Waspada! Ini 10 Kecamatan di Bandung yang Terancam Likuifaksi Saat Gempa


    SURATKABAR.ID – Bencana gempa yang disertai tsunami dan likuifaksi tanah di Palu-Donggala lalu memakan korban jiwa kurang lebih 2000 orang. Namun perlu diketahui, likuifaksi yang menelan daerah Petobo, Palu, Sulawesi Tengah ­sekitar dua minggu lalu ini juga berpotensi terjadi di Kota Bandung. Sedikitnya, ada 10 ­kecamatan di Kota Bandung yang rawan terjadi likuifaksi ­apabila gempa bumi terjadi.

    Menukil laman Wikipedia, Sabtu (13/10/2018), pencairan tanah, atau likuifaksi tanah (soil liquefaction) merupakan fenomena yang terjadi saat tanah yang agak jenuh, atau jenuh, kehilangan kekakuan dan kekuatannya akibat tegangan. Tegangan tersebut bisa beragam, seperti getaran gempa bumi atau perubahan ketegangan lain yang terjadi secara mendadak. Sehingga tanah yang padat pun tak ayal berubah wujud menjadi cairan cair (liquid) atau air berat.

    Kepala Subbidang 1 PIPW, Andry Heru Santoso mengungkapkan bahwa Bandung, Jawa Barat, juga dianggap sebagai salah satu kota yang berpotensi terkena gempa dan likuifaksi. Informasi ini juga disampaikan bukan untuk membuat khawatir warga, melainkan sebagai upaya edukatif agar masyarakat Bandung siap menanggulangi ancaman gempa yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

    Dijelaskan Andry, ada 10 kecamatan di Kota Bandung yang berpotensi mengalami likuifaksi atau pencairan tanah. Fakta ini sendiri merupakan hasil dari riset ITB—berdasarkan data dari pusat mitigasi bencana Institut Teknologi Bandung (ITB).

    “Sebagian besar di Bandung Selatan, juga sedikit di Timur, yakni Bandung Kulon, Babakan Ciparay, Bojongloa Kaler, Bojongloa Kidul, Astana Anyar, Regol, Lengkong, Bandung Kidul, Antapani, dan Kiara Condong,” beber Andry, Kamis (11/10/2018), dilansir dari Jawapos.com.

    Baca juga: Gempa Tektonik Guncang Dieng, Inikah Benang Merahnya dengan Gempa Lombok, Palu dan Situbondo?

    Meski begitu, Andry melanjutkan, penelitian ini masih perlu diperbaharui agar bisa dipastikan kembali. Dalam hal ini, yang perlu lebih intensif dilakukan adalah upaya-upaya sosialisasi kepada masyarakat untuk mengedukasi tentang potensi bencana alam dan cara menyelamatkan diri.

    Karena sebenarnya fenomena itu terjadi salah satunya karena perkembangan Kota Bandung yang cukup pesat, serta pembangunan yang rata-rata vertikal (ke atas). Faktor lainnya adalah banyaknya kawasan padat penduduk.

    Guna meminimalisasi hal buruk saat terjadi gempa atau bencana alam, maka perlu dilakukan simulasi dan sosialisasi kepada masyarakat. Pemerintah daerah dan gedung-gedung seperti mal, perkantoran, hotel, dan lainnya juga harus memiliki jalur evakuasi.

    “Artinya jalur evakuasi atau ruang evakuasi itu mungkin perlu dan segera dilakukan upaya-upaya penyediaan. Apabila terjadi bencana itu bisa diminimalisasi,” tandasnya.

    Pengambilan Air Tanah yang Masif

    Tingginya pengambilan air bawah tanah dari pompaan, khususnya di permukiman atau kawasan perumahan, saat ini terhitung cukup tinggi. Hal ini terjadi karena memang PDAM sendiri tak mampu lagi menyediakan sambungan air baru. Artinya alternatif yang paling murah yang bisa dicapai warga ialah melalui pengambilan air bawah tanah.

    Sehingga, sambung Andry, hal ini menyebabkan air tanah kian menipis di kawasan tersebut. Padahal, untuk recharge atau pengisian ulang air dalam tanah itu butuh waktu yang cukup lama.

    “[Terjadinya penurunan tanah] Ini sudah beberapa terjadi di kawasan-kawasan yang memang banyak terjadi di kawasan industri tekstil, garmen, kompleks. Juga karena fenomena kawasan perumahan baru semakin mempercepat terjadinya penurunan permukaan tanah, bahkan tadi, likuifaksi,” papar Andry.

    Sementara itu, Tammy Lasmini selaku Kepala Bidang Perencanaan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah (PIPW) pada Bappelitbang Kota Bandung juga mengimbau kepada masyarakat untuk tidak panik.

    “Informasi ini bukan untuk panik, tapi kami melihat potensinya di situ, terjadinya belum tahu,” kata Tammy.

    Oleh sebab itu, diharapkan Pemkot Bandung akan dapat bersinergi dengan keamanan yakni pihak Polri dan TNI. Kepolisian dan TNI harus mengetahui serta ikut mengedukasi dan mengajak warga untuk bersama-sama menghadapi bencana alam.

    “Maka secara teknis kita perkuat. Jangan panik tapi kita harus siap hadapi bencana itu,” demikian Andry menjelaskan.

    Aplikasi Sitaruna Bandung

    Lebih lanjut, laporan TribunNews.com mengungkapkan, bagi warga yang ingin mengetahui wilayah bencana di Kota Bandung dan apa saja yang harus dilakukan jika terjadi bencana, kini Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan (Bappelitbang) Pemkot Bandung meluncurkan aplikasi Sitaruna Bandung (Sistem Informasi Tata Ruang Berbasis Mitigasi Bencana di Kota Bandung).

    “Aplikasi ini untuk pemetaan wilayah Kota Bandung mana saja yang rawan bencana, sehingga masyarakat tahu dan waspada serta bisa mengantisipasi,” imbuh Kasubid Perencanaan Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Bapelitbang Kota Bandung, Andry Heru Santoso di Balai Kota Bandung, Kamis (11/10/2018).

    Andry menerangkan, dengan aplikasi ini masyarakat yang ingin membangun atau memperpanjang izin bangunan, bisa mengetahui apa yang harus diantisipasi dan apa yang mengintai kawasan tersebut.

    “Aplikasi ini juga merupakan embrio, agar ke depan bisa memperketat perizinan di Kota Bandung,” tegasnya.

    Bandung Rawan Bencana, Tingkat Risiko Sedang-Tinggi

    Andry menjabarkan, seluruh kawasan di Kota Bandung merupakan daerah rawan bencana. Namun, tingkat kerawanan dan kerusakannya akan berbeda, tergantung dari kondisi wilayahnya masing-masing.

    “Untuk masyarakat yang ingin mengakses website ini, bisa membuka sitaruna.cityplan.id,” bebernya.

    Aplikasi tersebut memuat berbagai mitigasi bencana, mulai dari bencana apa saja yang terjadi di Bandung hingga jalur evakuasi. Warga Bandung dapat melihat aplikasi tersebut di laman sitaruna.cityplan.id.

    Andry juga menekankan agar waspadai 10 kecamatan Kota Bandung yang rawan berpotensi terkena gempa likuifaksi berdasarkan data dari pusat mitigasi bencana ITB.

    “Bencana ini adalah amblesnya bangunan yang berdiri di atas tanah berkontur pasir dan rawa sehingga ketika terjadi gempa, seluruh bangunan akan ambles ke bawah dan wilayahnya hilang,” tandas Andry.

    Menurutnya, dengan diinformasikannya ke-10 kecamatan ini bukan dimaksudkan untuk menakut-nakuti warga, tapi agar membuat warga waspada terhadap bencana.

    “Bencana tak ada yang tahu kapan terjadi namun semua pihak bisa meminimalisir korban bencana, baik korban jiwa ataupun materi. Menghadapi gempa harus segera memikirkan jalur evakuasi ruang evakuasi. Harus segera upaya penyedia itu, supaya apabila terjadi bencana bisa kita minimalisir,” tegasnya.

    Terakhir, terkait Sesar Lembang, Andry menuturkan, jika terjadi gempa bumi akibat sesar ini maka dampaknya bisa terimbas ke seluruh kota Bandung. Sedangkan dari tingkat risikonya, Andry mengategorikan risiko sedang sampai tinggi.

    Itulah sebabnya sangat penting untuk dilakukan edukasi, sosialisasi serta penelitian secara lebih intensif lagi kepada masyarakat setempat sebagai bentuk antisipasi.