560 Napi Kabur, Kalapas Palu: Petugas Panik dan Coba Selamatkan Diri


SURATKABAR.ID – Kepala Lembaga Pemasyarakatan Palu, Adhi Yan Ricoh mengatakan sebagian besar narapidana penghuni lapas Kelas IIA Palu kabur pascagempa yang mengguncang Palu, Sulawesi Tengah pada Jumat (28/9/18).

Dilansir dari cnnindonesia.com, Adhi mengatakan sekitar 560 narapidana melarikan diri setelah lampu padam dan tembok-tembok roboh akibat diguncang gempa. Kondisi ini ditambah dengan jumlah petugas yang sedikit karena sibuk menyelamatkan diri saat gempa dan tsunami terjadi.

“Jangankan mencari napi yang lari, para petugas juga panik dan berusaha menyelamatkan diri sendiri (saat gempa terjadi),” ujar Adhi seperti mengutip Antara, dilansir dari cnnindonesia.com.

Terkait upaya pencarian napi yang melarikan diri, ia mengatakan pihaknya belum berpikir ke arah itu lantaran semua pihak, termasuk kepolisian masih sibuk mengurus para korban gempa bumi.

Baca Juga: Dahsyat! Setara 200 Kali Bom Hiroshima, BPPT Ingatkan Warga Tentang Gempa Susulan

“Jangankan mencari napi yang lari, kondisi yang kami alami ini saja belum sempat dilaporkan ke pusat, karena tidak ada listrik dan tidak ada jaringan telekomunikasi,” ujarnya.

Adhi menyebut bangunan lapas mengalami kerusakan parah akibat diguncang gempa dengan magnitudo 7,4 skala Richter.

Selain kerusakan fisik, gempa yang mengguncang Donggala dan Palu pada Jumat lalu juga menyisakan trauma dan luka fisik pada warga.

Berdasarkan data yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) hingga Minggu (30/9/18) jumlah korban jiwa mencapai 832 orang, 540 luka-luka, dan 17 ribu warga mengungsi.

Menko Polhukam Wiranto, seperti dikutip dari laman situs Sekretariat Kabinet, menekankan agar segera melakukan pemakaman terhadap korban meninggal secara layak setelah diketahui identitasnya melalui DVI, face recognition, dan sidik jari.

Sementara itu Kepala BNPB Sutopo mengungkapkan korban akan terus bertambah. “Diperkirakan akan terus bertambah, melihat kondisi yang ada di sana masih banyak jenazah yang belum teridentifikasi. Korban yang terkena reruntuhan juga masih banyak. Itulah yang menyebabkan jumlah korban akan terus bertambah,” ujar Sutopo.

Sementara di kota Palu sendiri pencarian dilakukan di enam titik yakni Hotel Roa-Roa, Mall Ramayana, Restoran Dunia Baru, Pantai Talise, Perumahan Balaroa, dan puing-puing bangunan hancur. Tim Basarnas dan tim SAR gabungan memperkirakan ada 50 hingga 60 orang tertimbun di hotel Roa-Roa.

Menurutnya, pencarian korban hingga kini masih terkendala pedaman listrik dan keterbatasan alat berat.

“Ada banyak kendala, listrik padam hingga alat berat masih terbatas sehingga kita kerahkan meski jumlahnya tidak mencukupi,” imbuh Sutopo.