Mensos Agus Gumiwang Gendong Balita Korban Gempa Palu, Netizen Terharu


SURATKABAR.ID – Viralnya foto yang memperlihatkan Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita menggendong seorang balita korban gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, menuai berbagai reaksi dari netizen. Viral di jejaring media sosial Twitter, foto tersebut pertama diunggah oleh akun Twitter Cheryl Tanzil yang dikenal sebagai seorang presenter dan mantan penyiar TV, Sabtu (29/09/2018) kemarin.

“Adik kecil yg digendong Mensos ini terlepas dr orang tuanya saat tsunami di Palu. Ia ditemukan warga di saluran air & diobati, lalu diserahkan ke Polda Palu saat Panglima TNI meninjau langsung korban gempa Palu siang ini (29/09/2018). Jika ada yg kenal mohon hubungi Polda Palu,” tulis Cheryl Tanzil.

Mengutip laporan TribunNews.com, Minggu (30/09/2018), unggahan Cheryl Tanzil itu viral dan mendapat ribuan reaksi netizen kurang dari sehari. Hingga berita ini dimuat, postingan tersebut sudah 1.850 di-retweet (dibagikan ulang) dan mendapat likes 580 kali. Belum lagi dengan ratusan komentar warganet yang merespon foto tersebut.

“Suka & terenyuh sama foto ini: pemerintah hadir di sana sebagai orang tua yang berperan menjaga & menyayangi anak-anaknya. Sedih membayangkan banyak keluarga yang terpisah, semoga Tuhan menolong kami semua,” tulis akun @igun_18.

“Ya Allah….semoga segera dipertemukan dg orang tuamu, nak….,” tulis akun @Dwiwahyunanti.

Baca juga: Jawab Sindiran Gerindra, Istana: Jokowi ke Donggala Sebagai Presiden

“Jadilah kuat anakku, jadilah kuat #PrayForDonggala,” tulis @NDLAP666.

Sebagian besar netizen mengungkapkan keharuan dan doa agar sang anak bisa dipertemukan orangtuanya.

Penjelasan Kemensos

Mengenai foto yang beredar tersebut, Kementerian Sosial mengirim penjelasan tertulis, Minggu (30/09/2018) pagi. Dalam siaran pers, Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Sosial RI menjelaskan foto itu benar terjadi saat Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita menggendong balita berjenis kelamin laki-laki di Mapolda Sulteng.

Balita itu ditemukan di dalam parit dalam kondisi luka-luka pada kaki dan wajah.

“Kedua orang tuanya belum ditemukan,” kata Agus Gumiwang Kartasasmita saat mendekap balita di dadanya.

Anak kecil itu tampak memejamkan mata sambil mengalungkan tangannya di leher dan pundak sang Menteri.

Agus Gumiwang menyebutkan anak-anak adalah satu dari empat kelompok rentan yang harus mendapatkan perlindungan sesaat setelah terjadinya bencana. Tiga lainnya adalah perempuan hamil, penyandang disabilitas, dan lansia.

Sebelumnya, Menteri Agus bertolak menuju Palu pada Sabtu pagi (29/09/2018) dari Bandara Halim Perdana Kusumah Jakarta bersama Menko Polhukam, Menkominfo, Menhub dan Panglima TNI menggunakan Pesawat Boeing milik TNI AU A-7308.

Turut mendampingi Menteri Sosial di antaranya Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat. Tiba di Palu, rombongan menuju ke Mapolda Sulawesi Tengah dan menggelar rapat koordinasi awal dengan Kapolda Sulawesi Tengah beserta jajaran. Dilanjutkan dengan rapat koordinasi bersama Gubernur Sulawesi Tengah, Menteri Dalam Negeri dan BNPBD Sulawesi Tengah yang digelar di tenda.

Mensos lantas kembali ke bandara dan melakukan observasi lokasi bencana via helikopter bersama rombongan.

Hari Minggu (30/09/2018), Mensos kembali ke Palu untuk terus memantau perkembangan penanganan bencana, dengan didampingi oleh Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat.

Dirjen Harry Hikmat merinci saat ini Kementerian Sosial telah mengerahkan personel Tagana dari Sulawesi Tengah sebanyak 779 orang. Dibantu mobilisasi Tagana dari luar Provinsi Sulawesi Tengah yakni Gorontalo, Sulawesi Selatan. Jumlah sementara Tagana dari luar Sulteng sebanyak 139 orang dan akan terus bertambah di antaranya Jawa Timur dan DKI Jakarta.

“Rekan-rekan Tagana dan Pendamping di daerah sekitar yg tidak terkena bencana sudah digerakkan untuk bantu evakuasi termasuk tenaga Pendamping PKH,” tegas Harry.

Fokus Makanan dan Shelter

Diungkapkan oleh Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita, Kementerian Sosial memobilisasi Dapur Umum Lapangan (Dumlap) untuk Kabupaten Donggala dan Palu, serta menyiapkan tempat perlindungan sementara (shelter) untuk korban gempa dan tsunami di wilayah tersebut.

“Kami memberangkatkan enam Dapur Umum Lapangan dari daerah sekitar gempa yakni Gorontalo, Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan. Selanjutnya akan ditambah lagi menyesuaikan kebutuhan di lapangan. Saat ini kami sedang siapkan penambahan dapur umum tersebut,” tutur Mensos di Palu, hari ini.

Ia menyebutkan satu unit dapur umum lapangan dapat memasak 2.000 nasi bungkus untuk satu kali memasak. Sehari memasak hingga tiga kali. Hal ini artinya dalam satu hari satu dapur umum menghasilkan 6 ribu nasi bungkus.

“Jika ada 6 dumlap, harapannya bisa melayani hingga 36 ribu nasi bungkus per hari,” tukasnya.

Ia menjelaskan, pada Minggu pagi, Tim Kementerian Sosial bersama Tagana Gorontalo telah tiba di Palu. Tugas tim dari pusat ini yakni untuk melakukan pemetaan titik dapur umum dan pendirian shelter, berkoordinasi dengan Dinas Sosial setempat, BNPB dan berbagai lembaga pegiat kemanusiaan yang tergabung dalam Klaster Nasional Pengungsian dan Perlindungan.

Kemensos, lanjutnya, juga menyiapkan 3.000 sembako yang dibeli di Makassar. Selanjutnya akan didistribukan ke Palu dan Donggala oleh Tagana.

“Tim juga sudah membangun tenda serbaguna untuk rumah sakit darurat, membagikan velbed untuk pasien yang bergeletakan di halaman rumah sakit, menyiapkan dapur umum lapangan di depan rumah jabatan Gubernur, menetapkan Pusdalop Sosial di Kantor Dinas Sosial Provinsi,” papar Menteri.

“InshaAllah hari ini disiapkan tenda serba guna untuk posko induk sosial,” imbuhnya.

Ia melanjutkan, seluruh upaya ini merupakan tugas dan kewajiban Kementerian Sosial dalam masa tanggap darurat bencana. Yakni mencakup aktivasi Sistem Penanggulangan Bencana Bidang Perlindungan Sosial, Pengerahan SDM Tagana dan relawan sosial, aktivasi Kampung Siaga Bencana (KSB) dan SDM yang ada dalam lingkup Kemensos seperti Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Sakti Peksos, dan Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH).

“Serta pemberian bantuan pemenuhan kebutuhan dasar dan pelayanan sosial lainnya, advokasi dan layanan dukungan psikososial,” ujar Menteri.