Grand Mahakam, Jakarta. Habsyi meminta kehadiran Fayakhun lantaran pertemuan itu dinilai cukup penting.

Dalam perjumpaan tersebut, Habsyi minta Fayakhun mendukung pengadaan barang di Bakamla. Selaku anggota DPR, Fayakhun pun diminta bantu anggaran pengadaan Bakamla.

Saat itu, imbuh Fayakhun, Habsyi mengklaim proyek pengadaan di Bakamla didukung oleh pihak penguasa atau pemerintah.

“Dia bilang, ‘Kamu jangan ragu-ragu, ini sudah jadi perhatian kita semua’,” tukas Fayakhun.

Dalam kasus ini, Fayakhun Andriadi didakwa menerima suap US$ 911.480 (sekitar Rp 13844013.98) dari Direktur Utama PT Merial Esa Fahmi Darmawansyah, berkenaan pengurusan anggaran proyek di Bakamla.