Kisah Pilu Relawan Kesehatan di Palu, Harus Rela Bertahan dengan Seteguk Infus


SURATKABAR.ID – Pengakuan salah seorang relawan kesehatan di lokasi bencana gempa dan tsunami Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), Riyadh Farid sukses bikin sesak. Riyadh buka-bukaan mengungkapkan seluruh suka duka yang dialaminya dan rekan-rekannya.

Dokter spesialis anastesi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) tersebut, seperti yang dilansir dari laman CNNIndonesia.com pada Sabtu (6/10/2018), mengaku bahwa dirinya dan para relawan kesehatan lainnya terpaksa harus bertahan dengan meminum satu atau dua teguk cairan infus.

“Kami sampai coba bertahan dengan minum seteguk, dua teguk cairan infus. Kami tidak mungkin minta ke warga yang juga kesusahan,” tutur Riyadh ditemui di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Sulteng di Palu, pada Jumat (5/10) kemarin.

Ia datang bersama rekan-rekannya satu hari pascagempa berkekuatan 7,4 SR mengguncang Palu dan kota lainnya di Sulteng, Jumat pekan lalu. Riyadh mengungkapkan tak ingin menjadi beban warga dengan meminta jatah air minum.

Tak hanya kesulitan air minum. Kini warga harus bertahan hidup di tengah kondisi yang serba kesusahan. Mulai dari bahan makanan, hingga pasokan listrik. Pasalnya, sebanyak lima gardu induk utama rusak karena gempa dan tsunami.

Baca Juga: Sempat Tertimbun Reruntuhan Bangunan dan Berhasil Selamat dari Gempa Palu, Gadis Ini Beri Kesaksian Mengejutkan

Ditambah lagi dengan semakin menipisnya ketersediaan bahan bakar. Warga Palu semakin kesulitan untuk berpindah tempat, untuk sekedar mencari sanak keluarga yang hilang atau mendapatkan barang-barang yang bisa digunakan untuk bertahan hidup.

Kondisi serupa juga dirasakan Riyadh. Ia mengaku mengalami kesulitan ketika hendak menuju lokasi bencana yang berada di daerah terpencil di Sulteng. Minimnya pasokan bahan bakar semakin membuat mobilisasi relawan terbatas.

Selain duka, Riyadh juga mengungkapkan pengalaman mengharukan selama bertugas di Palu. Ia sempat tak kuasa menahan air matanya lantaran warga korban gempa dan tsunami masih memiliki hati untuk menawarinya makan bersama.

Meski hanya memasak menu seadanya, mereka tak malu menawarkan para relawan makan bersama. “Waktu itu pengungsi masak seadanya. (Terus bilang) ‘Pak Dokter, ayo makan bareng kita supaya kuat’. Itu benar-benar bahagia,” tutur Riyadh.

Total Relawan yang Diterjunkan ke Sulawesi Tengah

Ditemui terpisah, Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan Achmad Yiruanto mengungkapkan ada sebanyak 855 relawan kesehatan yang diterjunkan ke Sulteng. Para relawan tersebut terdiri dari 81 dokter spesialis, 430 perawat, 102 dokter umum, dan 242 tenaga medis lainnya.

Jumlah tersebut, menurut Achmad, masih belum ditambah dengan relawan yang ada di Kapal Republik Indonesia (KRI) Soeharso dan juga Kapal Rumah Sakit Ksatria Airlangga. “Ini kekuatan besar kami dalam melakukan (pelayanan kesehatan) outreach,” jelasnya.

Ia mengakui, upaya penjangkauan ke pelosok yang dilakukan pihaknya tersebut sempat mengalami sejumlah kendala. Namun masalah kelangkaan BBM sudah mendapat solusi. “(Sudah ada) solusi dan komitmen dari Pertamina beri previlage untuk mobil kesehatan bisa masuk. Ini bisa jadi kita satu penyelesaian,” pungkasnya.