Tegas! Dituding Mengkhianati Rakyat, Tim Petahana: Pak Jokowi Bersih dari Masa Lalu yang Ternoda


SURATKABAR.ID – Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin, Muhammad Misbakhun buka suara menanggapi pernyataan Prabowo Subianto. Ia mengaku heran dengan kata-kata yang dilontarkan calon presiden nomor urut 02 tersebut.

Dan menanggapi pernyataan Prabowo yang menyebut para elite telah melakukan pengkhianatan terhadap rakyat Indonesia, Misbakhun, seperti dilansir dari laman Kompas.com, Kamis (11/10/2018), balik melontarkan pertanyaan pedas kepada capres yang didampingi calon wakil presiden Sandiaga Uno.

“Menjadi pertanyaan bagi Pak Prabowo, statement peringatan tersebut ditujukan kepada siapa dan dalam kepentingan apa?” kata Misbakhun melalui keterangan tertulisnya pada Kamis (11/10) kemarin.

Lebih lanjut, Misbakhun kemudian menyinggung pencopotan Prabowo dari Tentara Nasional Indonesia pada tahun 1998 silam. Ia mengingkatkan bahwa justru Prabowo-lah yang terbukti telah melakukan pengkhianatan hingga harus angkat kaki dari TNI.

“Di militer, Pak Prabowo pernah dipecat dari posisinya di TNI oleh Dewan Kehormatan Militer. Karena dianggap melakukan ‘pengkhianatan’ atas sumpah prajurit dan Sapta Marga. Karena dianggap terlibat dalam kasus pelanggaran HAM saat kasus penculikan aktivis pada masa akhir periode orde baru,” imbuhnya.

Baca Juga: Menohok! NasDem ke Prabowo: Sudah Tiru Donald Trump, Salah Pula

Selain itu, Misbakhun juga menyinggung-nyinggung sejarah orangtua Prabowo. menurutnya, Soemitro Djojohadikusumo tak bersih dari sejarah pengkhianatan. Sosok Soemitro pernah bergabung dengan tokoh yang terlibat di dalam pengkhianatan serta pemberontakan PRRI/Permesta.

“Untuk itu, sangat mengherankan kalau Pak Prabowo, sebagai capres mengingatkan adanya elite pemimpin nasional sebagai pengkhianat. Karena peringatan ini lebih tepat ditujukan kepada pribadi beliau sebagai bahan kontemplasi,” tutur Misbakhun.

Misbakhun meyakini, selama Presiden Joko Widodo berkuasa sejak tahun 2014, tak satu pun elite pimpinan nasional yang menjadi pengkhianat bagi rakyat.

Apabila ditelusuri sejarah dan juga latar belakang kehidupan politik serta pribadi Jokowi, disebutkan Misbakhun, sangatlah jauh dari intrik politik dan permainan dunia usaha yang kompleks.

Kinerja Jokowi dalam dunia politik melalui program pembangunan di segala sektor dan bidang senantiasa bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa dan rakyat Indonesia yang ada di seluruh pelosok Nusantara.

“Anak-anak beliau tidak bersentuhan dengan bisnis pemerintah. Mereka berwirausaha yang mandiri di sektor kuliner,” jelas politisi dari Partai Golkar tersebut.

Selain itu, sejarah politik Jokowi pun menurut Misbakhun tak panjang. Mengawali karir politik sebagai Wali Kota Solo pada awal 2000-an. Kemudian dilanjutkan memegang jabatan sebagai Gubernur DKI pada 2012. Lalu pada 2014 menjabat sebagai Presiden RI. Sama halnya dengan sejarah Jokowi dalam dunia bisnis mebel.

“Perjalanan karir beliau tidak punya masalah sejarah masa lalu terhadap dinamika dan pergolakan politik elit di Jakarta. Sejarah politik Pak Jokowi bersih dari masa lalu yang ternoda,” ucap Misbakhun.

Upaya Pengkhianatan versi Prabowo

Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto, sebelumnya menyebutkan saat ini tengah berlangsung upaya pengkhianatan oleh kalangan elite politik terhadap rakyatnya sendiri. Menurut Prabowo, para elite yang ada saat ini tak lagi memikirkan kepentingan masyarakat. Sehingga timbul kesenjangan sosial antara rakyat dan elite.

“Ada masalah besar di republik kita, pendapat saya, bahwa saya melihat ada satu pengkhianatan terjadi. Pengkhianatan ini dilakukan oleh elite bangsa kita sendiri terhadap rakyatnya,” ungkap Prabowo dalam pidato di acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) yang digelar di Pondok Pesantren Minhajurrosyidin Pondok Gede, Jakarta Timur, pada Kamis (11/10).

“Elite kita tidak berpikir kepentingan yang besar, rakyat, mereka berpikir kepentingan kelompoknya masing-masing, dirinya, keluarganya. Sehingga disconnect terjadi. Suatu jurang terjadi antara realita masyarakat dan kehidupan elite. Ini sudah berjalan puluhan tahun,” ujarnya kemudian.