Hanya Pakai Handuk Saat Selamatkan Diri, Korban Gempa Palu Tak Mau Disebut Menjarah


    SURATKABAR.ID – Sejumlah pemberitaan di media massa menyebutkan bahwa korban Gempa Palu, Sulawesi Tengah, menjarah minimarket hingga mall. Bahkan, media internasional turut menyoroti hal tersebut.

    Namun, warga yang memilih menetap meminta agar publik tak menyebut mereka sebagai penjarah. Menurut para korban, mereka hanya mencoba bertahan hidup.

    Salah satunya adalah Darmen, warga Kampung Nelayan, Sulawesi Tengah. Pria yang selamat dari gempa dan tsunami ini mengaku belum makan nasi hingga tiga hari setelah bencana.

    Tak hanya itu, Darmen juga tak memiliki pakaian ganti. “Beruntung, puteri saya satu-satunya selamat meski kami tidak lagi memiliki rumah dan harta benda,” katanya, seperti dilansir dari antaranews.com, Senin (1/10/2018).

    Baca juga: Kritik Peran Menteri Puan Tangani Gempa Sulteng, Andi Arief: Jangan Asal Pasang Menteri

    Istrinya pun selamat dari bencana dahsyat tersebut karena berada di rumah keluarga di wilayah pantai Timur. Sementara itu, setelah gempa terjadi hingga saat ini, Darmen mengaku belum mandi ataupun ganti pakaian.

    Sedangkan makanan yang dikonsumsinya hanyalah roti dan minuman yang diambil bersama para korban lain di salah satu supermarket.

    “Kami tidak menjarah, tapi hanya berupaya bertahan hidup sebab sangat membutuhkan makanan dan air minum,” tegasnya.

    Darmen juga ikut mengantre bensin di SPBU agar bisa segera keluar dari Kota Palu.

    Senasib dengan Darmen, Misna yang bermukim di Kelurahan Tondo juga menjadi korban gempa dan tsunami Palu. Bahkan, saat menyelamatkan diri ia hanya mengenakan selembar handuk.

    “Saya hanya memikirkan keselamatan ibu mertua yang berusia 70 tahun, makanya tidak sempat mengenakan pakaian agar secepatnya menyelamatkan beliau,” tegasnya.

    Ia menuturkan, air laut sangat cepat menghantam rumahnya. Untungnya, mereka lari satu langkah lebih cepat dibanding sapuan tsunami.

    Kini, wanita 55 tahun tersebut menumpang di rumah orang di kawasan perumahan BTN Polda, Mamboro.

    Misna mengaku dirinya diberi pakaian dalam dan pakaian seadanya oleh warga. Ia baru mendapat bantuan pakaian dari warga lain yang sempat mencari pakaian di kawasan pertokoan yang telah porak poranda.

    “Tapi mereka tidak menjarah, hanya membantu kami yang sudah tidak memiliki apa-apa,” ujarnya.

    Misna berharap, bantuan juga diberikan di kawasan pemukiman. Pasalnya, banyak pengungsi yang bermukim di halaman rumah warga. mereka membangun tenda darurat seadanya, karena takut tidur di dalam rumah saat gempa susulan terjadi.