FPI Balas Kehebohan Foto Hoaksnya dengan Aksi Nyata di Palu


SURATKABAR.ID – Mengenai kasus hoax yang dirilis Kementerian Komunikasi dan Informasi beberapa waktu lalu, Front Pembela Islam (FPI) menyatakan tutup buku. Diketahui, kasus hoaks tersebut sempat menghebohkan publik. Adapun FPI saat ini menganggap proses evakuasi korban gempa di Palu-Donggala lebih penting ketimbang mengurusi soal pemberitaan bohong terkait foto tersebut.

“Permudah saja lembaga apapun di sini yang bisa membantu. Hoaks itu urusan belakangan,” ujar Ketua DPP FPI bidang Kemanusiaan, Habib Ali Al Hamid kepada awak media, Senin (08/10/2018). Demikian sebagaimana dilansir dari laporan CNNIndonesia.com.

Menurut pernyataan Ali Al Hamid, saat ini FPI masih terus melakukan evakuasi terhadap korban gempa di Sulawesi Tengah. FPI juga menyalurkan bantuan logistik selain terlibat dalam proses evakuasi.

“Ada dua tim yang menangani di posko kami di sana. Kami gerak siang dan malam. Saat malam mereka kerjanya bawa terpal, bawa dokter, sembako berputar-putar,” tutur Ali Al Hamid.

Ia menyatakan, setidaknya FPI  berhasil menyalurkan 30 ton barang dari Makassar ke Palu. Barang-barang lain dari Kalimantan dan Banten pun diperkirakan tiba di Palu hari ini, Senin (08/10/2018).

Baca juga: Prihatin, Ratu Inggris Sumbang Uang Pribadi Rp 59,7 M Untuk Korban Gempa Sulteng

Di antara barang tersebut, FPI mengirim terpal dan ton seberat 1 ton. Selimut dan terpal disalurkan karena di lapangan masih banyak korban gempa yang tidur di jalan.

“Selimut kami khususkan untuk anak-anak kecil yang belum dapat. Lansia juga seperti itu,” sebut Al Hamid.

Foto Hoax 2015 di Sukabumi

Sebelumnya, FPI sempat mendapat sorotan luas setelah Kominfo menyatakan sebuah foto relawan FPI yang berhubungan gempa bumi di Palu adalah hoax alias berita bohong.

Kominfo merujuk pada foto yang memperlihatkan sejumlah anggota FPI sedang membantu proses evakuasi dengan dibubuhi caption atau judul “Gerak cepat relawan FPI evakuasi korban gempa Palu 7.7”.

Foto tersebut beredar di media sosial tak lama setelah Palu dan Donggala diguncang gempa serta tsunami. Ferdinandus Setu selaku Plt. Kepala Biro Humas Kemkominfo RI mengungkapkan foto itu hoaks karena menampilkan gambar relawan FPI di daerah lain, tepatnya di desa Tegal Panjang, Sukabumi, 2015 silam.

“Faktanya dalam gambar ini adalah relawan FPI membantu korban longsor di desa Tegal Panjang, ujar Ferdinandus dalam siaran pers.

FPI sendiri tak pernah secara resmi mengklaim foto tersebut sebagai foto aksi relawannya di Palu. Namun pernyataan Kominfo itu kadung mendapat respons publik. Alhasil tak sedikit netizen yang mencemooh FPI. Ada juga yang mengkritik Kominfo.

FPI: Kominfo Keliru Sebarkan Info

Menanggapi polemik tersebut, FPI menyebut Kominfo menyebarkan informasi keliru. FPI bergerak lebih jauh dengan mengklaim telah mengirim relawan ke Palu untuk membantu korban tsunami dan gempa di sana.

Ketua FPI Ahmad Shabri Lubis mengungkapkan, FPI mengirim Tim Relawan Kemanusiaan yang dipimpin langsung oleh Ustaz Sugianto Kaimuddin sebagai Ketua DPD FPI Sulawesi Tengah.

Disebutkan bahwa Sugianto membawa rombongan Relawan Gerak Cepat dari Poso dan langsung berangkat usai gempa dan tsunami terjadi pada Jumat lalu (28/09/2018).

“Langsung seketika setelah mendengar peristiwa gempa di Palu, Sigi, dan Donggala,” tukas Shabri saat dihubungi pers.

Perkataan Shabri memang terbukti di lapangan. Di Palu, menurut awak pers dari CNNIndonesia.com Sugianto dan anggota FPI lainnya berhasil ditemui di Posko Bantuan FPI di kawasan Jalan Diponegoro.

Pada hari itu, Kamis (04/10/2018), para anggota FPI di posko tersebut baru saja membantu proses evakuasi di Kelurahan Petobo, salah satu daerah terdampak fenomena likuifaksi akibat gempa.

Disebutkan Sugianto, timnya tiba di Palu sehari setelah gempa dan tsunami atau pada Sabtu (29/09/2018).

“Sejak kami dapat informasi ada korban, kami langsung menelusuri lokasi. Hari Sabtu saya langsung turun ke lapangan dan melihat betul-betul terjadi tsunami di pinggir pantai (jarak) kurang lebih sepuluh meter yang meluluhlantakan rumah,” ujar Sugianto saat ditemui di Posko Bantuan FPI di Jalan Diponegoro, Palu, Kamis (04/10/2018).

Sejak pertama tiba hingga Kamis itu, Sugianto menyebutkan ia dan rekan-rekannya telah mengangkat 20 jenazah.

“Hari pertama kami dapat jenazah tujuh, lalu pada sore harinya tambah dua (jenazah). Kemudian, keesokan harinya kami terus melakukan itu,” imbuh Sugianto.

Di samping ikut evakuasi korban meninggal, FPI juga turut menyalurkan bantuan berupa sembilan bahan pokok (sembako) ke warga Palu yang membutuhkan.

Lebih lanjut, sebenarnya, Kominfo sudah menjernihkan pernyataannya mengenai hoaks FPI. Dalam siaran pers tertanggal 3 Oktober, Ferdinandus kembali menekankan bahwa hoaks yang dimaksud pihaknya merujuk pada foto, bukan pada aksi FPI. Namun FPI di Palu tetap kecewa terhadap Kominfo.

Sugianto tak habis pikir dengan pernyataan Kominfo itu. Ia juga mempertanyakan kerugian yang ada jika FPI turut membantu korban gempa di Palu.

“Saya tanya ke beliau, beliau itu sebenarnya kedatangan kami ini, apa yang merugikan? Apakah kami minta bantuan dari mereka (Kominfo) kemudian kami salurkan? Enggak. Atau kami datang ke tempat mereka kemudian menyampaikan ini yang harus kami lakukan? Tidak,” tandas Sugianto.

Sementara itu Ali Al Hamid menduga polemik organisasinya dengan Kominfo disebabkan oleh pihak Kominfo, dalam hal ini penulis berita tentang foto hoax yang tak cermat.

“Kasihan yang salah nulis. Seharusnya ketika dia menerangkan FPI ada tapi bukan yang di Palu. Itu harusnya memang diperjelas. Sekarang sudah waktunya kita bantu. Hoaks enggak usah dibahas lagi. Bahkan kalau pemerintah butuh bantuan kita, kita enggak ada masalah untuk membantu,” Ali Al Hamid menyampaikan.