PSI Sebut Pertamax Itu Dinikmati Orang Kaya Seperti Prabowo-Sandiaga


SURATKABAR.ID – Terkait kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) Pertamax jadi Rp 10.400 membuat Waketum Partai Gerindra  Fadli Zon melemparkan sindiran. Ia mengubah lirik lagu kanak-kanak ‘Naik-naik ke Puncak Gunung’. Tak tinggal diam, PSI balik menyindir Fadli.

Sekjen PSI Raja Juli Antoni mengungkapkan bahwa Fadli tak kreatif. Ia menyebutkan bahwa Fadli sebagai Wakil Ketua DPR RI tak pantas sesuka hati mengubah lirik lagu orang lain demi kepentingan politik. Dalam hal ini yakni untuk kepentingan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

“Itulah kualitas Wakil Ketua DPR dari Gerindra semacam plagiatlah, ya, mengubah bait-bait lagu yang sudah terkenal, menunggangi lagu yang sudah terkenal demi kepentingan politik Prabowo,” beber Toni saat dihubungi awak pers, Kamis (11/10/2018). Demikian dilansir dari reportase Detik.com, Jumat (12/10/2018).

“Nah, mungkin perlu saran saya sih Fadli bisa meng-hire pencipta lagu dari Rusia,” tukasnya.

Pengakuan Raja Juli Antoni ia juga heran dengan jalan pikir Fadli yang mengkritik harga Pertamax yang naik dan menyebut rakyat sengsara karena kenaikan itu. Sebab, pasalnya, menurutnya Pertamax memang untuk dikonsumsi kalangan menengah ke atas.

Baca juga: ‘Alumni 212 Kawal Ma’ruf Amin’ Perjuangkan Pemulangan Rizieq Shihab

“Pertamax itu dinikmati oleh kelas menengah ke atas, orang kaya, seperti Sandi dan Prabowo. Jadi nggak mungkin Sandi dan Prabowo memelas minta kepada negara (harga murah) ketika harga acuan minyak dunia juga naik,” ungkap Raja Juli Antoni yang merupakan Wakil Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Diketahui, kemarin PT Pertamina (Persero) menaikkan harga BBM Pertamax menjadi Rp 10.400. Waketum Partai Gerindra Fadli Zon lalu menyindir pemerintah atas kebijakan itu.

Sindiran tersebut disampaikan Fadli lewat akun Twitter @fadlizon dengan memuat lirik lagu ‘Naik-naik ke Puncak Gunung’. Namun sama seperti lagu ‘Potong Bebek Angsa’, lirik lagu ciptaan Ibu Sud tersebut diubah untuk mengkritik pemerintah Joko Widodo (Jokowi).

Polri Panggil Kader PSI

Sementara itu, Direktorat Siber Badan Reserse Kriminal Mabes Polri mulai mengusut penyebaran video Potong Bebek Angsa PKI yang diunggah oleh Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fadli Zon di akun Twitter-nya.

Hari ini, Bareskrim Polri mengagendakan pemeriksaan terhadap pelapor dalam kasus ini yakni, kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Rian Ernest.

“Saya hari ini diperiksa sebagai pelapor terkait video Potong Bebek Angsa PKI Fadli Zon,” sebut Ernest saat ditemui sebelum pemeriksaan di Bareskrim Polri, Tanah Abang Jakarta Pusat, Jumat (12/10/2018), dilansir reportase Tempo.co.

Ernest melanjutkan, dalam pemeriksaan ini ia diminta untuk membawa barang bukti yang dilampirkan saat membuat laporan ke Barekrim Polri berupa screen capture kicauan Fadli Zon serta rekaman video yang diunggah.

Ernest diketahui melaporkan Fadli Zon mengenai unggahan video ‘Potong Bebek Angsa PKI’ pada 25 September lalu. Ia berpendapat unggahan Fadli Zon itu berpotensi memunculkan kegaduhan, karena lirik dalam video terkait mengandung fitnah.

Selain itu, sambung Ernest, laporan tersebut dibuat untuk jadi pelajaran bagi pengguna media sosial, khususnya elite politik, agar tidak asal dalam membagikan unggahan.

“Kalau orang biasa bukan seperti saya ya sudahlah ya, tapi kalau elite politik pasti punya tujuan dan maksud,” tandasnya.

Ernest melanjutkan, kini kasus ini masih dalam tahap penyelidikan. Ia menyebut bahwa Penyidik Siber Bareskrim masih mencari ada atau tidak adanya unsur pidana dalam unggahan video Potong Bebek Angsa PKI Fadli Zon.

Ia pun berharap agar kepolisian profesional dalam kasus ini.

“Kalau ada unsur pidana dilanggar lanjut, kalau masalah ada atau tidak hak penyidik,” imbuh Ernest.

Ernest pun sudah bertemu dengan Fadli Zon terkait unggahan video tersebut. Menurutnya, saat itu Fadli Zon masih bersikukuh bahwa unggahan itu merupakan bentuk kreativitas yang dibagikan di Twitter pribadinya.

Sebelumnya, Fadli Zon mengunggah video ‘Potong Bebek Angsa PKI’ di Twitter. Dalam video itu, tiga pria dan enam wanita tampak berjoget diiringi lagu yang berisi sindiran politik. Lagu ‘Potong Bebek Angsa’ itu diubah liriknya menjadi sarat politik menjelang pilpres 2019. Lagu itu memuat lirik berisi sindiran kepada pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Fadli juga sempat mengklarifikasi unggahan video itu bukan buatannya. Klarifikasi itu ia sampaikan melalui akun Twitter pribadinya pada 23 September lalu.

“Video yang saya posting itu bukan saya yang membuat. Saya lihat itu kreativitas masyarakat. Lagipula ini negara demokrasi. Kreativitas tersebut masih ada di koridor demokrasi. Demokrasi kita mengajarkan suatu kebebasan selama tidak memfitnah orang lain,” demikian cuitan Fadli Zon.