Netizen Ramai Kaitkan Sandiwara Ratna Sarumpaet dengan Janji Kampanye Jokowi, Dedi Mulyadi: Itu Beda Jauh


SURATKABAR.ID – Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin untuk wilayah Jawa Barat, Dedi Mulyadi, buka suara menanggapi kebohongan penuh sandiwara Ratna Sarumpaet dengan janji kanpanye Jokowi yang sedang ramai diperbincangkan netizen.

Dedi, seperti yang dilansir dari laman Kompas.com pada Sabtu (6/10/2018), menyampaikan bahwa kedua hal tersebut sama sekali berbeda. Ia menilai, masing-masing yang disebutkan netizen tidak dapat dibandingkan secara apple to apple.

Menurutnya, janji Jokowi yang belum tercapai tak dapat digolongkan sebagai sebuah kebohongan. Dengan demikian, hal tersebut tidak bisa dibandingkan dengan pengakuan Ratna Sarumpaet yang penuh kebohongan. Dedi menilai, Jokowi tak berbohong, hanya belum dapat memenuhi target kampanyenya.

“Itu beda jauh. Ratna Sarumpaet itu jelas kategorinya adalah bohong. Tetapi, Pak Jokowi belum mencapai target apa yang dulu dikampanyekannya. Jangan disamakan,” ujar Dedi dengan tegas ketika ditemui pada Sabtu (6/10).

Ia menambahkan, ada begitu banyak pencapaian yang sudah diraih Jokowi. Seperti misalnya, pembangunan infrastruktur yang manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Kemudian ada pemerataan listrik, sertifikasi tanah, serta lainnya.

Baca Juga: Tak Disangka! Jual Saham untuk Beli Surat Utang, Terungkap Tujuan Sandiaga Sebenarnya

Lebih lanjut, Dedi menyampaikan, salah satu keberhasilan yang ditunjukkan Jokowi adalah pengendalian stabilitas harga. Menurutnya, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) yang mencapai Rp 15.000 tidak diikuti dengan meningkatnya harga-harga kebutuhan pokok. Selain itu daya beli masyarakat juga tetap bagus.

“Memang, target penurunan nilai dollar AS belum tercapai. Tetapi, faktornya bukan di Pak Jokowi. Itu karena masalah global. Itu tidak disebut bohong, hanya belum ada capaian,” tambah Ketua DPD Golkar Jawa Barat tersebut.

Kemudian Dedi menyinggung masalah kampanye yang dilakukan mantan Gubernurn Jawa Barat Ahmad Heryawan. Dalam kampanyenya, disebut Dedi, Ahmad Heryawan menjanjikan pendidikan gratis SMA, Citarum yang harum dan bersih, serta target 1 juta tenaga kerja.

“Pada akhir jabatan 10 tahun itu tercapai atau tidak? Tidak, kan? Apa Pak Aher itu berbohong? Tidak. Hanya Pak Aher tidak tercapai apa yang dijanjikan,” tandas Dedi yang menilai tidak ada satu pemimpin pun yang berbohong tentang janji kampanyenya.

Menurut Dedi, apabila seorang pemimpin tak sanggup mencapai target disebut berbohong, maka bisa dikatakan hampir semua pemimpin disebut sebagai pembohong. Termasuk di dalamnya anggota DPR, bupati, hingga gubernur yang sering mengumbar janju dalam kampanye, namun belum berhasil mewujudkannya.

“Karena memang target tak tercapai itu bukanlah sebuah kebohongan. Jadi harus bisa dibedakan antara kebohongan dengan target tak tercapai,” ungkap mantan Bupati Purwakarta dua periode tersebut dengan tegas.

Bahkan, ungkap Dedi, pemimpin sekelas Soeharto yang menduduki kursi kepresidenan selama 32 tahun juga pernah menjanjikan ekonomi tinggal landas di tahun 1998. “Namun, ekonomi malah terpuruk. Dan ekonomi kita malah tinggal landasa. Apakah Pak Harto disebut pembohong? Tidak. Itu karena targetnya belum tercapai,” pungkasnya.