Gempa Tektonik Guncang Dieng, Inikah Benang Merahnya dengan Gempa Lombok, Palu dan Situbondo?


SURATKABAR.ID – Belum usai perhatian masyarakat RI terfokus pada bencana gempa dan tsunami di Lombok, Palu dan Situbondo, gempa bumi tektonik baru saja mengguncang wilayah Dieng. Siang ini, Sabtu (13/10/2018), gempa tak hanya mengguncang wilayah Dieng, Jawa Tengah, tapi juga Sulawesi Utara. Berdasarkan hasil analisa Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa yang melanda Dieng memiliki kekuatan 2.4 Skala Richter (SR).

Setyoajie Prayoedhie selaku Kepala Stasiun Geofisika Banjarnegara menyampaikan, Episenter gempa terletak pada koordinat 7,35 LS dan 109,92 BT, yang tepatnya berlokasi di darat pada jarak 14 km arah Tenggara Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, pada kedalaman 9 kilometer. Demikian sebagaimana dilaporkan dalam laman OkeZone.com, Sabtu (13/10/2018).

Jika diperhatikan dari lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa yang terjadi ini merupakan jenis gempa dangkal yang diakibatkan oleh aktivitas sesar lokal.

“Gempa dirasakan oleh sebagian masyarakat di Kawasan Dieng, I SIG-BMKG (I-II MMI).

Hingga pukul 07.46 WIB, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock),” tukas Setyoajie dalam keterangan terulisnya kepada awak media, Sabtu (13/10/2018).

Baca juga: Gempa Bumi 5,6 SR Guncang Bitung, Manado dan Minahasa Utara

Setyoajie juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan jangan panik.

“Jangan terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” tandasnya.

Benang Merah Terjadinya Semua Gempa

Sebelumnya, gempa bumi juga menimpa Situbondo pada Kamis (11/10/2018) dini hari. Gempa ini mengakibatkan empat orang tewas sementara ratusan rumah lainnya hancur. Meskipun berpusat di Situbondo, Jawa Timur ternyata efek gempa berkekuatan 6 magnitudo ini juga dirasakan oleh masyarakat di Malang, Probolinggo, Surabaya bahkan hingga Kabupaten Jembrana di pulau Bali.

Menyusul kemudian gempa bumi siang tadi di Sulawesi Utara dan Dieng, Jawa Tengah. Adakah benang merahnya?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan, gempa yang terjadi pukul 01.44 WIB di Situbondo disebabkan oleh Sesar Naik Flores.

Sesar sendiri merupakan patahan yang terjadi pada lapisan batuan bumi yang ditimbulkan oleh adanya pergesekan dari lempengan bumi.

Seperti diketahui, Indonesia terletak di antara tiga lempengan bumi yakni Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Samudra Pasifik, demikian dilansir dari laporan Kumparan.com.

Kepala Bidang Informasi dini gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, berujar bahwa Indonesia terletak di daerah Ring of Fire, atau daerah dengan jumlah gunung api yang banyak sehingga berpotensi terjadinya gempa bumi. Berdasarkan data peta gempa yang telah direvisi, Indonesia mempunyai 295 sesar aktif dan segmen megathrust yang berjumlah 16.

Tak hanya di Situbondo, ternyata penyebab gempa Lombok pada Agustus kemarin juga merupakan akibat dari Sesar Naik Flores. Sesar itu bergerak dan menabrak bagian daratan lombok sehingga menimbulkan gempa. Berdasarkan catatan milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa berkekuatan 6,4 magnitudo itu tak hanya terjadi sekali namun juga disusul oleh ribuan kali gempa yang berskala minim.

Waspadai Pergerakan Sejumlah Sesar

Lalu, pada awal Oktober 2018 terjadilah gempa di Kota Palu-Donggala yang banyak menyita perhatian seluruh masyrakat Indonesia. Gempa yang kemudian disusul tsunami ini menyebabkan sekitar 2000 korban jiwa.

Bencana ini juga cukup menarik perhatian karena adanya fenomena likuifaksi yakni kondisi dimana tanah menjadi becek karena terkena air hingga kepadatannya hilang dan bergerak.

Sama seperti dua gempa sebelumnya, gempa berkekuatan 7,4 magnitudo ini juga disebabkan oleh sesar. Sesar ini dinamai sesar Palu-Koro karena jalurnya yang melintasi kota Palu dan sampai di sungai Koro.

Terjadinya beberapa gempa dahsyat di tahun 2018 ini dikarenakan adanya ratusan sesar aktif yang ada di Indonesia. Beberapa di antaranya seperti sesar Palu-Koro dan sesar naik Flores. Selain kedua sesar itu, masih ada juga sesar aktif lainnya yang berpotensi menyebabkan gempa dengan kekuatan yang besar.

Sesar itu pun terletak di kota-kota besar antara lain seperti Sesar Lembang yang dekat dengan Kota Bandung, Sesar RMKS yang dekat dengan Kota Surabaya, Sesar Semarang yang dekat dengan Kota Semarang dan Sesar Opak yang dekat dengan Kota Yogyakarta.